Perkembangan Bahasa Dan Perkembangan Sosial
Dalam Perkembangan Peserta Didik
![]() |
Diajukan sebagai tugas mata kuliah perkembangan peserta didik yang akan diajukan sebagai makalah pada Program Studi Pendidikan Matematika
Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
O L E H
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
K E N D A R I
2 0 10
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala Rahmat dan Hidayah yang diberikan kepada penulis sehingga penyusunan makalah dengan judul “Perkembangan Bahasa Dan Perkembangan Sosial Dalam Perkembangan Peserta Didik” dapat diselesaikan.
Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas dalam mata kuliah Perkembangan Peserta Didik.
Penulis sepenuhnya menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat begitu banyak kekurangan-kekurangan yang perlu di perbaiki kembali, namun itulah segala kekurang kelompok selaku manusia biasa yang baru belajar untuk dapat berlepas diri dari kebodohan, olehnya itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan penulisan makalah ini.
Kendari, Agustus 2010
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ............................................................................................... KATA PENGANTAR ............................................................................................ DAFTAR ISI ........................................................................................................ | I ii iii |
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ................................................................................... B. Batasan Masalah................................................................................. C. Rumusan Masalah .............................................................................. D. Tujuan Penelitian ............................................................................... | 1 2 3 3 |
BAB II PEMBAHASAN A. Perkembangan Bahasa………………………………………………. B. Perkembangan Sosial……………………………………………….. C. Hubungan Antara Perkembangan Bahasa Dengan Perkembangan Sosial………………………………………………………………… BAB III PENUTUP 1. Kesimpulan…………………………………………………… 2. Saran…………………………………………………………… DAFTAR PUSTAKA | 4 10 15 17 17 |
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masa bayi atau balita (di bawah lima tahun) adalah masa yang paling signifikan dalam kehidupan manusia. Dan jika diibaratkan seperti pondasi dalam sebuah bangunan, jika pondasinya kokoh maka bangunannya pun akan kuat dan tahan lama,dan sebaliknya jika pondasinya rapuh maka bangunannya akan mudah roboh atau rusak.
Pada masa balita ini, manusia pertama kali belajar atau diperkenalkan dengan suasana yang sama sekali “baru”, dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya di dalam kandungan. Selama 3 hari pertama, orok yang normal masih lebih banyak tidur. Sekitar 80% waktunya dipergunakan untuk tidur, Setelah 2 minggu bayi mulai mampu melakukan berbagai kegiatan tanpa bantuan orang lain, mulai dari berbalik, duduk, merangkak dan lain sebagainya, menjelang usia 7-8 bulan, perasaan atau emosi bayi mulai muncul, walaupun rasio atau pikirannya belum berfungsi sama sekali, Pada usia 12-14 bulan, bayi mulai mengenal lingkungannya, baik lingkungan fisik ataupun social, Secara bertahap, bayi mulai memahami hubungan antar “kata” dengan apa atau siapa saja yang ada di sekitarnya. Dan untuk itu, bayi mulai memerlukan alat ekspresi yang disebut “bahasa”.
Kita sadari atau tidak setiap manusia mengawali komunikasinya dengan dunia sekitarnya melalui bahasa tangis. Melalui bahasa tersebut seorang bayi mengkomunikasikan segala kebutuhan dan keinginannya. Sejalan dengan perkembangan kemampuan serta kematangan jasmani terutama yang bertalian dengan proses bicara, komunikasi tersebut semakin meningkat dan meluas dengan perkembangan bahasa yang sangatlah bertahap.
Pada masa balita ini, manusia pertama kali belajar atau diperkenalkan dengan suasana yang sama sekali “baru”, dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya di dalam kandungan. Selama 3 hari pertama, orok yang normal masih lebih banyak tidur. Sekitar 80% waktunya dipergunakan untuk tidur, Setelah 2 minggu bayi mulai mampu melakukan berbagai kegiatan tanpa bantuan orang lain, mulai dari berbalik, duduk, merangkak dan lain sebagainya, menjelang usia 7-8 bulan, perasaan atau emosi bayi mulai muncul, walaupun rasio atau pikirannya belum berfungsi sama sekali, Pada usia 12-14 bulan, bayi mulai mengenal lingkungannya, baik lingkungan fisik ataupun social, Secara bertahap, bayi mulai memahami hubungan antar “kata” dengan apa atau siapa saja yang ada di sekitarnya. Dan untuk itu, bayi mulai memerlukan alat ekspresi yang disebut “bahasa”.
Kita sadari atau tidak setiap manusia mengawali komunikasinya dengan dunia sekitarnya melalui bahasa tangis. Melalui bahasa tersebut seorang bayi mengkomunikasikan segala kebutuhan dan keinginannya. Sejalan dengan perkembangan kemampuan serta kematangan jasmani terutama yang bertalian dengan proses bicara, komunikasi tersebut semakin meningkat dan meluas dengan perkembangan bahasa yang sangatlah bertahap.
Perkembangan bahasa ini terkait erat dengan perkembangan kognitif seorang bayi, yang berarti faktor intelek/kognisi sangat berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan berbahasa. Bayi, tingkat intelektualnya belum berkembang dan masih sangat sederhana. Semakin bayi itu tumbuh dan berkembang serta mulai mampu memahami lingkungan, maka bahasa mulai berkembang dari tingkat yang sangat sederhana rnenuju ke bahasa yang kompleks. Perkembangan bahasa dipengar.uhi oleh lingkungan, karena bahasa pada dasarnya merupakan hasil belajar dari lingkungan. Anak (bayi) belajar bahasa seperti halnya belajar hal yang lain,"meniru" dan "mengulang" hasil yang telah didapatkan merupakan cara belajar bahasa awal. Bayi belajar menambah kata-kata dengan meniru bunyi-bunyi yang didengarkannya. Manusia dewasa (ibu dan anggota keluarga lain) di sekelilingnya membetulkan dan memperjelas apa yang di maksudkan oleh bayi tersebut.
Berdasarkan latar belakang di atas maka pada makalah ini penulis sengaja mengangkat tema yang berkaitan dengan perkembangan bahasa dan perkembangan social pada manusia khusunya pada anak-anak yaitu “Perkembangan Bahasa dan perkembangan social dalam perkembangan peserta didik”.
B. Batasan Masalah
Karena ruang lingkup perkembangan bahasa dan perkembangan social dalam kaitannya dengan perkembangan peserta didik sangatlah luas maka penulis membatasi permasalahan Pada makalah ini pada perkembangan peserta didik sampai pada tingkat sekolah dasar.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah hubungan Perkembangan bahasa dengan perkembangan peserta didik?
2. Bagaimanakah hubungan Perkembangan sisial dengan perkembangan peserta didik?
3. bagaimanakah keterkaitan antara perkembangan bahasa dan perkembangan social dalam perkembangan peserta didik?
D. Tujuan
Tujuan dalam makalah ini adalah
1. Untuk mengetahui hubungan Perkembangan bahasa dengan perkembangan peserta didik.
2. Untuk mengetahui hubungan Perkembangan sisial dengan perkembangan peserta didik.
3. Untuk mengetahui keterkaitan antara perkembangan bahasa dan perkembangan social dalam perkembangan peserta didik.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A. Perkembangan Bahasa
Psikologi perkembangan merupakan cabang psikologi yang mempelajari perubahan tingkah laku dan kemampuan sepanjang proses perkembangan individu dari mulai masa konsepsi sampai mati.
Seseorang yang mempelajari psikologi perkembangan berarti sedang mempelajari proses perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia. Ada dua hal yang penting dalam perubahan psikologi perkembangan, yaitu pertumbuhan (growth) dan perkembangan (development).
Sedangkan bahasa Sesuai dengan fungsinya, merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh seseorang dalam pergaulannya atau hubungannya dengan orang lain. Bahasa merupakan alat bergaul
Jadi Berdasarkan pengertian diatas, penulis merangkaikan pengertian perkembangan bahasa secara umum sebagai suatu proses perubahan komunikasi menuju suatu kesempurnaan
Perkembangan bahasa dimulai dari tangisan pertama sampai anak mampu bertutur kata. Perkembangan bahasa terbagi atas dua periode yaitu: periode Preliguistik (0-1 tahun) dan Lingustik (1-5 tahun). Periode linguistic terbagi dalam tiga fase besar, yaitu:
a. Frase satu kata (Holofrase)
Pada frase ini anak mempergunakan satu kata untuk menyatakan pikiran yang kompleks, baik berupa keinginan, perasaan atau temuannya tanpa perbedaan yang jelas. Pada umumnya kata pertama yang diucapkan oleh anak adalah kata benda, setelah beberapa waktu barulah kata kerja.
b. Fase lebih dari satu kata
Pada fase ini anak sudah dapat membuat kalimat sederhana yang terdiri dari dua kata. Kalimat tersebut kadang-kadang pokok kalimat dan predikat, kadang pokok kalimat dengan objek dengan tata bahasa yang tidak benar. Setelah dua kata , munculah kalimat dengan tiga kata, diikuti empat kata dan seterusnya. Anak kemudian mulaio mengadakan komunikasi dengan orang lain secara lancar dan sederhana.
c. Fase ketiga adalah fase diferensiasi
Periode terakhir dari masa balita yang berlangsung antara usia dua setengah sampai lima tahun. Keterampilan anak dalam berbicara mulai lancar dan berkembang pesat. Anak akan mampu mempergunakan kata ganti orang ”saya” untuk menyebut dirinya, mampu mempergunakan kata dalam bentuk jamak, awalan, akhiran dan berkomunikasi lebih lancar lagi dengan lingkungannya.
1. Bahasa tubuh
Bahasa tubuh merupakan cara seseorang yang digunakan untuk berkomunikasi dengan menggunakan bagian-bagian dari tubuh , yaitu melalui gerak isyarat, ekspresi wajah dan sikap tubuh.
2. Bicara
Bicara merupakan salah satu alat komunikasi yang paling efektif. Bagi anak bicara tidak sekedar merupakan prestasi akan tetapi juga berfungsi untuk mencapai tujuannya, misalnya:
a. Sebagai pemuas kebutuhan dan keinginan
Dengan berbicara anak mudah untuk menjelaskan kebutuhan dan keinginannya tanpa harus menunggu oang lain menunngu tangisan, gerak tubuh atau ekspresi wajahnya.
b. Sebagai alat untuk menarik perhatian orang lain
Dengan melalui keterampilan berbicara anak berpendapat bahwa perhatian orang lain terhadapnya mudah diperolah melalui berbagai pertanyaan yang diajukan kepada orang tua misalnya, apabila anak dilarang mengucapakan katat-kata yang tidak pantas.
c. Sebagai alat untuk membina hubungan sosial
Dengan keterampilan berkomunikasi anak-anak lebih mudah diterima oleh kelompok sebaya.
d. Sebagai alat untuk mengevaluasi diri
Anak akan mendapat kesan bagaimana lingkungan menilai dirinya. Dengan kata lainanak dapat mengevaluasi diri melalui orang lain.
e. Untuk dapat mempengaruhi pikiran dan perasaan orang lain
Anak akan suka berkomentar, menyakiti atau mengucapkan sesuatu yang tidak menyenangkan tentang orang lain dapat menyebabkan anak tidak populer atau tidak disenagi lingkungannya, begitu pula sebaliknya.
f. Untuk mempengaruhi perilaku orang lain
Dengan kemampuan berbicara dengan baik dan penuh rasa percaya diri anak dapat mempengaruhi orang lain atau teman sebaya yang berperilaku kurang baik menjadi teman yang bersopan santun.
- Potensi anak berbicara didukung oleh beberapa hal
i. Kematangan alat berbicara
Kemampuan berbicara juga tergantung kematangan alat-alat berbicara, misalnya tenggorokan, langit-langit, lebar rongga mulut dan lain-lain yang dapat mempengaruhi kematangan berbicara.
ii. Kesiapan berbicara
Kesiapan mental anak sanagat tergantung pada petrtumbuhan dan kkematangan otak. Kesiapan dimaksud biasanya dimulai sejak anak berusia 12-18 bulan. Pada saat inilah anak betul-betul siap untuk belajar bicara yang sesungguhnya.
iii. Adanya model yang baik untuk dicontohi oleh anak
Anak dapat membutuhkan suatu model tertentu agar dapaty melafalkan kata dengan tepat untuk dapat dikombinas kesempatan berlatihikan dengan kata lain sehinmgga menjadi suatu kalimat yang berarti. Model tersebut dapat diperoleh dari orang lain, misalnya orang tua atau saudara, dari radio yang sering didengarkan atau TV.
iv. Kesempatan berlatih
Apabila anak kurang dengan mendapat latihan keterampilan berbicara akan timbul frustasi dan bahkan sering sekali marah yang tidak dimengerti penyebabnya oleh orang tua atau lingkungannya.
v. Motivasi untuk belajar dan berlatih
Memberikan motivasi dan melatih anak untuk berbicara sangat penting bagi anak karena untuk memenuhi kebutuhannya untuk memanfaatkan potensi anak.
vi. Bimbingan
Hendaknya orang tua memberikan contoh atau model bagi anak, berbicara dengan mudah dan pelan yang dapat diikuti oleh anak dan orang tua siap memberikan kritikan atau membetulkan apa yang dibicarakan oleh anak.
- Gangguan dalam perkembangan berbicara
Berbicara merupakan suatu proses yang sangat sulit dan rumit. Terdapat beberapa kendala yang srering kali dialami oleh anak , antara lain:
1. Anak cengeng
Anak yang seringkali mengangis yang berlebihan dapat menyebabkan gangguan fisik maupun psikis anak. Reaksi sosial terhadap tangisan anak biasanya bernada negatif. Oleh karena itu peranan orang tua sangat penting untuk menanggulangi hal tersebut, salah satu cara untuk mengajarkan komunikasi yang efektif bagi anak.
2. Anak sulit memahami isi pembicaraan orang lain
Seringkali anak tidak dapat memahami isi pembicaraan orang tua atau anggota keluarga lain. Hal ini dusebabkan oleh kurangnya perbendaharaan kata pada anak. Orang tua hendaknya mencari penyebab kesulitan anak dalam memahami pembicaraan tersebut agar dapat memahami pembicaraan tersebut.
e. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa
Secara rinci dapat diidentifikasi sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa, yaitu:
1. Kognisi (Proses Memperoleh Pengetahuan)
Tinggi rendahnya kemampuan kognisi individu akan mempengaruhi cepat lambatnya perkembangan bahasa individu. Ini relevan dengan pembahasan sebelumnya bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara pikiran dengan bahasa seseorang
2. Pola Komunikasi Dalam KeluargaDalam suatu keluarga yang pola komunikasinya banyak arah akan mempercepat perkembangan bahasa keluarganya
3. Jumlah Anak Atau Jumlah Keluarga
Suatu keluarga yang memiliki banyak anggota keluarga, perkembangan bahasa anak lebih cepat, karena terjadi komunikasi yang bervariasi dibandingkan dengan yang hanya memiliki anak tunggal dan tidak ada anggota lain selain keluarga inti.
4. Posisi Urutan Kelahiran
Perkembangan bahasa anak yang posisi kelahirannya di tengah akan lebih cepat ketimbang anak sulung atau anak bungsu. Hal ini disebabkan anak sulung memiliki arah komunikasi ke bawah saja dan anak bungsu hanya memiliki arah komunikasi ke atas saja.
5. Kedwibahasaan(Pemakaian dua bahasa)
Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang menggunakan bahasa lebih dari satu atau lebih bagus dan lebih cepat perkembangan bahasanya ketimbang yang hanya menggunakan satu bahasa saja karena anak terbiasa menggunakan bahasa secara bervariasi. Misalnya, di dalam rumah dia menggunakan bahasa sunda dan di luar rumah dia menggunakan bahasa Indonesia. Dalam bukunya “Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja” Syamsu Yusuf mengatakan bahwa perkembangan bahasa dipengaruhi oleh 5 faktor, yaitu: faktor kesehatan, intelegensi, statsus sosial ekonomi, jenis kelamin, dan hubungan keluarga. Karakteristik perkembangan bahasa remaja sesungguhnya didukung oleh perkembangan kognitif yang menurut Jean Piaget telah mencapai tahap operasional formal. Sejalan dengan perkembangan kognitifnya, remaja mulai mampu mengaplikasikan prinsip-prinsip berpikir formal atau berpikir ilmiah secara baik pada setiap situasi dan telah mengalami peningkatan kemampuan dalam menyusun pola hubungan secara komperhensif, membandingkan secara kritis antara fakta dan asumsi dengan mengurangi penggunaan symbol-simbol dan terminologi konkret dalam mengomunikasikannya.
B. Perkembangan Sosial
Terdapat kaitan yang erat antara keterampilan bergaul dengan masa bahagia pada waktu kanak-kanak. Kemampuan anak untuk menyelesaikan diri dengan lingkungan, penerimaan lingkungan serta berbagai pengalaman yang bersifat positif selama anak melakukan berbagai aktifitas sosial merupakan modal dasar yang yang sangat penting bagi anak untuk mencapai kehidupan yang sukses dan menyenangkan pada waktu yang akan datang atau meningkat dewasa. Segala sesuatu yang di peroleh anak semasa kecil mereka yang memetik hasilnya pada waktu dewasa kelak.
Bertalian dengan perkembangan sosial anak, maka dapat dirangkaikan pengertian bahwa perkembangan sosial adalah proses pengembangan keterampilan bergaul bagi anak dengan kehidupan sosial.
Oleh karena itu peranan orang tua sangatlah penting selain memberi anak kepercayaan dan kesempatan, orang tua juga diharapkan dapat memberi penguatan memberi pemberian ganjaran atau hadiah pada saat anak berperilaku positif. Sebaliknya orang tua juga berkewajiban memberi hukuman kepada anak apabila anak bertingkah laku negatif atau melakukan berbagai kesalahan. Dengan adanya tindakan yang kongkret dan pasti dari orang tua tersebut anak akan dapat berkembang dengan baik , yang pada gilirannya akan menjadi makhluk sosial yang bertanggung jawab dan sehat bermanfaat bagi masyarakat bangsa dan negara.
Adapun ganjaran dan hukuman yang diberikan oleh orang tua terhadap anaknya dapat di uraikan sebagai berikut:
1. Ganjaran atau hadiah
Ganjaran atau hadiah adalah berbagai bentuk apresiasi atau penghargaan terhadap suatu prestasi yang telah dicapai oleh suatu tu sekelompok anak dalam aktivitas tertentu. Pada umumnya hadiah atau ganjaran di berikan setelah anak mencapai prestasi atau menghasilkan sesuatu yang dapat di banggakan baik oleh teman,guru orang tua da dirinya sendiri. Jadi, ganjaran atau hadiah dimaksud tidak di berikan sebelum suatu aktifitas atau pekerjaan selesai dilaksanakan oleh anak. Sekalipun ganjaran dapat mendorong tau memotovasi kepada anak untuk lebih berprestasi, namun sampai dewasa ini masih terdapat banyak orang tua atau guru yang branggapan bahwa hadiah seperti ini tidak penting, dengan alasan bahwa sewajarnya anak berusaha sesuai dengan kemampuannya. Dengan kata lain, tanpa adanya ganjaran atau hadiah tersebut anak akan melaksanakan tugas atau pekerjaan seperti yang dilakukan oleh anak-anak lain.
Fungsi hadiah
Terdapat tiga fungsi hadiah yang amat penting dalam pendidikan yaitu:
a. memiliki nilai pendidikan
Di samping merupakan suatu benda nyata, hadiah mempunyai makna, anak akan segera mengetahui apabila dia menerima hadiah dari orang tua atau guru, ia dapat menginterpretasikan bahwa dia telah dapat berbuat baik yang dapat menyenangkan orang tua atau gurunya. Perbuatan tersebut dapat berupa prestasi belajar, perilaku yang terpuji dan lain sebagainya.
b. memberikan motivasi pada anak
fungsi kedua hadiah adalah dapat memberikan motivasi pada anak untuk mau mengulangi perillaku yang dapat di terima dan dapat di tingkatkan serta dapat mencapai prestasi lebih tinggi lagi. Dengan demikian anak-anak akan lebih bereaksi positif terhadap pengakuan dari penghargaan lingkungannya,terutama dari guru, teman sekelas, teman bermain dan orang tua. Penghargaan yang dimaksud bukan hanya berupa materi atau benda non-material, misalnya pujian, pemberian tanggung jawab dan keprcayaan untuk melakukan kepentingan umum dan sebagainya.
c. memperkuat perilaku
fungsi ketiga dari hadiah yaitu dapat memperkuan perilaku anak yang dapat diterima di lingkungannya. Ini berarti menumbuhkan keyakinan dan kepercayaan diri dan pemahaman bahwa sesuatu yang dapat dilakukan tersebut betul dan di akui kebenarannya oleh lingkungan setempat. Dengan demikian anak akan termotivasi untuk melakukan perbuatan yang sama dan berusaha meningkatkannya. Dengan kata lain dengan pemberian hadiah dapat menimbulkan berbagai sikap dan perilaku serta motivasi positif yang sangat penting bagipertumbuhan anak. Sbaliknya bagi anak yang tidak pernah mendapatkan hadiah sering kali nampak kurang percaya diri, sering bingung dan kurang bergairah.
2. Hukuman
Hukuman merupakan sanksi fisik maupun psikis terhadap suatu kesalahan atau pelanggaran yang dilakukan oleh anak dengan sengaja.
Ada beberapa fungsi hukuman yaitu sebagai berikut :
a. Fungsi restriktif
Dengan diberikan suatu hukuman terhadap anak, berarti bahwa pengulangan perilaku yang tidak diharapkan dalam masyarakat tidak akan terjadi lagi. Sebab apabila seorang anak pernah membuat kesalahan dan menerima hukuman maka dihapapkan bahwaa apada kesempatan lain dia tidak akan berrbuat serupa.
b. Fungsi pendidikan
Dalam kaitannya dengan pendidikan tindakan orang tua yang paling utama adalah memberikan penjelasan kepada anak tentang pemahaman adanya peraturan yang berkaitan dengan perbuatan salah atau benar. Apabila anak berbuat salah orang tua harus segera menegur dan menjelaskan mengapa perbuatan tersebut salah, selanjutnya di beritahukan bagaimana seharusnya tindakan semacam itu benar. Tindakan semacam ini selalu di lakukan oleh orang tua terhadap perilaku yang mungkin dpat berupa kesalahan atau kebenran yang sering kali kurang dipahami oleh anak.
c. Fungsi sebagai penguat motivasi
Motivasi memegang peranan penting anak lebih-lebih anak yang menginjak usia remaja. Oleh karena itu hukuman yang diberikan kepada anak dapat berfungsi memperkuat motivasi terutama bertalian dengan perilaku yang bersifat negatif yang tidak diharapkan oleh orang tua maupun oleh gurunya. Sebaiknya pemberian hukuman disamping dimarahi juga sekaligus diberikan pengarahan atau nasehat yang dapat merupakan ”hadiah” moril dan motivasi bagi untuk dapat berperilaku yang diharapkan.
3. Syarat-syarat hukuman
Beberapa syarat-syarat yang harus diperhatikan oleh orang tua atau guru apabila hendak menjatuhkan hukuman kepada anak yaitu:
a. sebaiknya hukuman segera diberikan kepada anak yang membuat kesalahan dan patut mendapat hukuman.
b. hukuman diberikan secara konsisten
c. huikuman yang diberikan harus bersifat konstruktif
d. hukuman yang diberikan bersifat imperasional
e. dalam memberikan hukuman harus disertai alasan
f. hukuman juga dapat dipergunakan sebagai alat mengembangkan hati nurani anak, sehingga suatu saat anak dapat mengembangkan kontrol dalam dirinya sendiri.
g. hukuman diberikan pada tempat dan waktu yang tepat, sehingga anak tidak merasa malu terhadap teman atau kelompoknya.
C. Hubungan Antara Perkembangan Bahasa dan Perkembangan Sosial
Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh seseorang dalam pergaulannya atau hubungannya dengan orang lain. Bahasa merupakan alat bergaul. Oleh karena itu, penggunaan bahasa menjadi efektif sejak seorang individu memerlukan berkomunikasi dengan orang lain.
Dan Perkembangan bahasa ini terkait dengan perkembangan kognitif, yang berarti faktor intelek/kognisi sangat berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan berbahasa. Bayi, tingkat intelektualnya belum berkembang dan masih sangat sederhana. Semakin bayi itu tumbuh dan berkembang serta mulai mampu memahami lingkungan, maka bahasa mulai berkembang dari tingkat yang sangat sederhana rnenuju ke bahasa yang kompleks. Perkembangan bahasa seorang bayi (anak) sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan dimana bayi itu berada, karena bahasa pada dasarnya merupakan hasil belajar dari lingkungan. Lingkungan yang di maksudkan di sini adalah semua hal di luar kondisi bayi itu sendiri, yaitu ibu, ayah, saudara, tetangga dan masyarakat.
Dalam kaitannya antara perkembangan bahasa dengan perkembangan social maka semakin bagus perkembangan bahasa anak maka akan semakin baik pula perkembangan kehidupan sosialnya. Seorang anak yang memiliki tingkat kebahasaan yang tinggi akan semakin mudah dalam berinteraksi dengan kehidupan sosialnya. Begitu pula sebaliknya, seorang anak yang baik dalam berinteraksi dengan orang lain dalam hal ini kehidupan sosialnya biasanya di sebabkan karena penguasaan bahasanya juga baik. Namun ada yang perlu di garis bawahi bahwa penguasaan bahasa di sini bukan hanya penguasaan alat berkomunikasi secara lisan, tetapi juga penguasaan alat komunikasi secara tertulis, maupun menggunakan tanda-tanda dan isyarat. Dan menguasai alat komunikasi di sini diartikan sebagai upaya seseorang untuk dapat memahami dan dipahami orang lain.
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Berdasarkan uraian –uraian di atas dapat di simpulkan bahwa:
Berdasarkan uraian –uraian di atas dapat di simpulkan bahwa:
a. Hubungan Perkembangan bahasa dengan perkembangan peserta didik adalah perkembangan bahasa merupakan suatu proses perubahan alat komunikasi yang digunakan oleh seseorang peserta didik dalam pergaulannya.
b. Hubungan Perkembangan sosial dengan perkembangan peserta didik adalah perkembangan sosial merupakan proses pengembangan keterampilan bergaul seseorang peserta didik dengan kehidupan sosialnya.
c. Keterkaitan antara perkembangan bahasa dan perkembangan social dalam perkembangan peserta didik adalah semakin tinggi tingkat penguasaan bahasa seorang peserta didik maka akan semakin mudah dan terampil pula dalam berinteraksi dengan kehidupan sosialnya.
2. Saran
Setelah mengetahui bagaimana keterkaitan antara perkembangan bahasa dengan perkembangan sosial terhadap perkembangan peserta didik maka melalui makalah ini penulis sarankan bagi para pendidik terkhusus bagi para orang tua yang saat ini memiliki anak yang masih balita untuk memberikan keteladanan dalam upaya mendidik anak-anak anda, karena pada seorang anak pada masa balita sampai masa kanak-kanak belum memiliki filter penyaring yang dapat membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik, tetapi seorang anak pada masa ini langsung menyerap begitu saja apa yang ia lihat, apa yang ia dengar dan apa yang ia rasakan. Olehnya itu bagi para pendidik agar memberikan apa yang di butuhkan anak dan bukan apa yang ia mau dan inginkan. Serta berikanlah pengawasan terhadap keadaan sosialnya, jika lingkungannya baik maka besar kemungkinan anak itu akan menjadi baik begitu pula sebaliknya. Dan juga ajarkanlah bahasa-bahasa yang mendidik dan membangun kepribadiannya agar kemudian ia menjadi seorang anak yang tampil percaya diri, tutur kata yang bagus serta berakhlaq mulia.
DAFTAR PUSTAKA
Enik Ekawati, Enik., 2010. Makalah pertumbuhan dan perkembangan peserta didik. Universitas sebelas maret. Surakarta dalam http://enikekawati.student.fkip.uns.ac.id/category/perkembangan-peserta-didik/
Yusuf, Syamsu, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung; PT. Rosda Karya, cet-5, 2004 dalam http://edichugiel.blogspot.com/2010/01/makalah-perkembangan-bahasa-anak.html
http://pesertadidik.netfirms.com/pokok_13.html#


