KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah tentang konsep belajar dan pembelajaran ini.
Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk dipresentasekan bersama kelompok-kelompok lain guna memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang mata kuliah belajar dan pembelajaran
Teriring rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada bapak dosen yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan atau arahan-arahan kepada kami (penulis) dalam menyelesaikan makalah ini.
Kami juga dari penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah ini baik secara langsung maupun secata tidak langsung.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, olehnya itu sangat diharapkan tanggapan, kritikan, dan saran yang sifatnya membangun dari berbagai pihak demi kelancaran diskusi kita.
Akhirnya dengan segala kekurangan kami , penulis mempersembahkan kepada pembaca semoga makalah ini dapat memberikan manfaat . Amin !
Kendari, Maret 2010
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan ltar belakang yang telah telah dikemukakan diatas maka dapat ditarik suatu permasalahan yakni :
1. Menjelaskan pengertian , tujuan dan ciri-ciri pembelajaran
2. Menjelaskan unsure-unsur dan fungsi dinamis dalam belajar dan pembelajaran
1.3 Tujuan
1. Dapat menjelaskan pengertian , tujuan dan ciri-ciri pembelajaran
2 Dapat menjelaskan unsur-unsur dan fungsi dinamis dalam belajar dan pembelajaran
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian, Tujuan, dan Ciri-ciri Pembelajaran
Padanan ‘istilah belajar’ dan “pembelajaran” yang dpat dijumpai dalam perpustakaan asing adalah learning dan intructiion. Istilah learning seperti dikemukakan oleh Fontana (1981:147) mengandung pengertian proses perubahan yang relative tetap dalam prilaku individu sebagai hasil dari pengalaman. Definisi tersebut memusatkan perhatian pada tiga hal yakni :
1. Bahwa belajar harus memungkinkan terjadinya perubahan prilaku individu
2. Bahwa perubahan itu harus merupakan buah dari pengalaman, dan
3. Bahwa perubahan itu terjadi ada prilaku individu yang mungkin.
Dilain pihak istilah instruction seperti dikumukakan oleh Romiszowski (1981:4) merujuk pada proses pengajaran berpusat pada tujuan atau goal directedteaching process yang dalam banyk hal dapat direncanakan sebelumnya pre-planned). Karena sifat sifat dan proses tersebut, maka proses belajar yang terjadi dalam proseas perubahan prilaku dalam konteks pengalaman yang memang sebagian besar telah dirancang. Unsure kesenjangan dari pihak di luar individu yang melakukan proses belajar merupakan ciri utama dari konsep instruction. Secara global ada dua pendekatan psikologi dalam melihat proses belajar yakni pendekatan connectionist or behaviorist disatu pihak dan pendekatan cognitive or cognitive field dilain pihak pendekatan pertama melihat proses belajar sebagai proses ter jadinya hubungan antar stimulus atau rangsangan dengan respon atau jawaban atau antara respon dengan penguatan reinforcemet. Pendekatan kedua dilain pihak, melihat proses belajar tidak semata-mata hasil hubungan stimuls dan respon tetapi lebih yang merupakan hasil dari kemampuan mental individu dalam melakukan fungsi-fungsi psikologis seperti konsep dan ingatan atau dengankata lain pendekatan pertama menekankan pada unsure diluar did individu (lingkungan yang berfungsi memberi rangsang), sedangkan pendekatan kedua menitik beratkan pada potensi diri individu (Fontana, 1981:148). Skinner (1969) berpendirian bahwa perbuatan belajar melibatkan tiga tahap :
Pertama : hadirnya stimulis atau situasi (S) yang dihadapi individu
Kedua : prilaku atau behavior(B) yang lahir dari diri individu, dan
Ketiga : penguatan atau reinforcement (R) yang mengikuti prilaku tersebut
Brunner (1966) dilain pihak dengan pandangan kognitifnya melihat belajar bukan semata-mata merupakan unit prilaku yang pasif yang terlahir akibat stimulus, tetapi merupakan proses aktif dimana individu menggunakan prinsip dan hokum dan menerapkanya. Dengan kata lain proses belajar bukan hanya terjadi pada diri individu seperti dalam model operant conditioning tetapi merupakan suatu proses dimana individu sendiri sengaja membuat hal itu terjadi melalui proses menerima dan menggunkan informasi (Fontana, 1981:149-152).
Dari sudut pandang lain, Gagne berpendapat bahwa memang belajar dipengaruhi oleh dua hal yakni variabel dalam diri individu dan diluar diri individu yang saling berinteraksi. Nampaknya pandangan ini bersifat elektis (perpaduan) dari esensi pandangan behaviorisme dan konseptualisme instrumental. Deengan pandangan elektisnya itu, Gegne merinci proses belajar menjadi delapan jenis yakni :
1. Signal learning atau Belajar Isyarat
2. Stimulus-Response Learning atau Belajar Stimulus Respon
3. Chaining Learning atau Belajar Rangkaian
4. Verbal Association Learning atau Belajar Asosiasi Verbal
5. Discrimination Learning atau Belajar Membedakan
6. Concept Learning atau Belajar Konsep
7. Rule Learnig atau Belajar Hukum atau Aturan, dan
8. Problem Solving Learning atau Belajar Pemecahan Masalah
2.2 Unsur-unsur dan Fungsi Dinamis Dalam Belajar dan Pembelajaran
Pada dasarnya berbagai teori belajar telah mencoba mendekati persoalan terjadinya peristiwa belajar dari sudut pandangan yang berbeda satu sama lain, ada yang melihat peristiwa belajar sebagai satu perisriwa yang terjadi karena adanya stimulus dan respon. Ada juga yang melihat terjadinya peristiwa belajar bukan semata-mata dari sudut adannya stimulus dan respon tapi dari sudut terjadinya proses pengolahan informasi dalam diri individu yang sering disebut proses kognitif. Dilain pihak ada juga yang melihat peristiwa belajar dari sudut terjadinya proses pengolahan dan kristalisasi pengalaman melalui proses “prehension dan transformation”
Melihat berbagai teori belajar yang berkembang sampai saat ini Marzano, Pickering dan Me Tighe (1993) merumuskan peristiwa belajar sebagai proses yang erat kaitanya dengan proses berfikir. Proses belajar menurut ketiga ahli tersebut memiliki lima dimensi yakni :
Dimensi pertama : adalah sikap dan persepsi yang positif mengenai belajar. Sikap dan presepsi positif sangatlah penting dalam belajar karena tanpa itu seorang tidak dapat belajar dengan berhasil. Dengan kata lain seseorang ingin berhasil dalam belajar ia harus memiliki sikap dan presepsi yang positif seperti merasa senang berada didalam ruangan , senang terhadap mata pelajaran yang dihadapinya, senang terhadap cara guru dalam mengajar, dan senang terhadap sumber belajar yang dipergunakan.
Dimensi kedua : adalah memeroleh dan mengintegrasikan pengetahuan. Perlu kita ingat bahwa proses belajar bagi individu bukanlah proses yang sekali tetapi merupakan proses uyang berlangsung tahap demi tahap, sedikit demi sekit dan berlangsung sepajang hayat. Artiya didalam belajar seseorang melakukan peristiwa belajar yang tidak pernah putus karena memang pengetahuan yang dimiliki seseorang bersifat akumulutaif yakni merupakan perpaduan antara pengetahuan lama dan pengetahuan baru serta pengetahuan yang lebih baru lagi yang diperoleh individu.
Dimensi ketiga : Dimensi belajar ketiga ini merupakan kelanjutan dari demensi kedua. Proses memperolah dan mengintegrasikan pengetahuan bukanlah titik akhir dari proses belajar. Pengetahuan lama dan baru yang telah terintegrasi dalam diri pembelajar perlu diperbaiki, dimantapkan, dikembangkan. Dengan demikian seorang akan memiliki pengetahuan yang lebih luas, lebih dalam, dan lebih baik. untuk dapat melakukan semua itu terdapat sejumlah kegiatan yang harus dilakukan yakni membandingkan, mengelompokan, melakukan induksi, menarik deduksi, menganalisis kesalahan atau kekeliruan, menciptakan dan menganalisis pengetahuan pendukung, membuat dan menganalisis pikiran kedepan, dadn melakukan proses abstraksi.
Dimensi keempat : menurut para ahli psikologi kognitif proses belajar yang efektif ditandai olelh tampilnya individu yang dapat menggunakan pengetahuannya untuk melakukan pekerjaan dengan berhasil. Dengan kata lain bila seseorang yang telah belajar sesuatu ternyata tidak dapat menggunakan pengetahuan atau keterampilan yang telah dipelajarinya itu dengan baik sama saja yang bersangkutan tidak pernah belajar karena memang prilakunya tidak berubah.
Dimensi kelima : adalah kebiasaan berfikir produktif . dimensi ini merupakan muara dari proses dan hasil belajar karena itu dinilai sangatlah penting. Kebiasaan berfikir yang produktif adalah kebiasaan individu dalam menghadapi berbagai persoalan secara kritis, kreatif, teratur dan berdisiplin sehingga berhasil dalam melakukan berbagai tindakan yang bermakna. Seorang individu yang mempunyai kebiasaan berfikir produktif sebagai mana dikemukakan oleh Marzano dkk (1993) memiliki cirri-ciri sebagai berikut :
1. Berfilir jernih dan mencari kejernihan permasalahan
2. Berfikir terbuka dan lapang dada
3. Menghindarkan diri dari sifat emosional
4. Menyadari jalan pikiranya
5. Menilai efektifitas tindakan-tindakannya
6. Berupaya memperluas dan memperdalam pengetahuanya
7. Melibatkan diri secara intensif dan penuh komitmen dalam menjawab persoalan-persoalan yang dihadapinya
Dalam melihat proses belajar dan pembelajaran secara keseluruhan perlu diingat adanya sejumlah faktor yang berpengaruh yang oleh Sumadi Suryabrata (1971) dirinci sebagai berikut :
1. Faktor yang berasal dari luar diri pelajar baik yang termasuk kategori faktor non-sosial seperti lingkungan alam maupun faktor social seperti lingkungan masyarakat dan budaya baik yang nyata kehadiranya maupun yang hanya representasinya misalnya rekaman suaranya.
2. Faktor yang berasal dari dalam diri pelajar baik yang bersifat psikologis seperti kondisi jasmaniah, maupun yang bersifat psikologis atau kejiwaan seperti pikiran, perasaan, kemauan, minat dan sikap.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran


Tidak ada komentar:
Posting Komentar