Sabtu, 25 Februari 2012

Proposal PTK


A.    Judul  : ” Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT)  dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas VIID SMP Negeri 3 Kendari)”.

B.     Latar Belakang
Salah satu aspek yang sangat penting dalam proses perkembangan dan kemajuan suatu negara yaitu aspek pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu bentuk perwujudan kebudayaan yang dinamis dan syarat perkembangan. Oleh karena itu perubahan atau perkembangan pendidikan adalah hal yang  memang seharusnya sejalan dengan perubahan budaya kehidupan. Seiring dengan perkembangan dan kemajuan zaman, pendidikan menjadi salah satu kebutuhan masyarakat yang dianggap sangat penting . Namun cukup banyak permasalahan yang dihadapi dalam proses pemenuhan akan pendidikan, khususnya Indonesia yaitu masalah kualitas pendidikan.
Pembangunan di bidang pendidikan diarahkan untuk meningkatkan kualitas peserta didik sesuai dengan tuntutan kebutuhan pembangunan yang berwawasan budaya dan lingkungan melalui penataan, peningkatan, pengelolaan, evaluasi jenis dan jenjang pendidikan baik formal maupun informal dengan meningkatkan seluruh komponen pendidikan. Rendahnya mutu pendidikan merupakan salah satu masalah yang terus-menerus dicari solusinya. Ini disebabkan, karena hasil belajar siswa merupakan indikator tinggi rendahnya mutu pendidikan di suatu daerah. Tinggi rendahnya mutu pendidikan berkaitan erat dengan kualitas sumber daya manusia, sedangkan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi pasti dibutuhkan demi kemajuan suatu Negara.
Salah satu upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia adalah melalui proses pembelajaran di sekolah. Dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya pendidikan, guru merupakan sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan. Usaha meningkatkan kemampuan guru dalam belajar-mengajar, perlu pemahaman ulang. Mengajar tidak sekedar mengkomunikasikan pengetahuan agar dapat belajar, tetapi mengajar juga berarti usaha menolong  pelajar agar mampu memahami konsep-konsep dan dapat menerapkan konsep yang dipahami.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang menyelenggarakan proses belajar mengajar mempunyai peranan penting dalam pemberian pengetahuan dan keterampilan kepada anak didik. Peranan tersebut diharapkan dapat menghasilkan manusia-manusia yang berkualitas tinggi dibidang ilmu pengetahuan khususnya bidang mata pelajaran matematika.
Matematika sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah dinilai sangat memegang peranan penting karena matematika dapat meningkatkan pengetahuan siswa dalam berpikir secara logis, rasional, kritis, cermat, efektif, dan efisien. Oleh karena itu dipandang penting agar matematika dapat dikuasai sedini mungkin oleh para siswa, namun bidang studi matematika dianggap sebagai mata pelajaran yang kurang menarik, sukar dan membosankan sehingga hasil belajar matematika lebih rendah dari mata pelajaran lain.
Di SMP Negeri 3 Kendari misalnya dari hasil observasi dan diskusi yang dilakukan oleh peneliti dengan guru mata pelajaran matematika, pada tanggal 20 juli 2009 peneliti memperoleh informasi bahwa guru matematika menghadapi masalah, sehubungan dengan materi pembelajaran. Masalah yang dihadapi oleh guru tersebut berdasarkan hasil wawancara yaitu rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika diantaranya materi himpunan, salah satunya pada kelas VIID tahun pelajaran 2008/2009 hanya mencapai 5,5. Nilai rata-rata tersebut berada di bawah standar ketuntasan belajar berdasarkan ketentuan sekolah, yakni sebesar 6,5. Hasil belajar siswa yang rendah tersebut disebabkan karena proses pembelajaran siswa hanya menghafal konsep dan kurang mampu menggunakan konsep tersebut jika menemui masalah baru yang pada dasarnya penyelesaian masalah tersebut menggunakan konsep yang telah dipelajari.
Dari hasil pengamatan pada proses belajar mengajar dikelas guru hanya memberi informasi atau pengetahuan kepada siswa, dimana siswa hanya mendengarkan penjelasan guru dan kurang aktif dalam proses pembelajaran, sehingga berpengaruh pada rendahnya hasil belajar siswa. Guru matematika masih menggunakan model pembelajaran yang berfokus pada pembelajaran konsep yang bersifat hafalan. Selama ini proses pembelajaran berpusat atau terfokus pada guru, serta dalam pelaksanaannya guru memegang kendali, memainkan peran aktif, sedangkan siswa cenderung pasif dalam menerima informasi, pengetahuan dan keterampilan dari guru. Hal ini didukung dengan hasil wawancara oleh peneliti dengan beberapa siswa, dimana siswa merasa bahwa materi himpunan merupakan materi pembelajaran yang sulit dipahami. Sehingga siswa belajar dengan menghafal materi-materi yang diberikan oleh guru dan berakibat rendahnya hasil belajar siswa pada materi pembelajaran. Persoalannya sekarang adalah bagaimana menemukan cara yang terbaik untuk menyampaikan berbagai konsep pembelajaran sehingga siswa dapat berperan aktif dalam mengikuti proses belajar mengajar.
Untuk itu guru diharapkan dapat mengembangkan suatu model pembelajaran yang dapat memotivasi siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar. Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu cara yang dapat digunakan guru untuk mengatasi masalah di atas. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mengutamakan adanya kerja sama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Para siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk materi pelajaran yang telah ditentukan. Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat terlibat  secara aktif dalam proses berpikir dan dalam kegiatan-kegiatan belajar. Dalam hal ini sebagian besar aktifitas pembelajaran berpusat pada siswa, yakni mempelajari materi pelajaran serta berdiskusi untuk memecahkan masalah. Salah satu tipe dalam pembelajaran kooperatif yang dianggap peneliti dapat memotivasi siswa dalam peran aktif dalam proses belajar mengajar adalah model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT).
Model pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi poal interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik. Tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT  yaitu untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik, agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai latar belakang, dan untuk mengembangkan keterampilan siswa. Keterampilan yang dimaksud antara lain berbagai tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan sebagainya
Keunggulan/kelebihan model pembelajaran koperatif tipe NHT  yaitu
·         Terjadinya interaksi antara siswa melalui diskusi/siswa secara bersama dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.
·         Siswa pandai maupun siswa lemah sama -sama memperoleh manfaat melalui aktifitas belajar kooperatif.
·         Dengan bekerja secara kooperatif ini, kemungkinan konstruksi pengetahuan akan manjadi lebih besar/kemungkinan untuk siswa dapat sampai pada kesimpulan yang diharapkan.
·         Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan keterampilan bertanya, berdiskusi, dan mengembangkan bakat kepemimpinan.
Dengan melihat fenomena tersebut, peneliti bersama guru bermaksud mengadakan kerjasama dalam upaya memberikan solusi dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) dalam menyelesaikan soal himpunan. Model pembelajaran ini sangat cocok diterapkan pada pembelajaran matematika karena dalam mempelajari matematika, tidak cukup hanya dengan mengetahui dan menghafalkan konsep-konsep matematika tetapi juga dibutuhkan suatu pemahaman serta kemampuan menyelesaikan persoalan matematika dengan baik dan benar sehingga diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk mengadakan suatu penelitian tindakan kelas yang berjudul “Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT)  dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas VIID SMP Negeri 3 Kendari)”.
C.    Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang, maka masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: “Apakah hasil belajar siswa kelas VIID SMP Negeri 3 Kendari pada pokok bahasan himpunan dapat ditingkatkan melalui model pembelajaran kooperatif  tipe Numbered Heads Together (NHT) ?.
D.    Tujuan Penelitian
Sehubungan dengan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah untuk Meningkatkan hasil belajar matematika pada pokok bahasan himpunan melalui model pembelajaran kooperatif tipe NHT pada siswa kelas VIID SMP  Negeri 3  Kendari”.


E.     Manfaat Penelitian
1.      Bagi Siswa: diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada pokok bahasan himpunan melalui model pembelajaran kooperatif tipe NHT pada siswa kelas VIID SMP  Negeri 3  Kendari”.
2.      Bagi Guru: sebagai masukan bagi guru-guru matematika khususnya guru matematika  di SMP Negeri 3 Kendari agar bisa memilih model pembelajaran kooperatif tipe NHT sebagai salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan disekolah.
3.      Bagi Sekolah: memberikan sumbangan yang baik dalam rangka perbaikan pembelajaran khususnya pembelajaran matematika.
4.      Bagi Peneliti: sebagai pengalaman berharga bagi penulis dalam membuat karya ilmiah selanjutnya.
F.     Kajian Pustaka
1.      Hasil Belajar Matematika
            Dimyati dan Mudjiono dalam Munawar (2009) mengemukakan bahwa hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu dari sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar merupakan saat terseleksinya bahan pelajaran. Masih dalam Indra, hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar digunakan oleh guru untuk dijadikan ukuran atau kriteria dalam mencapai suatu tujuan pendidikan. Hal ini dapat tercapai bila siswa sudah memahami belajar dengan diiringi oleh perubahan tingkah laku yang lebih baik lagi. 
            Demaja (2004) juga mengemukakan bahwa hasil belajar merupakan gambaran tingkat penguasaan mahasiswa terhadap sasaran belajar pada topik bahasan yang dieksperimenkan, yang diukur dengan berdasarkan jumlah skor jawaban yang benar pada soal yang disusun sesuai dengan sasaran belajar. Bloom dalam Purwanto (1984: 43-45), membagi kemampuan dan tipe hasil belajar yang termasuk aspek kognitif menjadi enam, yaitu pengetahuan hafalan, pemahaman atau komprehensi, penerapan aplikasi, analisis sintesis, dan evaluasi. 
            Bloom dalam Nana Sudjana (1989:22) juga mengemukakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Horward Kingsley membagi tiga macam hasil belajar, yakni (a) keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan pengertian, (c) sikap dan cita-cita. Masing-masing jenis hasil belajar dapat diisi dengan bahan yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Sedangkan Gagne membagi lima kategori hasil belajar, Yakni (a) informasi verbal, (b) keterampilan intelektual, (c) Strategi kognitif, (d) sikap dan (e) keterampilan motoris.
            Dari beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan  bahwa hasil belajar adalah gambaran kemampuan siswa terhadap penguasaan materi yang telah terjadi dalam pengalaman belajarnya.
2.      Model Pembelajaran Kooperatif
            Slavin dalam Yasa (2008) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok, siswa dalam satu kelas dijadikan kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 5 orang untuk memahami konsep yang difasilitasi oleh guru. Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran dengan setting kelompok-kelompok kecil dengan memperhatikan keberagaman anggota kelompok sebagai wadah siswa bekerjasama dan memecahkan suatu masalah melalui interaksi sosial dengan teman sebayanya, memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang bersamaan dan ia menjadi nara sumber bagi teman yang lain. Jadi pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama diantara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri: 1) untuk menuntaskan materi belajarnya, siswa belajar dalam kelompok secara kooperatif, (2) kelompok dibentuk dari siswa-siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah, (3) jika siswa dalam kelas terdapat siswa yang terdiri dari beberapa ras, suku, budaya, jenis kelamin yangberbeda, maka diupayakan agar dalam tiap kelompok terdiri ras, suku, budaya, jenis kelamin yang berbeda pula, dan (4) penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok dari pada perorangan.
Ibrahim (2005:6-7) mengemukakan bahwa pada umumnya pembelajaran yang menggunakan model kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya; 2) kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah; 3) bilamana mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda; dan 4)penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.
            Ibrahim (2007:7-9) mengemukakan bahwa peran aktif siswa sangat diperlukan melalui kerja sama yang kompleks dalam suatu kelompok belajar, dimana dari aktifitas tersebut terdapat tiga tujuan dalam pembelajaran kooperatif yaitu : 1). Berkaitan dengan hasil belajar akademik pembelajaran kooperatif bertujuan untuk meningkatkan kenerja siswa dalam akademik. Banyak ahli berpendapat bahwa pendekatan pembelajaran kooperatif unggul dalam membantu siswa untuk memahami konsep-konsep yang sulit, termasuk konsep-konsep matematika, 2). Penerimaan terhadap keragaman dimana penerimaan yang luas terhadap orang yang berbeda menurut ras, budaya, kelas sosial, kemampuan maupun ketidak mampuan ; dan 3). Pengembangan keterampilan sosial yaitu untuk mengajarkan kepada siswa keterampilan kerja sama dan kolaborasi..
Selanjutnya Ibrahim (2000:10) mengemukakan bahwa tujuan utama pembelajaran kooperatif dalam kegiatan mengajar adalah: 1). Hasil belajar; 2). Penerimaan terhadap keragaman dan 3). Pengembangan keterampilan sosial.            
Dari beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar di mana siswa berada dalam kelompok kecil, saling membantu untuk memahami suatu pelajaran, memeriksa dan memperbaiki jawaban teman, serta kegiatan lainnya dengan tujuan mencapai hasil belajar tertinggi.
4.   Prinsip, Karateristik, Unsur dan Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif
            Faiq (2009) mengemukakan bahwa prinsip dasar dalam pembelajaran kooperatif sebagai berikut :
·         Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelomponya.
·         Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama.
·         Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.
·         Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi.
·         Setiap anggota kelompok (siswa) berbagai kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
·         Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
           Ibrahim (2000:6) mengemukakkan bahwa pembelajaran yang menggunakan model kooperatif memiliki karakteristik sebagai berikut : 1). Siswa berkerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya; 2). Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah; 3). Bila mana mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda; dan 4). Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok ketimbang individu.
            Selanjutnya, Lie dalam Awaliyah  (2008:10) mengemukakan bahwa model pembelajaran Cooperative Learning dimunculkan dalam 5 unsur  dimana setiap siswa harus: 1) Adanya saling ketergantungan positif antara anggota kelompok, 2) Adanya tanggung jawab perseorangan. Artinya, setiap anggota kelompok harus melaksanakan tugasnya dengan baik untuk keberhasilan tugas kelompok, 3) Adanya tatap muka, setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi, 4) Harus ada komunikasi antar anggota. Dalam hal ini siswa tentu harus dibekali dengan teknik berkomunikasi, 5) Adanya evaluasi proses kelompok, yang dijadwalkan dan dilaksanakan oleh guru.
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1 Langkah-langkah pembelajaran kooperatif
Langkah
Tingkah laku guru
1)      Menyampaikan tujuan dan motivasi  siswa


2)      Menyajikan informasi


3)      Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok belajar



4)      Membimbing kelompok bekerja dan belajar

5)      Evaluasi



6)      Memberikan penghargaan
1. Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa dalam belajar
2. Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
3. Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
 4. Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengajarkan tugas-tugas mereka.
5. Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasekan hasil kerjanya.

6. Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar indifidu dan kelompok
                                                                                                (Ibrahim, 2000:10)
5.   Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT)
Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang memprioritaskan pada kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sebenarnya, pembelajaran kooperatif merupakan ide lama. Sejak awal abad pertama, seorang filosof berpendapat bahwa dalam mengajar seseorang harus memiliki pasangan/teman dalam Ibrahim (2000:12).
Selanjutnya, Nurhadi dalam Awaliyah (2008:12-14) mengemukakan bahwa langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe NHT sebagai pengganti pertanyaan seluruh kelas. langkah-langkah tersebut kemudian dikembangkan menjadi enam langkah sesuai dengan kebutuhan penelitian ini, enam langkah tersebut adalah sebagai berikut:
Langkah 1: Persiapan
Dalam langkah ini guru mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pengajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.
Langkah 2: Pembentukan Kelompok
Dalam pembentukan kelompok, disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT yaitu guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok atau tim yang beranggotakan 4 orang dan memberi mereka nomor sehingga tiap siswa dalam kelompok tersebut memiliki nomor berbeda. Kelompok-kelompok ini terdiri dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Selain itu, dipertimbangkan kriteria heterogenitas lainnya seperti jenis kelamin dan ras. Dalam penelitian ini menggunakan nilai tes awal untuk dijadikan dasar dalam menentukan masing-masing kelompok. Sebelum kegiatan belajar-mengajar dimulai, guru memperkenalkan keterampilan kooperatif dan menjelaskan tiga urutan keterampilan dasar pembelajaran kooperatif, yaitu: 1)tetap berada dalam kelas; 2) mengajukan pertanyaan dalam kelompok sebelum mengajukan pertanyaan pada guru; dan 3) memberikan umpan balik terhadap ide-ide serta menghindari saling mengkritik sesama siswa dalam kelompok.
Langkah 3: Diskusi Masalah
Pada langkah diskusi masalah, Guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok, setiap siswa berpikir bersama untuk mengembangkan dan meyakinkan bahwa setiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Pertanyaan dapat bervariasi dari yang bersifat spesifik sampai yang bersifat umum.

Langkah 4: Memanggil Nomor Anggota
Dalam langkah ini, guru menyebut satu nomor para siswa dari tiap pihak kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas. Kemudian mempresentasikan di depan kelas, siswa dari kelompok lain menanggapi.
Langkah 5: Memberi Kesimpulan
Dalam langkah ini, guru memberikan kesimpulan atau jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan.
Langkah 6: Memberikan Penghargaan
Pada langkah ini, guru memberikan penghargaan berupa kata-kata pujian, tepuk tangan dan nilai yang lebih tinggi kepada kelompok yang hasil belajarnya lebih baik.
6.   Konsep Pembelajaran Himpunan
a.         Pengertian Himpunan
              Secara Intuitif, sebuah himpunan adalah setiap daftar, kumpulan atau kelas obyek-obyek yang didefenisikan secara jelas. Obyek-obyek dalam himpunan disebut anggota-anggota dari himpunan. Perhatikan beberapa contoh berikut ini :
1.      Bilangan-bilangan 1,3,7 dan 10.
2.      Penduduk bumi
3.      Huruf-huruf hidup alfabet : a,i,u,e dan o.
              Contoh bernomor ganjil mendaftarkan anggota-anggotanya secara jelas, dan contoh 2 tidak jelas apakah suatu obyek tertentu anggota himpunan atau tidak.
b.      Notasi Himpunan
Himpunan-himpunan akan selalu dinyatakan dengan biasanya dinyatakan dengan huruf besar A, B, X,Y, . . .
Elemen-elemen dalam himpunan ini elalu dinyatakan dengan huruf kecil a,b,x,y,. . . ., jika suatu obyek x adalah elemen dari himpunan A, maka ditulis x  A.Dan jika y bukan elemen dari A, maka ditulis y A. Himpunan kosong adalah himpunan yang tidak mengandung elemen-elemen dan dinotasikan dengan Æ.
c.       Subhimpunan
Jika semua anggota himpunan A juga anggota himpunan B, maka A didebut bagian dari B dan ditulis A B. B disebut himpunan bagian sejati dari A jika  B himpunan bagian dari A dan B tidak sama dengan A dan ditulis B A. B subhimpunan A ditulis B  A. Himpunan A dan B adalah sama yaitu A = B jika dan hanya jika AB dan B  A . Dalam setiap pemakaian teori himpunan, semua himpunan yang ditinjau adalah subhimpunan dari sebuah himpunan tertentu. Himpunan itu kita sebut himpunan semesta. Kita nyatakan himpunan ini dengan U. Jika A dan B tidak memiliki anggota-anggota yang dimiliki bersama, maka kita katakan A dan B terpisah.
d.      Diagram Venn-Euler
1.      Andaikan A B, A B, maka A dan B dapat dinyatakan dengan salah satu diagram berikut :
                       
2.      Andaikan A dan B tidak dapat diperbandingkan, maka A dan B dapat dinyatakan dengan sebelah kanan jika mereka terpisah dan diagram sebelah kiri jika mereka tidak terpisah.
                         
e.       Operasi Himpunan
Perpaduan himpunan-himpunan A dan B adalah himpunan dari semua elemen-elemen yang termasuk dalam A atau B atau keduanya. Kita nyatakan dengan
A B = { x | x A atau x B }.
Perpotongan himpunan-himpunan A dan B adalah himpunan dari elemen-elemen yang termasuk di A dan termasuk di B. Kita nyatakan dengan
A B = { x | x A dan x B }.
Selisih himpunan-himpunan A dan B adalah himpunan dari elemen-elemen yang termasuk di A tetapi tidak termasuk di B. Kita nyatakan dengan
A – B = { x | x A dan x B }. ( Lipschutz, 1989: 1-18 )
G.    Penelitian Yang Relevan
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Syafrin (2008: 49) menyimpulkan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam pokok bahasan bilangan berpangkat dan bentuk akar pada siswa kelas IXG SMP Negeri 5 Kendari hasil belajar matematika pada siswa dapat ditingkatkan.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Awaliyah (2008: 37) menyimpulkan bahwa efektifitas pendekatan pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP Negeri 8 Kendari pada pokok bahasan Persamaan Linear Satu Variabel.
H.    Kerangka Berpikir
Untuk meningkatkan hasil belajar siswa terhadap pelajaran matematika, guru harus mampu menciptakan suasana belajar yang optimal dengan menerapkan berbagai model pembelajaran.
Tidak mudah untuk membawa para siswa agar dapat memahami materi dalam pembelajaran matematika. Apalagi dalam pembelajaran matematika selama ini, di anggap sebagai mata pelajaran yang kurang menarik, sukar dan membosankan sehingga hasil belajar matematika cenderung lebih rendah dibanding dengan mata pelajaran lain.
Salah satu materi yang dirasakan masih sangat sulit dipahami serta dirasakan sulit pula diajarkan oleh guru dalam pembelajaran yaitu mengenai materi himpunan. Para guru diharapkan dapat menggunakan suatu model pembelajaran yang nantinya dapat mengarahkan siswa pada suatu pembelajaran yang bermakna sesuai  dengan kemampuan berpikir siswa serta berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, sehingga kelak siswa tidak hanya belajar sampai pada tahap mampu mempelajari pada tingkat ingatan tetapi juga mampu memahami dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Model pembelajaran yang diperlukan untuk membantu siswa menguasai konsep pembelajaran yang diajarkan yaitu dengan menggunakan konsep pembelajaran yang membuat siswa mampu menyelesaikan permasalahannya sendiri, antara lain adalah model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Model pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan model pembelajaran yang membagi jumlah siswa dalam beberapa kelompok yang beranggotakan 4–5 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda. Kelompok yang di bentuk mempunyai tingkat kemampuan beragam ada yang pandai, sedang dan ada pula tingkat kemampuannya kurang. Setiap anggota kelompok diberi tanggung jawab untuk memecahkan masalah atau soal yang telah diberi sesuai dengan nomor-nomor yang telah ada. Anggota kelompok saling menjelaskan kepada sesama teman anggota kelompoknya, sehingga semua anggota kelompok mengetahui jawaban dari semua soal yang diberikan. Selanjutnya, guru menyebut satu nomor para siswa dari tiap kelompok dan yang telah disebut nomornya harus menyiapkan jawabannya untuk seluruh kelas dan mempresentasikan di depan kelas. Dengan demikian, setiap siswa akan mempunyai tingkat kemampuan yang relatif sama terhadap pelajaran matematika yang dipelajarinya dan pada gilirannya hasil yang diperoleh akan lebih baik.
I.       Prosedur Penelitian
1.      Setting
Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2009/2010 di Kelas VIID SMP Negeri 3 Kendari.
2.      Rencana Tindakan
Prosedur penelitian tindakan kelas ini direncanakan terdiri dari tiga siklus, dengan tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai pada faktor-faktor yang diselidiki. Dari hasil observasi awal berupa wawancara langsung dengan guru bidang studi matematika, ditetapkan bahwa tindakan yang akan dipergunakan untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada materi himpunan adalah model pembelajaran kooperatif tipe NHT.
Adapun pelaksanaan tindakan tersebut mengikuti prosedur tindakan kelas yaitu:
a.       Perencanaan
b.      Pelaksanaan tindakan
c.       Observasi dan evaluasi
d.      Refleksi
Secara rinci prosedur penelitian ini dijabarkan sebagai berikut :
a.       Perencanaan : kegiatan yang dilakukan ;
1.      Membuat skenario pembelajaran
2.       Membuat lembar observasi untuk melihat bagaimana kondisi belajar          mengajar di kelas ketika diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.
3.      Menyiapkan sumber pelajaran meliputi LKS yang diperlukan dalam     membuat siswa memahami materi pelajaran yang akan diajarkan.
4.      Membuat alat evaluasi untuk melihat apakah prestasi belajar matematika siswa dengan menggunakan model pembelajaran yang digunakan dapat ditingkatkan.
5.      Pembuatan jurnal sebagai hasil refleksi diri.
b.      Pelaksanaan tindakan : kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah melaksanakan skenario yang telah dibuat.
c.       Observasi/evaluasi : pada tahap ini dilakukan observasi terhadap pelaksanaan tindakan serta melakukan evaluasi.
d.      Refleksi : pada tahap ini, hasil yang diperoleh dalam tahap observasi dan evaluasi dikumpulkan dan dianalisis. Kemudian dari hasil tersebut akan dilihat apakah memenuhi target yang diterapkan pada indikator kerja, jika belum maka penelitian akan dilanjutkan pada siklus berikutnya dan kelemahan-kelemahan/kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus diperbaiki pada siklus berikutnya.


3.      Jenis Data dan Cara Pengambilannya
  1. Sumber data; yaitu siswa dan guru.
  2. Jenis data; jenis data yang didapatkan adalah data kuantitatif berupa tes hasil belajar dan data kualitatif berupa pelaksanaan pembelajaran yang diambil melalui lembar observasi dan jurnal.
  3. Cara pengambilan data;
a.       Data tentang kondisi pelaksanaan pembelajaran kaitannya dengan menggunakan lembar observasi.
b.      Data tentang hasil belajar matematika diambil dengan menggunakan tes.
c.       Data tentang refleksi diri dengan menggunakan jurnal.
4.      Indikator Kinerja
Keberhasilan penelitian ini, dilihat dari dua segi, yaitu dari segi proses dan dari segi hasil (nilai) siswa.
Dari segi proses, tindakan dikategorikan berhasil bila minimal 85% proses pelaksanaan tindakan telah sesuai dengan skenario pembelajaran.
Dari segi hasil, tindakan dikategorikan berhasil bila minimal siswa memperoleh nilai 6,5 (ketentuan sekolah) yaitu 85 %.

5.      Rancangan dan Model Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

       








 



       
                                               Tim pelatihan Proyek PGSM dalam Alam (2009: 25).
            Rancangan model Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang tercantum diatas merupakan gambaran secara umum.






DAFTAR PUSTAKA  
Alam, Sangka. 2008. Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika siswa kelas III SD Negeri 14 Kendari Pada Pokok Bahasan Pengenalan Pecahan Melalui Pendekatan RME (Realistic Mathematic Education). Universitas Haluoleo. Kendari.

Awaliyah, Hilda. 2008. Efektivitas Pendekatan Pembelajaran Kooperatif Model Numbered Head Together (NHT) Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VII SMP Negeri 8 Kendari Pada Pokok Bahasan Persamaan Linear Satu Variabel (PLSV). Universitas Haluoleo. Kendari.
Bandono.(2002). Keefektifan Proses Pembelajaran. Diambil 27 juli 2009 dari http:beta.tnial.mil.id/cakrad_cetak.php?id=74

Demaja, Christiana.(2004). Pengaruh Penggunaan Bahan dan Gaya Belajar Terhadap Hasil Belajar. Diambil 27 juli 2009 dari http://re-searchengines.com/christiana6-04.html

Hadis, Abdul. 2006. Psikologi Dalam Pendidikan. Alfabeta: Bandung.

Hudojo, Herman. 1990. Strategi Mengajar Belajar Matematika. IKIP Malang:             Malang.

Ibrahim, M. dkk., 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.

Lipschutz, Seymour. 1989. Teori Himpunan. Erlangga : Jakarta.

Munawar, Indra.(10 Juni 2009). Hasil Belajar (Pengertian dan Definisi). Diambil 27 juli 2009 dari http://indramunawar.blogspot.com/2009/06/hasil-belajar-pengertian-dan-definisi.html

Ngalim, Purwanto, M. 1984. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Remaja Rosdakarya: Bandung.

Riduwan. 2004. Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula. Alfabeta: Bandung.

Simanjuntak, Lisnawaty. Dkk. 1992. Metode Mengajar Matematika 1. Rineka Cipta: Bandung.

Sudjana, Nana. 1989. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Remaja Rosdakarya: Bandung.
Syafrin. 2008. Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) Dapat Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa IXG SMP Negeri 5 Kendari Pada Pokok Bahasan Bilangan Berpangkat dan Bentuk Akar. Universitas Haluoleo: Kendari.

Usman, Moh. Uzer. 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Remaja Rosdakarya Offset: Bandung.

Walgito, Bimo. 1980. Pengantar Psikologi Umum. Andi Offset: Yogyakarta.

Whandi.(2007). Pengertian Belajar. Diambil 27 juli 2009 dari http://www.whandi.net
/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=41

Yasa, Doantara.(10 Mei 2008). Metode Pembelajaran Kooperatif. Diambil 27 juli 2009 dari http://ipotes.wordpress.com/2008/05/10/metode-pembelajaran-kooperatif/
















Rabu, 15 Februari 2012

contoh makalah teknologi informasi dan komunikasi


contoh makalah teknologi informasi dan komunikasi

Makalah TIK – Bagi anda yang sedang mencari makalah TIK PLUS mau download maka anda mengunjungi website yang tepat. berikut adalah makalah TIK yang siap untuk anda download
 makalah teknologi informasi dan komunikasi

makalah teknologi informasi dan komunikasi – Welcome to my Personal Blog by isomwebs There are many topics about Indonesia like indonesia tourism, tourist attractions, art dan culture of indonesia, cheap hotels, indonesian news and entertainment, top celebrities, automotive, education, healthy, etc. All topics on here such as makalah teknologi informasi dan komunikasi just for personal notes by blog author and this topic is about makalah teknologi informasi dan komunikasi.

to get any more information for this related topics of HP dual sim card you can do a search in the category at contoh surat, This topic is about makalah teknologi informasi dan komunikasi by isomwebs.com


BAB I
PENDAHALUAN
DAMPAK PENGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI
A. Latang Belakang Masalah
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dalam kehidupan kita sehari –hari sekarang ini sangat pesat sekali, baik mencari informasi maupun menerima informasi sehingga dapat membantu manusia memudahkan permasalahan yang sedang dihadapinya. Pada era teknologi informasi dan komunikasi sekarang ini, komunikasi merupakan hal yang sangat penting sekali. Komunikasi sangat dibutuhkan dalam kehidupan seseorang , bisnis, pendidikan.
Di lembaga pendidikan siswa disekolah mendapat pelajaran teknologi informasi dan komunikasi . seperti mempelajari computer dan internet. didalam pengoperasian internet dan computer ini penulis akan membahas dampak pengunaan teknologi informasi dan komunikasi.
B. Tujuan
Dalam pengunaan alat – alat teknologi informasi dan komunikasi ini, diminta kepada sipenguna tidak salah dalam mengunakannya karena apapun dengan mudah bisa kita terima. Untuk itu penulis akn membahan masalah dampk positif dan negative pengunaan teknologi informasi dan komunikasi.
BAB II
PEMBAHASAN
Dampak Positif Pengunaan Teknologi Informasi dan Kumunikasi
Perkembangan teknologi informasi dan kumunikasi dapat meningkatkan kehidupan manusia, yang berarti keberadaan teknologi infomasi dan komunikasi dapat memberi mamfa’at atau keuntungan bagi kehidupan manusia. Ketika mengunakan telephon, menonton televisi, mengerjakn tugas dengan computer dan mengunakan fasilitas internet, sehingga apapun masalah kita sangat mudah kita atasi.
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi memungkinkan dan memudahkan manusia untuk dapat saling berhubungan dengan cepat, mudah dan terjangkau. Informasi dari belahan dunia lain dengan mudah dapat diterima dengan cepat , aktivitas komunikasi antar dua tempat yang berjauhan menjadi lebih mudah dan cepat dengan mudah mengunakan alat – alat teknologi komunikasi dan komunikasi.
Dalam bidang pendidikan, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi berpotensi untuk membangun masyarakat yang demokratis, hal ini ditandai adanya hubungan guru dengan siswa , guru dan guru, dan antara guru,siswa, orang tua dan masyarakat dalam kaitannya dengan proses pendidikan dalam dan diluar sekolah .
Dampak Negatif Pengunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi
Perkembangan teknologi informasi dan komuniikasi sering diangap sebagai kebaikan atau kemudahan bagi para pengunanya. Namun, ketika nalar, kemampuan dan iman kita belum memadai atau tidak siap untuk mengikuti perkembangan tersebut, apakah kemudahan atau kebaikan yang dijanjikan bisa menjadi kenyatan dan bisa dinikmati.
Perkembangan teknologi informasi dan kumunikasi tidak hanya menimbulkan efek positif yang kontruktif (membangun), tetapi juga menimbulkan efek negative yang destruktif ( merusak). Efek negative tersebut disebabkan oleh perkembangan keimanan dan ketaqwaan (imtaq) tak seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Penguasaan iptek bahkan digunakan untuk mengali prosedur –prosedur yang jujur sehingga lahirlah cyber crime ( pembajakan kartu kredit). Selain itu, penguasaan iptek malah digunkan untu memuaskan hasrat duniawi sehingga lahirlah cyber porn ( penyebaran aktivitas penyimpangan seksual dalam bentuk teks, gambar, maupun audio visual).
Adapun efek negative lainnya dari pengunaan teknologi informasi dan komunikasi adalah semakin maraknya aktivitas pembajakan program computer dan VCD, CD, DVD aktifitas tersebut merupaan tindak kriminalitas yang diatur oleh undang –undang karena termasuk kegiatan ilegal yang secara financial dapat merugikan pihak lain.
BAB III
P E N U T U P
1. Kesimpulan
Penguna teknologi informasi dan komunikasi dalam pemamfaatannya hendaknya didasari oleh nilai – nilai keimanan dan ketaqwaan, etika dan estitika, dan kearipan para pemakainya. Hanya mengembangakan nilai –nilai seperti itu, dampak negative dari pemafaatan teknologi informasi dan kumunikasi khususnya internet dapat diminimalkan terutama bagi generasi muda yang masih dalam masa pertumbuhan dan pencarian indentitas diri.
2. Saran -saran
a. Dalam pengunaan alat TIK diminta kepada penguna yang dibawah umur, harus ada bimbingan dari orang tua dan siswa disekolah bimbingan dari guru
b. Bagi para penguna yang lain gunakanlah sesuai dengan kegunaan nya masing masing
c. Khusus bagi lembaga pendidik untuk dapat memblokir situs –situs yang tidak boleh dibuka.
Daftar pustaka
Lia Kuswanto. 2006 dkk Mahir Berkomputer
Nugraha,Aries Setya.2004. Teknologi Informasi dan Kumunikasi