Kamis, 07 Juli 2011

Makalah Perkembangan MBahasa Dan Perkembangan Sosial Dalam Perkembangan Peserta Didik


Perkembangan Bahasa Dan Perkembangan Sosial
Dalam Perkembangan Peserta Didik


unhalu warna
 

 





Diajukan sebagai tugas mata kuliah perkembangan peserta didik  yang akan diajukan sebagai makalah  pada Program Studi Pendidikan Matematika
Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam



O L E H

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
K E N D A R I
2 0 10
KATA PENGANTAR







BISSENT
 




Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala Rahmat dan Hidayah yang diberikan kepada penulis sehingga penyusunan makalah dengan judul “Perkembangan Bahasa Dan Perkembangan Sosial Dalam Perkembangan Peserta Didik”  dapat diselesaikan.
Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas dalam mata kuliah Perkembangan Peserta Didik.
Penulis sepenuhnya menyadari bahwa  dalam penyusunan makalah ini masih terdapat begitu banyak kekurangan-kekurangan yang perlu di perbaiki kembali, namun itulah segala kekurang kelompok selaku manusia biasa yang baru belajar untuk dapat berlepas diri dari kebodohan, olehnya itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan penulisan makalah ini.






Kendari,       Agustus 2010


Penulis



DAFTAR ISI

                                                                                                                                                                   Halaman
HALAMAN JUDUL ...............................................................................................
KATA PENGANTAR ............................................................................................
DAFTAR ISI ........................................................................................................
I
ii
iii
BAB I     PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang ...................................................................................

B.      Batasan Masalah.................................................................................

C.      Rumusan Masalah ..............................................................................

D.      Tujuan Penelitian ...............................................................................


1
2
3
3
BAB II PEMBAHASAN
A.     Perkembangan Bahasa……………………………………………….
B.     Perkembangan Sosial………………………………………………..
C.     Hubungan Antara Perkembangan Bahasa Dengan Perkembangan Sosial…………………………………………………………………
BAB III PENUTUP
1.       Kesimpulan……………………………………………………
2.       Saran……………………………………………………………
DAFTAR PUSTAKA

4
10

15

17
17










BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Masa bayi atau balita (di bawah lima tahun) adalah masa yang paling signifikan dalam kehidupan manusia. Dan jika diibaratkan seperti pondasi dalam sebuah bangunan, jika pondasinya kokoh maka bangunannya pun akan kuat dan tahan lama,dan sebaliknya jika pondasinya rapuh maka bangunannya akan mudah roboh atau rusak.
            Pada masa balita ini, manusia pertama kali belajar atau diperkenalkan dengan suasana yang sama sekali “baru”, dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya di dalam kandungan. Selama 3 hari pertama, orok yang normal masih lebih banyak tidur. Sekitar 80% waktunya dipergunakan untuk tidur, Setelah 2 minggu bayi mulai mampu melakukan berbagai kegiatan tanpa bantuan orang lain, mulai dari berbalik, duduk, merangkak dan lain sebagainya, menjelang usia 7-8 bulan, perasaan atau emosi bayi mulai muncul, walaupun rasio atau pikirannya belum berfungsi sama sekali, Pada usia 12-14 bulan, bayi mulai mengenal lingkungannya, baik lingkungan fisik ataupun social, Secara bertahap, bayi mulai memahami hubungan antar “kata” dengan apa atau siapa saja yang ada di sekitarnya. Dan untuk itu, bayi mulai memerlukan alat ekspresi yang disebut “bahasa”.
            Kita sadari atau tidak setiap manusia mengawali komunikasinya dengan dunia sekitarnya melalui bahasa tangis. Melalui bahasa tersebut seorang bayi mengkomunikasikan segala kebutuhan dan keinginannya. Sejalan dengan perkembangan kemampuan serta kematangan jasmani terutama yang bertalian dengan proses bicara, komunikasi tersebut semakin meningkat dan meluas dengan perkembangan bahasa yang sangatlah bertahap.
Perkembangan bahasa ini terkait erat dengan perkembangan kognitif seorang bayi, yang berarti faktor intelek/kognisi sangat berpengaruh terhadap per­kembangan kemampuan berbahasa. Bayi, tingkat intelektualnya belum berkembang dan masih sangat sederhana. Semakin bayi itu tumbuh dan berkembang serta mulai mampu memahami lingkungan, maka bahasa mulai berkembang dari tingkat yang sangat sederhana rnenuju ke bahasa yang kompleks. Perkembangan bahasa dipengar.uhi oleh lingkungan, karena bahasa pada dasarnya merupakan hasil belajar dari lingkungan. Anak (bayi) belajar bahasa seperti halnya belajar hal yang lain,"meniru" dan "mengulang" hasil yang telah didapatkan merupakan cara belajar bahasa awal. Bayi belajar menambah kata-kata dengan meniru bunyi-bunyi yang didengarkannya. Manusia dewasa (ibu dan anggota keluarga lain) di sekelilingnya membetulkan dan memperjelas apa yang di maksudkan oleh bayi tersebut.
Berdasarkan latar belakang di atas maka pada makalah ini penulis sengaja mengangkat tema yang berkaitan dengan perkembangan bahasa  dan perkembangan social pada manusia khusunya pada anak-anak yaitu “Perkembangan Bahasa dan perkembangan social dalam perkembangan peserta didik”.
B.      Batasan Masalah
Karena ruang lingkup perkembangan bahasa dan perkembangan social dalam kaitannya dengan perkembangan peserta didik sangatlah luas maka penulis membatasi permasalahan Pada makalah ini pada perkembangan peserta didik sampai pada tingkat sekolah dasar.
C.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimanakah hubungan Perkembangan bahasa dengan perkembangan peserta didik?
2.      Bagaimanakah hubungan Perkembangan sisial dengan perkembangan peserta didik?
3.       bagaimanakah keterkaitan antara perkembangan bahasa dan perkembangan social dalam perkembangan peserta didik?
D.      Tujuan
Tujuan dalam makalah ini adalah
1.      Untuk mengetahui hubungan Perkembangan bahasa dengan perkembangan peserta didik.
2.      Untuk mengetahui hubungan Perkembangan sisial dengan perkembangan peserta didik.
3.       Untuk mengetahui keterkaitan antara perkembangan bahasa dan perkembangan social dalam perkembangan peserta didik.
                            






BAB II
PEMBAHASAN

A.      Perkembangan Bahasa
Psikologi perkembangan merupakan cabang psikologi yang mempelajari perubahan tingkah laku dan kemampuan sepanjang proses perkembangan individu dari mulai masa konsepsi sampai mati.
Seseorang yang mempelajari psikologi perkembangan berarti sedang mempelajari proses perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia. Ada dua hal yang penting dalam perubahan psikologi perkembangan, yaitu pertumbuhan (growth) dan perkembangan (development).
            Sedangkan bahasa Sesuai dengan fungsinya, merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh seseorang dalam pergaulannya atau hubungannya dengan orang lain. Bahasa merupakan alat bergaul
Jadi Berdasarkan pengertian diatas, penulis merangkaikan pengertian perkembangan bahasa secara umum sebagai suatu proses perubahan komunikasi menuju suatu kesempurnaan
Perkembangan bahasa dimulai dari tangisan pertama sampai anak mampu bertutur kata. Perkembangan bahasa terbagi atas dua periode yaitu: periode Preliguistik (0-1 tahun) dan Lingustik (1-5 tahun). Periode linguistic terbagi dalam tiga fase besar, yaitu:
a.       Frase satu kata (Holofrase)
Pada frase ini anak mempergunakan satu kata untuk menyatakan pikiran yang kompleks, baik berupa keinginan, perasaan atau temuannya tanpa perbedaan yang jelas. Pada umumnya kata pertama yang diucapkan oleh anak adalah kata benda, setelah beberapa waktu barulah kata kerja.
b.      Fase lebih dari satu kata
Pada fase ini anak sudah dapat membuat kalimat sederhana yang terdiri dari dua kata. Kalimat tersebut kadang-kadang pokok kalimat  dan predikat, kadang pokok kalimat dengan objek dengan tata bahasa yang tidak benar. Setelah dua kata , munculah kalimat dengan tiga kata, diikuti empat kata dan seterusnya. Anak kemudian mulaio mengadakan komunikasi dengan orang lain secara lancar dan sederhana.
c.       Fase ketiga adalah fase diferensiasi
Periode terakhir dari masa balita yang berlangsung antara usia dua setengah sampai lima tahun. Keterampilan anak dalam berbicara mulai lancar dan berkembang pesat. Anak akan mampu mempergunakan kata ganti orang ”saya” untuk menyebut dirinya, mampu mempergunakan kata dalam bentuk jamak, awalan, akhiran dan berkomunikasi lebih lancar lagi dengan lingkungannya.

1.      Bahasa tubuh
Bahasa tubuh merupakan cara seseorang yang digunakan untuk berkomunikasi dengan menggunakan bagian-bagian dari tubuh , yaitu melalui gerak isyarat, ekspresi wajah dan  sikap tubuh.
2.       Bicara
Bicara merupakan  salah satu alat komunikasi yang paling efektif. Bagi anak bicara tidak sekedar merupakan prestasi akan tetapi juga berfungsi untuk mencapai tujuannya, misalnya:
a.       Sebagai pemuas kebutuhan dan keinginan
Dengan berbicara anak mudah untuk menjelaskan kebutuhan dan keinginannya tanpa harus menunggu oang lain menunngu tangisan, gerak tubuh atau ekspresi wajahnya.
b.      Sebagai alat untuk menarik perhatian orang lain
Dengan melalui keterampilan berbicara anak berpendapat bahwa perhatian orang lain terhadapnya mudah diperolah melalui berbagai pertanyaan yang diajukan kepada orang tua misalnya, apabila anak dilarang mengucapakan katat-kata yang  tidak pantas.
c.       Sebagai alat untuk membina hubungan sosial
Dengan keterampilan berkomunikasi anak-anak lebih mudah diterima oleh kelompok sebaya.
d.      Sebagai alat untuk mengevaluasi diri
Anak akan mendapat kesan bagaimana lingkungan menilai dirinya. Dengan kata lainanak dapat mengevaluasi diri melalui orang lain.
e.       Untuk dapat mempengaruhi pikiran dan perasaan orang lain
Anak akan suka berkomentar, menyakiti atau mengucapkan sesuatu yang tidak menyenangkan tentang orang lain  dapat menyebabkan anak tidak populer atau tidak disenagi lingkungannya, begitu pula sebaliknya.
f.       Untuk mempengaruhi perilaku orang lain
Dengan kemampuan berbicara dengan baik dan penuh rasa percaya diri anak dapat mempengaruhi orang lain atau teman sebaya yang berperilaku kurang baik menjadi teman yang bersopan santun.


  1. Potensi anak berbicara didukung oleh beberapa hal
                       i.            Kematangan alat berbicara
Kemampuan berbicara juga tergantung kematangan alat-alat berbicara, misalnya tenggorokan, langit-langit, lebar rongga mulut  dan lain-lain yang dapat mempengaruhi kematangan berbicara.
                     ii.            Kesiapan berbicara
Kesiapan mental anak  sanagat tergantung pada petrtumbuhan dan kkematangan otak. Kesiapan dimaksud biasanya dimulai sejak anak berusia 12-18 bulan. Pada saat inilah anak betul-betul siap untuk belajar bicara yang sesungguhnya.
                   iii.            Adanya model yang baik untuk dicontohi oleh anak
Anak dapat membutuhkan suatu model tertentu agar dapaty melafalkan kata dengan tepat untuk dapat dikombinas kesempatan berlatihikan dengan kata lain sehinmgga menjadi suatu kalimat yang berarti. Model tersebut dapat diperoleh dari orang lain, misalnya orang tua atau saudara, dari radio yang sering didengarkan atau TV.
                iv.            Kesempatan berlatih
Apabila anak  kurang dengan mendapat latihan keterampilan berbicara akan timbul frustasi dan bahkan sering sekali marah yang tidak dimengerti penyebabnya oleh orang tua atau lingkungannya.
                     v.            Motivasi untuk belajar dan berlatih
Memberikan motivasi dan melatih anak untuk berbicara sangat penting bagi anak karena untuk memenuhi kebutuhannya  untuk memanfaatkan potensi anak.
                      vi.            Bimbingan
Hendaknya orang tua memberikan contoh atau model bagi anak, berbicara dengan mudah dan pelan yang dapat diikuti oleh anak dan orang tua siap memberikan kritikan atau membetulkan apa yang dibicarakan oleh anak.
  1. Gangguan dalam perkembangan berbicara
Berbicara merupakan suatu proses yang sangat sulit dan rumit. Terdapat beberapa kendala yang srering kali dialami oleh anak , antara lain:
1.      Anak cengeng
Anak yang seringkali mengangis yang berlebihan dapat menyebabkan gangguan fisik maupun psikis anak. Reaksi sosial terhadap tangisan anak biasanya bernada negatif. Oleh karena itu peranan orang tua sangat penting untuk menanggulangi hal tersebut, salah satu cara untuk mengajarkan komunikasi yang efektif bagi anak.
2.      Anak sulit memahami isi pembicaraan orang lain
Seringkali anak tidak dapat memahami isi pembicaraan orang tua atau anggota keluarga lain. Hal ini dusebabkan oleh kurangnya perbendaharaan kata pada anak. Orang tua hendaknya mencari penyebab kesulitan anak dalam memahami pembicaraan tersebut agar dapat  memahami pembicaraan tersebut.

e.  Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa
Secara rinci dapat diidentifikasi sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa, yaitu:
1.       Kognisi (Proses Memperoleh Pengetahuan)
Tinggi rendahnya kemampuan kognisi individu akan mempengaruhi cepat lambatnya perkembangan bahasa individu. Ini relevan dengan pembahasan sebelumnya bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara pikiran dengan bahasa seseorang
2.       Pola Komunikasi Dalam KeluargaDalam suatu keluarga yang pola komunikasinya banyak arah akan mempercepat perkembangan bahasa keluarganya
3.       Jumlah Anak Atau Jumlah Keluarga
Suatu keluarga yang memiliki banyak anggota keluarga, perkembangan bahasa anak lebih cepat, karena terjadi komunikasi yang bervariasi dibandingkan dengan yang hanya memiliki anak tunggal dan tidak ada anggota lain selain keluarga inti.
4.      Posisi Urutan Kelahiran
Perkembangan bahasa anak yang posisi kelahirannya di tengah akan lebih cepat ketimbang anak sulung atau anak bungsu. Hal ini disebabkan anak sulung memiliki arah komunikasi ke bawah saja dan anak bungsu hanya memiliki arah komunikasi ke atas saja.
5.       Kedwibahasaan(Pemakaian dua bahasa)
Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang menggunakan bahasa lebih dari satu atau lebih bagus dan lebih cepat perkembangan bahasanya ketimbang yang hanya menggunakan satu bahasa saja karena anak terbiasa menggunakan bahasa secara bervariasi. Misalnya, di dalam rumah dia menggunakan bahasa sunda dan di luar rumah dia menggunakan bahasa Indonesia. Dalam bukunya “Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja” Syamsu Yusuf mengatakan bahwa perkembangan bahasa dipengaruhi oleh 5 faktor, yaitu: faktor kesehatan, intelegensi, statsus sosial ekonomi, jenis kelamin, dan hubungan keluarga. Karakteristik perkembangan bahasa remaja sesungguhnya didukung oleh perkembangan kognitif yang menurut Jean Piaget telah mencapai tahap operasional formal. Sejalan dengan perkembangan kognitifnya, remaja mulai mampu mengaplikasikan prinsip-prinsip berpikir formal atau berpikir ilmiah secara baik pada setiap situasi dan telah mengalami peningkatan kemampuan dalam menyusun pola hubungan secara komperhensif, membandingkan secara kritis antara fakta dan asumsi dengan mengurangi penggunaan symbol-simbol dan terminologi konkret dalam mengomunikasikannya.
B.     Perkembangan Sosial
Terdapat kaitan yang erat antara keterampilan bergaul dengan masa bahagia pada waktu kanak-kanak. Kemampuan anak untuk menyelesaikan diri dengan lingkungan, penerimaan lingkungan serta berbagai pengalaman yang bersifat positif selama anak melakukan berbagai aktifitas sosial merupakan modal dasar yang yang sangat penting bagi anak untuk mencapai kehidupan yang sukses dan menyenangkan pada waktu yang akan datang atau meningkat dewasa. Segala sesuatu yang di peroleh anak semasa kecil mereka yang memetik hasilnya pada waktu dewasa kelak.
Bertalian dengan perkembangan sosial anak, maka dapat dirangkaikan  pengertian bahwa perkembangan sosial adalah proses pengembangan keterampilan bergaul bagi anak dengan kehidupan sosial.
Oleh karena itu peranan orang tua sangatlah penting selain memberi anak kepercayaan dan kesempatan, orang tua juga diharapkan dapat memberi penguatan memberi pemberian ganjaran atau hadiah pada saat anak berperilaku positif. Sebaliknya orang tua juga berkewajiban memberi hukuman kepada anak apabila anak bertingkah laku negatif atau melakukan berbagai kesalahan. Dengan adanya tindakan yang kongkret dan pasti dari orang tua tersebut  anak akan dapat berkembang dengan baik , yang pada gilirannya akan menjadi makhluk sosial yang bertanggung jawab dan sehat bermanfaat bagi masyarakat bangsa dan negara.
Adapun ganjaran dan hukuman yang diberikan oleh orang tua terhadap anaknya dapat di uraikan sebagai berikut:
1.      Ganjaran atau hadiah
Ganjaran atau hadiah adalah berbagai bentuk apresiasi atau penghargaan terhadap suatu prestasi yang telah dicapai oleh suatu tu sekelompok anak dalam aktivitas tertentu. Pada umumnya hadiah atau ganjaran di berikan setelah anak mencapai prestasi atau menghasilkan sesuatu yang dapat di banggakan baik oleh teman,guru orang tua da dirinya sendiri. Jadi, ganjaran atau hadiah dimaksud tidak di berikan sebelum suatu aktifitas atau pekerjaan selesai dilaksanakan oleh anak. Sekalipun ganjaran dapat mendorong tau memotovasi  kepada anak untuk lebih berprestasi, namun sampai dewasa ini masih terdapat banyak orang tua atau guru yang branggapan bahwa hadiah seperti ini tidak penting, dengan alasan bahwa sewajarnya anak berusaha sesuai dengan kemampuannya. Dengan kata lain, tanpa adanya ganjaran atau hadiah tersebut anak akan melaksanakan tugas atau pekerjaan seperti yang dilakukan oleh anak-anak lain.
Fungsi hadiah
Terdapat tiga fungsi hadiah yang amat penting dalam pendidikan yaitu:
a.       memiliki nilai pendidikan
Di samping merupakan suatu benda nyata, hadiah mempunyai makna, anak akan segera mengetahui apabila dia menerima hadiah dari orang tua atau guru, ia dapat menginterpretasikan bahwa dia telah dapat berbuat baik yang dapat menyenangkan orang tua atau gurunya. Perbuatan tersebut dapat berupa prestasi belajar, perilaku yang terpuji dan lain sebagainya.
b.      memberikan motivasi pada anak
fungsi kedua hadiah adalah dapat memberikan motivasi pada anak untuk mau mengulangi perillaku yang dapat di terima dan dapat di tingkatkan serta dapat mencapai prestasi lebih tinggi lagi. Dengan demikian anak-anak akan lebih bereaksi positif  terhadap pengakuan dari penghargaan lingkungannya,terutama dari guru, teman sekelas, teman bermain dan orang tua. Penghargaan yang dimaksud bukan hanya berupa materi atau benda non-material, misalnya pujian, pemberian tanggung jawab dan keprcayaan untuk melakukan kepentingan umum dan sebagainya.
c.       memperkuat perilaku
fungsi ketiga dari hadiah yaitu dapat memperkuan perilaku anak yang dapat diterima di lingkungannya. Ini berarti menumbuhkan keyakinan dan kepercayaan diri dan pemahaman bahwa sesuatu yang dapat dilakukan tersebut betul dan di akui kebenarannya oleh lingkungan setempat. Dengan demikian anak akan termotivasi untuk melakukan perbuatan yang sama dan berusaha meningkatkannya. Dengan kata lain dengan pemberian hadiah dapat menimbulkan berbagai sikap dan perilaku serta motivasi positif yang sangat penting bagipertumbuhan anak. Sbaliknya bagi anak yang tidak pernah mendapatkan hadiah sering kali nampak kurang percaya diri, sering bingung dan kurang bergairah.

2.      Hukuman
Hukuman merupakan sanksi fisik maupun psikis terhadap suatu kesalahan atau pelanggaran yang dilakukan oleh anak dengan sengaja. 
Ada beberapa fungsi hukuman yaitu sebagai berikut :
a.       Fungsi restriktif
Dengan diberikan suatu hukuman terhadap anak, berarti bahwa pengulangan perilaku yang tidak diharapkan dalam masyarakat tidak akan terjadi lagi. Sebab apabila seorang anak pernah membuat kesalahan dan menerima hukuman maka dihapapkan bahwaa apada kesempatan lain dia tidak akan berrbuat serupa.
b.       Fungsi pendidikan
Dalam kaitannya dengan pendidikan tindakan orang tua yang paling utama adalah memberikan penjelasan kepada anak tentang pemahaman adanya peraturan yang berkaitan dengan perbuatan salah atau benar. Apabila anak berbuat salah orang tua harus segera menegur dan menjelaskan mengapa perbuatan tersebut salah, selanjutnya di beritahukan bagaimana seharusnya tindakan semacam itu benar. Tindakan semacam ini selalu di lakukan oleh orang tua terhadap perilaku yang mungkin dpat berupa kesalahan atau kebenran yang sering kali kurang dipahami oleh anak.
c.       Fungsi sebagai penguat motivasi
Motivasi memegang peranan penting anak lebih-lebih anak yang menginjak usia remaja. Oleh karena itu hukuman yang diberikan kepada anak dapat berfungsi memperkuat motivasi terutama bertalian dengan perilaku yang bersifat negatif yang tidak diharapkan oleh orang tua maupun oleh gurunya. Sebaiknya pemberian hukuman disamping dimarahi juga sekaligus diberikan pengarahan atau nasehat yang dapat merupakan ”hadiah” moril dan motivasi bagi untuk dapat berperilaku yang diharapkan.
3.   Syarat-syarat hukuman
Beberapa syarat-syarat yang harus diperhatikan oleh orang tua atau guru apabila hendak menjatuhkan hukuman kepada anak yaitu:
a.       sebaiknya hukuman segera diberikan kepada anak yang membuat kesalahan dan patut mendapat hukuman.
b.      hukuman diberikan secara konsisten
c.       huikuman yang diberikan harus bersifat konstruktif
d.      hukuman yang diberikan bersifat imperasional
e.       dalam memberikan hukuman harus disertai alasan
f.       hukuman juga dapat dipergunakan sebagai alat mengembangkan hati nurani anak, sehingga suatu saat anak dapat mengembangkan kontrol dalam dirinya sendiri.
g.      hukuman diberikan pada tempat dan waktu yang tepat, sehingga anak tidak merasa malu terhadap teman atau kelompoknya.
C.      Hubungan Antara Perkembangan Bahasa dan Perkembangan Sosial
Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh seseorang dalam pergaulannya atau hubungannya dengan orang lain. Bahasa merupakan alat bergaul. Oleh karena itu, penggunaan bahasa menjadi efektif sejak seorang individu memerlukan berkomunikasi dengan orang lain.
Dan Perkembangan bahasa ini terkait dengan perkembangan kognitif, yang berarti faktor intelek/kognisi sangat berpengaruh terhadap per­kembangan kemampuan berbahasa. Bayi, tingkat intelektualnya belum berkembang dan masih sangat sederhana. Semakin bayi itu tumbuh dan berkembang serta mulai mampu memahami lingkungan, maka bahasa mulai berkembang dari tingkat yang sangat sederhana rnenuju ke bahasa yang kompleks. Perkembangan bahasa seorang bayi (anak) sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan dimana bayi itu berada, karena bahasa pada dasarnya merupakan hasil belajar dari lingkungan. Lingkungan yang di maksudkan di sini adalah semua hal di luar kondisi bayi itu sendiri, yaitu ibu, ayah, saudara, tetangga dan masyarakat.
Dalam kaitannya antara perkembangan bahasa dengan perkembangan social maka semakin bagus perkembangan bahasa anak maka akan semakin baik pula perkembangan kehidupan sosialnya. Seorang anak yang memiliki tingkat kebahasaan yang tinggi akan semakin mudah dalam berinteraksi dengan kehidupan sosialnya. Begitu pula sebaliknya, seorang anak yang baik dalam berinteraksi dengan orang lain dalam hal ini kehidupan sosialnya biasanya di sebabkan karena penguasaan bahasanya juga baik. Namun ada yang perlu di garis bawahi bahwa penguasaan  bahasa di sini bukan hanya  pe­nguasaan alat berkomunikasi secara lisan, tetapi juga penguasaan alat komunikasi secara tertulis, maupun menggunakan tanda-tanda dan isyarat. Dan menguasai alat komunikasi di sini diartikan sebagai upaya seseorang untuk dapat memahami dan dipahami orang lain.






BAB III
PENUTUP
1.       Kesimpulan
Berdasarkan uraian –uraian di atas dapat di simpulkan bahwa:
a.       Hubungan Perkembangan bahasa dengan perkembangan peserta didik adalah perkembangan bahasa  merupakan suatu proses perubahan  alat komunikasi yang digunakan oleh seseorang peserta didik dalam pergaulannya.
b.      Hubungan Perkembangan sosial dengan perkembangan peserta didik  adalah perkembangan sosial merupakan  proses pengembangan keterampilan bergaul seseorang peserta didik dengan kehidupan sosialnya.
c.       Keterkaitan antara perkembangan bahasa dan perkembangan social dalam perkembangan peserta didik adalah semakin tinggi tingkat penguasaan bahasa seorang peserta didik maka akan semakin mudah dan terampil pula dalam berinteraksi dengan kehidupan sosialnya.
2.       Saran
Setelah mengetahui bagaimana keterkaitan antara perkembangan bahasa dengan perkembangan sosial terhadap perkembangan peserta didik maka melalui makalah ini penulis sarankan bagi para pendidik terkhusus bagi para orang tua yang saat ini memiliki anak yang masih balita untuk memberikan keteladanan dalam upaya mendidik anak-anak anda, karena pada seorang anak pada masa balita sampai masa kanak-kanak belum memiliki filter penyaring yang dapat membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik, tetapi seorang anak pada masa ini langsung menyerap begitu saja apa yang ia lihat, apa yang ia dengar dan apa yang ia rasakan. Olehnya itu bagi para pendidik agar memberikan apa yang di butuhkan anak dan bukan apa yang ia mau dan inginkan. Serta berikanlah pengawasan terhadap keadaan sosialnya, jika lingkungannya baik maka besar kemungkinan anak itu akan menjadi baik begitu pula sebaliknya. Dan juga ajarkanlah bahasa-bahasa yang mendidik dan membangun kepribadiannya agar kemudian ia menjadi seorang anak yang tampil percaya diri, tutur kata yang bagus serta berakhlaq mulia.

















DAFTAR PUSTAKA

Enik Ekawati, Enik., 2010. Makalah pertumbuhan dan perkembangan peserta didik. Universitas sebelas maret. Surakarta dalam http://enikekawati.student.fkip.uns.ac.id/category/perkembangan-peserta-didik/

Yusuf, Syamsu, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung; PT. Rosda Karya, cet-5, 2004 dalam http://edichugiel.blogspot.com/2010/01/makalah-perkembangan-bahasa-anak.html
http://pesertadidik.netfirms.com/pokok_13.html#

PERKEMBANGAN DAN PERTUMBUHAN SECARA EMOSIONAL

 
MAKALAH :

PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
(PERKEMBANGAN DAN PERTUMBUHAN SECARA EMOSIONAL)



OLEH
ANGGOTA KELOMPOK VII:


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2010


KATA PENGANTAR

     Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkah dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Perkembangan Emosional Peserta  Didik walaupun dalam bentuk yang sederhana ini.
     Dalam penyusunan makalah ini tidak sedikit hambatan dan rintangan yang dihadapi, namun dengan bantuan dari berbagai pihak hambatan tersebut dapat diatasi. Oleh karena itu melalui kesempatan ini  penulis mengucapkan terima kasih
     Penulis sadari makalah ini masih jauh dari sempurna. Saran dan kritik dibutuhkan demi  kesempurnaan tulisan ini. Wallahu a’lam.

Kendari,       September 2010

                                                            Penulis







BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Dalam dunia pendidikan dan pengajaran, yang menjadi fokus perhatian adalah peserta didiknya, baik itu di Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Pendidikan Menengah, ataupun  Perguruan Tinggi dan pendidikan untuk orang dewasa lainnya.
Dalam kaitannya dengan pendidikan peserta didik, guru perlu mengetahui  benar sifat-sifat serta karakteristik peserta didiknya agar dapat memberikan pembinaan dengan baik dan tepat sehingga dapat meningkatkan potensi kecerdasan dan kemampuan anak didiknya sesuai dengan kebutuhan anak dan harapan orangtua pada umunya. Untuk mencapai tujuan tersebut, pimpinan sekolah dan guru harus mengenal betul perkembangan fisik dan mental serta emosional anak didiknya. 
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah “Bagaimana tahap-tahap perkembangan emosional pada manusia sebagai peserta didik?”
1.3. Tujuan dan Manfaat
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui tahap-tahap perkembangan emosional manusia sebagai peserta didik.
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.             Sebagai referensi bagi orangtua dalam memantau perkembangan emosional anaknya.
2.             Sebagai referensi bagi guru dalam membrikan pengajaran dan pendidikan kepada peserta didiknya.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            


BAB II
PEMBAHASAN

 2.1.     Pengertian
Pada umumnya perbuatan kita sehari-hari disertai oleh perasaan-perasaan tertentu, yaitu perasaan senang atau perasaan tidak senang. Perasaan senang atau tidak senang yang selalu menyertai / perbuatan-perbuatan kita sehari-hari itu. disebut warna efektif. Warna efektif ini kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah atau samar-samar saja.                                             
            Perbedaan antara perasaan dan emosi tidak dapat dinyatakan dengan tegas, karena keduanya merupakan suatu kelangsungan kualitatif yang tidak jelas batasnya. Pada suatu saat tertentu, suatu warna efektif dapat dikatakan sebagai perasaan, tetapi juga dapat dikatakan sebagai emosi. Jadi, sukar sekali kita mendefinisikan emosi. Oleh karena itu, yang dimaksudkan dengan emosi di sini bukan terbatas pada emosi atau perasaan saja, tetapi meliputi setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai dengan warna efektif, baik pada tingkat yang lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang (mendalam). 
Pertumbuhan dan perkembangan emosi, seperti juga pada tingkah laku lainnya, ditentukan oleh proses pematangan dan proses belajar. Seorang bayi yang baru lahir sudah dapat menangis, tetapi ia harus mencapai tingkat kematangan tertentu sebelum ia dapat tertawa. Kalau anak itu sudah lebih besar, maka ia akan belajar bahwa menangis dan tertawa dapat digunakan untuk maksud-maksud tertentu pada situasi-situasi tertentu.
Pada bayi yang baru lahir, satu-satunya emosi yang nyata adalah kegelisahan yang nampak sebagai ketidaksenangan dalam hal yang baru,sehingga bayi menangis dan meronta.
Pengaruh kebudayaan besar sekali terhadap perkembangan emosi, karena dalam tiap-tiap kebudayaan diajarkan cara menyatakan emosi yang konvensional dan khas dalam kebudayaan yang bersangkutan, sehingga ekspresi emosi tersebut dapat dimengerti oleh orang-orang lain dalam kebudayaan yang sama. Klineberg pada tahun 1938 menyelidiki literatur-literatur Cina dan mendapatkan berbagai bentuk ekspresi emosi yang berbeda dengan cara-cara yang ada di dunia Barat. Ekspresi-ekspresi itu antara lain :
1.      Menjulurkan lidah kalau keheranan,
2.      bertepuk tangan kalau kuatir,
3.      Menggaruk kuping dan pipi kalau bahagia.
Yang juga dipelajari dalam perkembangan emosi adalah obyek – obyek dan situasi-situasi yang menjadi sumber emosi. Seorang anak yang tidak pernah ditakut-takuti di tempat gelap, tidak akan takut kepada tempat gelap.
Warna efektif pada seseorang mempengaruhi pula pandangan orang tersebut terhadap obyek atau situasi di sekelilingnya. Ia dapat suka atau tidak menyukai sesuatu, misalnya ia suka kopi, tetapi tidak suka teh. Ini disebut preferensi dan merupakan bentuk yang paling ringan daripada pengaruh emosi terhadap pandangan seseorang mengenai situasi atau obyek di lingkungannya. Dalam bentuknya yang Iebih lanjut, preferensi dapat menjadi sikap, yaitu kecenderungan untuk bereaksi secara tertentu terhadap hal-hal tertentu.
2.2.  Teori-Teori Emosi
Menurut Hurlock, masa bayi mempunyai emosi yang berupa kegairahan umum, sebelum bayi bicara ia sudah mengembangkan emosi heran,malu, gembira, marah dan takut. Perkembangan emosi sangat dipengaruhi oleh faktor kematangan dan belajar. Pengalaman emosional sangat tergantung dari seberapa jauh individu dapat mengerti rangsangan yang diterimanya.


2.2.1. Pola-Pola Emosi yang Lazim pada Bayi
a.  Kemarahan
Perangsang yang lazim membangkitkan kemarahan bayi adalah campur tangan terhadap gerakan – gerakan mencoba – cobanya, menghalangi keinginannya, tidak mengizinkannya mengerti sendiri, dan tidak memperkenankannya melakukan apa yang dia inginkan. Lazimnya, tanggapan marah mengambil bentuk menjerit, meronta – ronta, menendangkan kaki, mengibaskan tangan, memukul atau menendag apa saja yang ada didekatnya. Pada tahun kedua bayi dapat juga melonjak – lonjak, berguling – guling dan menahan nafas.
b. Ketakutan
Perangsang yang paling mungkin membangkitkan ketakutan bayi adalah suara keras : Orang, barang, dan situasi asing, ruangan gelap, tempat tinggi, dan binatang. Perangsang yang terjadi tiba – tiba atau tidak terduga, yang tidak lazim bagi bayi biasanya membangkitkan rasa takut juga. Tanggapan rasa takut yang bisa terjadi pada masa bayi terdiri dari upaya menjauhkan diri dari perangsang yang menakutkan dengan cara merengek, menangis dan menahan nafas.
c. Rasa Ingin Tahu
Setiap mainan atau barang baru dan tidak biasa adalah dapat merangsang bayi untuk keingintahuan,bayi mudah mengungkap rasa ingin tahunya terutama melalui ekspresi wajah yang menegangkan otot muka, membuka mulut, menjulurkan lidah, kemudian bayi akan menangkap barang yang membangkitkan rasa ingin tahunya tersebut, memengang, membolak – balik, melempar atau memasukkannya kemulutnya.
d. Kegembiraan
Kegembiraan dirangsang oleh kesenangan fisik. Pada bulan kedua atau ketiga,bayi mulai banyak bereaksi pada orang yang mengajaknya bercanda, mengelitik, mengamati dan memperhatikannya. Bayi mengungkapkan rasa senang atau kegembiraannya dengan tersenyum, tertawa, dan menggerakkan lengan serta kakinya. Bila rasa senang sangat besar, bayi berdekut, berdeguk, atau bahkan berteriak dengan gembira dan semua gerak tubuh menjadi makin intensif.
e. Afeksi
Setiap orang yang mengajak bayi bermain, mengurus kebutuhan jasmaninya, memperlihatkan afeksi akan merupakan perangsang untuk afeksi meraka. Mainan dan hewan kesayangan keluarga mungkin juga menjadi objek cinta bagi mereka. Umumnya bayi menepuk dan mencium barang atau orang yang dicintai.
2.2.2. Emosi Pada Awal Masa Kanak – Kanak
a. Amarah
Pada masa ini penyebab amarah yang paling umum adalah pertengkaran mengenai permainan atau tidak tercapainya keinginan, dan serangan yang hebat dari anak lain. Anak mengungkapkan rasa marah dengan ledakan amarah yang ditandai dengan menangis, berteriak, menggertak, menendang, melompat – lompat atau memukul.
b. Takut
Kebiasaan, meniru dan ingatan tentang pengalaman yang kurang menyenangkan berperan penting dalam menimbulkan rasa takut, misalnya : cerita – cerita, gambar – gambar, acara radio,televisi yang memutar film – film dengan unsur yang menakutkan. Pada mulanya reaksi anak terhadap rasa takut adalah panik, kemudian menjadi lebih khusus seperti lari, menghindar, bersembunyi dan menghindari situasi yang menakutkan.
C. Cemburu
Pada masa ini anak menjadi muda cemburu bila ia mengira bahwa minat dan perhatian orang tua beralih kepada orang lain didalam keluarga, biasanya adik yang baru lahir. Anak yang lebih muda dapat mengungkapkan kecemburuannya secara terbuka atau menunjukkannya dengan kembali berprilaku seperti anak kecil, mengompol, pura – pura, sakit atau menjadi nakal. Perilaku ini semua bertujuan untuk menarik perhatian.
d. Ingin tahu
Anak mempuyai rasa ingin tahu terhadap hal – hal yang baru dilihat, juga mengenai tubuhnya sendiri dan tubuh orang lain. Reaksi pertama adalah dalam bentuk penjelajahan sensomotorik, sebagai akibat dari tekanan sosial dan hukuman, ia bereaksi dengan bertanya.
e. Iri hati
Anak sering iri hati mengenai kemampuan atau baran yang dimiliki orang lain. Iri hati ini diungkapkan dalam bermacam – macam cara yang paling umum adalah mengeluh tentang barangnya sendiri, dengan mengungkapkan keinginan untuk memiliki barang seperti dimiliki orang lain atau dengan mengambil benda – benda yang menimbulkan iri hati.
f. Gembira
Anak – anak merasa gembira apabila bisa membohongi orang lain dan berhasil melakukan tugas yang dianggap sulit. Anak mengungkapkan kegembiraannya dengan tersenyum ,tertawa,bertepuk tangan, melompat – lompat, memeluk atau orang yang membuatnya bahagia.
g. Sedih
Anak merasa sedih karena kehilangan segala sesuatu yang dicintai yang dianggap penting bagi dirinya, apakah itu orang, binatang , atau benda mati seperti mainan. Secara khas anak mengungkapkan kesedihannya dengan menangis dan dengan kehilangan minat terhadap kegiatan normalnya, termasuk makan.
h. Kasih sayang
pada masa ini anak sudah belajar mulai mencintai orang, binatang, atau benda yang menyenangkan. Ia mengungkapkan kasih sayang secara lisan bila sudah besar, tetapi ketika masih kecil anak menyatakannya secara fisik dengan memeluk, menepuk, dan mencium objek kasih sayangnya.
2.2.3. Pola Emosi Pada Masa Remaja
Menurut Harlock, masa remaja dianggap sebagai masa ”badai dan tekanan” dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Perubahan remaja yang demikian ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
·      Pengaruh kondisi sosial baru yang remaja hadapi memberi pengaruh besar sebagai konsekwensi dari usaha penyesuaian diri pada pola perilaku baru dan harapan sosial yang baru. Oleh karena itu sering kali emosi remaja bersifat meledak-ledak, tidak terkendali dan tampak irasional
·      Masa irasional. Remaja memandang kehidupan dari kacamata dirinya, ia melihat dirinya dan orang lain sebagaimana yang ia inginkan bukan apa adanya.
·      Emosi yang belum matang sebagai bagian dari transisi perubahan dari masa kanak-kanak dan puber. Perubahan fisik yang cepat saat puber seperti tumbuhnya jerawat, membesarnya bagian tubuh tertentu kadang kurang disikapi positif oleh remaja dengan menganggap dirinya tidak sesuai dengan standar budaya yang berlaku sehingga menjadi sumber kegelisahan
·      Mencari identitas. Kuatnya pengaruh kelompok sebaya pada sikap, pembicaraan, minat, penampilan dan perilaku lebih besar daipada pengaruh keluarga. Misalnya mereka terbiasa berbicara keras agar dapat brpeluang lebih besar diakui sebagai bagian kelompoknya.
Pada hakekatnya sikap memberontak remaja jika tidak sesuai dengan norma adalah salah maka harus kita luruskan bersama. Untuk itu perlu disadari dalam proses mengarahkan ananda perlu mempertimbangkan proses tumbuh kembangnya sebagai berikut:
1.    Proses penataan nilai sosial baru, artinya remaja mulai memilih teman sebaya berdasarkan minat dan nilai-nilai yang sama yang dapat saling mengerti dan membuat mereka nyaman kepadanya ia dapat mempercayakan masalah-masalah yang tidak dapat dibicarakan dengan orang tua atau guru.
2.    Proses kematangan berfikir. Remaja belajar bagaimana mensikapi dirinya, dengan bertambahnya pengalaman pribadi dan pengalaman sosial dan meningkatnya kemampuan berfikir rasional, mereka akan mensikapi kehidupan ini lebih realistik.
3.    Perubahan relegius, maksudnya banyak anak mulai mempertanyakan konsep dan keyakinan baik itu agama atau norma-norma yang berlaku di masyarakat saat kanak-kanak, mereka mulai belajar memahami hakekat agama itu.
2.2.4. Pola Emosi pada Orang Dewasa
Mereka yang memasuki usia muda (18-30 tahun) memiliki kebutuhan untuk memiliki keintiman dan melakukan hubungan seksual. Mereka berusaha menghindari perasaan terasing, yang sebagai hasilnya mereka berjuang untuk mendapatkan cinta dan penghargaan. Mereka belajar bahwa cinta dan penghargaan dapat membuat  mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka berusaha untuk mandiri termasuk  di orang tuanya. Pada masa ini dapat terjadi krisis seperempat usia atau kebingungan identitas, ketidakamanan terhadap masa depan, ketidakamanan terhadap prestasi, evaluasi kembali terhadap hubungan intim, kekecewaan terhadap pendapat, nostalgia masa sekolah, kecenderungan untuk memegang pendapat, kebosanan terhadap interaksi social, stress terhadap keamanan financial, dan kesepian. Hal ini terjadi setelah mereka lulus dari pendidikan dan harus mengahadapi dunia nyata. Interaksi emosional yang intensif pada remaja, pada masa ini menjadi lebih halus dan lebih pribadi.
Setelah mencapai awal 30-an, mereka umumnya menjadi lebih tenang. Mereka yang lebih berhasil mengatasi krisis sebelumnya, telah memiliki investasi keuangan dan emosi untuk hidup mereka. Umumnya mereka telah membentuk keluarga.
Memasuki usia 40-an, mereka dapat mengalami krisis pertengahan. Pada usia ini mereka melewati masa di mana mereka berusaha untuk meraih prestasi hidup. Kondisi ini lebih banyak memengaruhi laki-laki dari pada perempuan.
Memasuki usia lanjut mereka menagalami penurunan kondisi fisik, sehingga banyak yang mulai mengakhiri karier pekerjaan mereka. Mereka yang dapat menerima dirinya akan mencapai integritas kepribadian mereka lebih dapat menghargai keterbatasan dan nilai-nilai kemanusiaan. Namun, jika mereka gagal dalam kehidupan periode sebelumnya, mereka dapat merasakan perasaan tidak berharga dan putus asa.

2.3  PENGGOLONGAN EMOSI

Membedakan satu emosi dari emosi lainnya dan menggolongkan emosi-emosi yang sejenis ke dalam satu golongan atau satu tipe adalah sangat sukar dilakukan karena hal-hal yang berikut ini:
1. Emosi yang sangat mendalam (misalnya sangat marah atau sangat takut) menyebabkan  aktivitas badan yang sangat tinggi, sehingga seluruh tubuh diaktifkan, dan dalam keadaan seperti ini sukar untuk menentukan apakah seseorang sedang takut atau sedang marah.
2. Satu orang dapat menghayati satu macam emosi dengan berbagai cara.  Misalnya, kalau  marah ia mungkin gemetar di tempat, tetapi lain kali mungkin ia memaki-maki, dan lain kali lagi ia mungkin lari.
3. Nama yang umumnya diberikan kepada berbagai jenis emosi biasanya didasarkan pada sifat rangsangnya bukan pada keadaan emosinya sendiri. Jadi, “takut” adalah emosi yang timbul terhadap suatu bahaya, “marah” adalah emosi yang timbul terhadap sesuatu yang menjengkelkan.
4. Pengenalan emosi secara subyektif dan introspektif, juga sukar dilakukan karena selalu saja akan ada pengaruh dari lingkungan.
















BAB III
PENUTUP

3.1.    Kesimpulan
                        Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa perkembangan emosional manusia dapat dibedakan menjadi 4 tahap yaitu
1.      Masa bayi, yang memiliki kecenderungan untuk marah, takut, gembira, ingin tahu, dan afeksi.
2.      Masa kanak-kanak, yang memiliki kecenderungan untuk marah, takut, gembira, ingin tahu, iri hati, sedih, dan memiliki rasa kasih sayang.
3.      Masa remaja yang memiki kecenderungan untuk mencari jati diri.
4.      Masa dewasa yang sudah memiliki pola pikir yang sudah mapan dan kebutuhan biologis.

3.2.    Saran
1.      Sebaiknya para orangtua benar-benar memantau perkembangan emosional anak-anaknya agar kelak anaknya tidak memiliki perilaku emosional yang menyimpang
2.      Guru perlu mengetahui benar sifat-sifat anak didiknya agar dapat memberikan pembinaan yang baik dan tepat sehingga dapat meningkatkan potensi kecerdasan dan kemampuan anak didiknya sesuai dengan kebutuhan anak.




DAFTAR PUSTAKA

Sumantri, Mulyani. 2007. Perkembangan Peserta Didik.  Jakarta: Universitas Terbuka.