MAKALAH :
PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
(PERKEMBANGAN DAN PERTUMBUHAN SECARA EMOSIONAL)

OLEH
ANGGOTA KELOMPOK VII:
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2010
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkah dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Perkembangan Emosional Peserta Didik walaupun dalam bentuk yang sederhana ini.
Dalam penyusunan makalah ini tidak sedikit hambatan dan rintangan yang dihadapi, namun dengan bantuan dari berbagai pihak hambatan tersebut dapat diatasi. Oleh karena itu melalui kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih
Penulis sadari makalah ini masih jauh dari sempurna. Saran dan kritik dibutuhkan demi kesempurnaan tulisan ini. Wallahu a’lam.
Kendari, September 2010
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Dalam dunia pendidikan dan pengajaran, yang menjadi fokus perhatian adalah peserta didiknya, baik itu di Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Pendidikan Menengah, ataupun Perguruan Tinggi dan pendidikan untuk orang dewasa lainnya.
Dalam kaitannya dengan pendidikan peserta didik, guru perlu mengetahui benar sifat-sifat serta karakteristik peserta didiknya agar dapat memberikan pembinaan dengan baik dan tepat sehingga dapat meningkatkan potensi kecerdasan dan kemampuan anak didiknya sesuai dengan kebutuhan anak dan harapan orangtua pada umunya. Untuk mencapai tujuan tersebut, pimpinan sekolah dan guru harus mengenal betul perkembangan fisik dan mental serta emosional anak didiknya.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah “Bagaimana tahap-tahap perkembangan emosional pada manusia sebagai peserta didik?”
1.3. Tujuan dan Manfaat
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui tahap-tahap perkembangan emosional manusia sebagai peserta didik.
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Sebagai referensi bagi orangtua dalam memantau perkembangan emosional anaknya.
2. Sebagai referensi bagi guru dalam membrikan pengajaran dan pendidikan kepada peserta didiknya.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian
Pada umumnya perbuatan kita sehari-hari disertai oleh perasaan-perasaan tertentu, yaitu perasaan senang atau perasaan tidak senang. Perasaan senang atau tidak senang yang selalu menyertai / perbuatan-perbuatan kita sehari-hari itu. disebut warna efektif. Warna efektif ini kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah atau samar-samar saja.
Perbedaan antara perasaan dan emosi tidak dapat dinyatakan dengan tegas, karena keduanya merupakan suatu kelangsungan kualitatif yang tidak jelas batasnya. Pada suatu saat tertentu, suatu warna efektif dapat dikatakan sebagai perasaan, tetapi juga dapat dikatakan sebagai emosi. Jadi, sukar sekali kita mendefinisikan emosi. Oleh karena itu, yang dimaksudkan dengan emosi di sini bukan terbatas pada emosi atau perasaan saja, tetapi meliputi setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai dengan warna efektif, baik pada tingkat yang lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang (mendalam).
Perbedaan antara perasaan dan emosi tidak dapat dinyatakan dengan tegas, karena keduanya merupakan suatu kelangsungan kualitatif yang tidak jelas batasnya. Pada suatu saat tertentu, suatu warna efektif dapat dikatakan sebagai perasaan, tetapi juga dapat dikatakan sebagai emosi. Jadi, sukar sekali kita mendefinisikan emosi. Oleh karena itu, yang dimaksudkan dengan emosi di sini bukan terbatas pada emosi atau perasaan saja, tetapi meliputi setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai dengan warna efektif, baik pada tingkat yang lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang (mendalam).
Pertumbuhan dan perkembangan emosi, seperti juga pada tingkah laku lainnya, ditentukan oleh proses pematangan dan proses belajar. Seorang bayi yang baru lahir sudah dapat menangis, tetapi ia harus mencapai tingkat kematangan tertentu sebelum ia dapat tertawa. Kalau anak itu sudah lebih besar, maka ia akan belajar bahwa menangis dan tertawa dapat digunakan untuk maksud-maksud tertentu pada situasi-situasi tertentu.
Pada bayi yang baru lahir, satu-satunya emosi yang nyata adalah kegelisahan yang nampak sebagai ketidaksenangan dalam hal yang baru,sehingga bayi menangis dan meronta.
Pengaruh kebudayaan besar sekali terhadap perkembangan emosi, karena dalam tiap-tiap kebudayaan diajarkan cara menyatakan emosi yang konvensional dan khas dalam kebudayaan yang bersangkutan, sehingga ekspresi emosi tersebut dapat dimengerti oleh orang-orang lain dalam kebudayaan yang sama. Klineberg pada tahun 1938 menyelidiki literatur-literatur Cina dan mendapatkan berbagai bentuk ekspresi emosi yang berbeda dengan cara-cara yang ada di dunia Barat. Ekspresi-ekspresi itu antara lain :
1. Menjulurkan lidah kalau keheranan,
2. bertepuk tangan kalau kuatir,
3. Menggaruk kuping dan pipi kalau bahagia.
Yang juga dipelajari dalam perkembangan emosi adalah obyek – obyek dan situasi-situasi yang menjadi sumber emosi. Seorang anak yang tidak pernah ditakut-takuti di tempat gelap, tidak akan takut kepada tempat gelap.
Warna efektif pada seseorang mempengaruhi pula pandangan orang tersebut terhadap obyek atau situasi di sekelilingnya. Ia dapat suka atau tidak menyukai sesuatu, misalnya ia suka kopi, tetapi tidak suka teh. Ini disebut preferensi dan merupakan bentuk yang paling ringan daripada pengaruh emosi terhadap pandangan seseorang mengenai situasi atau obyek di lingkungannya. Dalam bentuknya yang Iebih lanjut, preferensi dapat menjadi sikap, yaitu kecenderungan untuk bereaksi secara tertentu terhadap hal-hal tertentu.
2.2. Teori-Teori Emosi
Menurut Hurlock, masa bayi mempunyai emosi yang berupa kegairahan umum, sebelum bayi bicara ia sudah mengembangkan emosi heran,malu, gembira, marah dan takut. Perkembangan emosi sangat dipengaruhi oleh faktor kematangan dan belajar. Pengalaman emosional sangat tergantung dari seberapa jauh individu dapat mengerti rangsangan yang diterimanya.
2.2.1. Pola-Pola Emosi yang Lazim pada Bayi
a. Kemarahan
Perangsang yang lazim membangkitkan kemarahan bayi adalah campur tangan terhadap gerakan – gerakan mencoba – cobanya, menghalangi keinginannya, tidak mengizinkannya mengerti sendiri, dan tidak memperkenankannya melakukan apa yang dia inginkan. Lazimnya, tanggapan marah mengambil bentuk menjerit, meronta – ronta, menendangkan kaki, mengibaskan tangan, memukul atau menendag apa saja yang ada didekatnya. Pada tahun kedua bayi dapat juga melonjak – lonjak, berguling – guling dan menahan nafas.
b. Ketakutan
Perangsang yang paling mungkin membangkitkan ketakutan bayi adalah suara keras : Orang, barang, dan situasi asing, ruangan gelap, tempat tinggi, dan binatang. Perangsang yang terjadi tiba – tiba atau tidak terduga, yang tidak lazim bagi bayi biasanya membangkitkan rasa takut juga. Tanggapan rasa takut yang bisa terjadi pada masa bayi terdiri dari upaya menjauhkan diri dari perangsang yang menakutkan dengan cara merengek, menangis dan menahan nafas.
c. Rasa Ingin Tahu
Setiap mainan atau barang baru dan tidak biasa adalah dapat merangsang bayi untuk keingintahuan,bayi mudah mengungkap rasa ingin tahunya terutama melalui ekspresi wajah yang menegangkan otot muka, membuka mulut, menjulurkan lidah, kemudian bayi akan menangkap barang yang membangkitkan rasa ingin tahunya tersebut, memengang, membolak – balik, melempar atau memasukkannya kemulutnya.
d. Kegembiraan
Kegembiraan dirangsang oleh kesenangan fisik. Pada bulan kedua atau ketiga,bayi mulai banyak bereaksi pada orang yang mengajaknya bercanda, mengelitik, mengamati dan memperhatikannya. Bayi mengungkapkan rasa senang atau kegembiraannya dengan tersenyum, tertawa, dan menggerakkan lengan serta kakinya. Bila rasa senang sangat besar, bayi berdekut, berdeguk, atau bahkan berteriak dengan gembira dan semua gerak tubuh menjadi makin intensif.
e. Afeksi
Setiap orang yang mengajak bayi bermain, mengurus kebutuhan jasmaninya, memperlihatkan afeksi akan merupakan perangsang untuk afeksi meraka. Mainan dan hewan kesayangan keluarga mungkin juga menjadi objek cinta bagi mereka. Umumnya bayi menepuk dan mencium barang atau orang yang dicintai.
2.2.2. Emosi Pada Awal Masa Kanak – Kanak
a. Amarah
Pada masa ini penyebab amarah yang paling umum adalah pertengkaran mengenai permainan atau tidak tercapainya keinginan, dan serangan yang hebat dari anak lain. Anak mengungkapkan rasa marah dengan ledakan amarah yang ditandai dengan menangis, berteriak, menggertak, menendang, melompat – lompat atau memukul.
b. Takut
Kebiasaan, meniru dan ingatan tentang pengalaman yang kurang menyenangkan berperan penting dalam menimbulkan rasa takut, misalnya : cerita – cerita, gambar – gambar, acara radio,televisi yang memutar film – film dengan unsur yang menakutkan. Pada mulanya reaksi anak terhadap rasa takut adalah panik, kemudian menjadi lebih khusus seperti lari, menghindar, bersembunyi dan menghindari situasi yang menakutkan.
C. Cemburu
Pada masa ini anak menjadi muda cemburu bila ia mengira bahwa minat dan perhatian orang tua beralih kepada orang lain didalam keluarga, biasanya adik yang baru lahir. Anak yang lebih muda dapat mengungkapkan kecemburuannya secara terbuka atau menunjukkannya dengan kembali berprilaku seperti anak kecil, mengompol, pura – pura, sakit atau menjadi nakal. Perilaku ini semua bertujuan untuk menarik perhatian.
d. Ingin tahu
Anak mempuyai rasa ingin tahu terhadap hal – hal yang baru dilihat, juga mengenai tubuhnya sendiri dan tubuh orang lain. Reaksi pertama adalah dalam bentuk penjelajahan sensomotorik, sebagai akibat dari tekanan sosial dan hukuman, ia bereaksi dengan bertanya.
e. Iri hati
Anak sering iri hati mengenai kemampuan atau baran yang dimiliki orang lain. Iri hati ini diungkapkan dalam bermacam – macam cara yang paling umum adalah mengeluh tentang barangnya sendiri, dengan mengungkapkan keinginan untuk memiliki barang seperti dimiliki orang lain atau dengan mengambil benda – benda yang menimbulkan iri hati.
f. Gembira
Anak – anak merasa gembira apabila bisa membohongi orang lain dan berhasil melakukan tugas yang dianggap sulit. Anak mengungkapkan kegembiraannya dengan tersenyum ,tertawa,bertepuk tangan, melompat – lompat, memeluk atau orang yang membuatnya bahagia.
g. Sedih
Anak merasa sedih karena kehilangan segala sesuatu yang dicintai yang dianggap penting bagi dirinya, apakah itu orang, binatang , atau benda mati seperti mainan. Secara khas anak mengungkapkan kesedihannya dengan menangis dan dengan kehilangan minat terhadap kegiatan normalnya, termasuk makan.
h. Kasih sayang
pada masa ini anak sudah belajar mulai mencintai orang, binatang, atau benda yang menyenangkan. Ia mengungkapkan kasih sayang secara lisan bila sudah besar, tetapi ketika masih kecil anak menyatakannya secara fisik dengan memeluk, menepuk, dan mencium objek kasih sayangnya.
2.2.3. Pola Emosi Pada Masa Remaja
Menurut Harlock, masa remaja dianggap sebagai masa ”badai dan tekanan” dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Perubahan remaja yang demikian ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
· Pengaruh kondisi sosial baru yang remaja hadapi memberi pengaruh besar sebagai konsekwensi dari usaha penyesuaian diri pada pola perilaku baru dan harapan sosial yang baru. Oleh karena itu sering kali emosi remaja bersifat meledak-ledak, tidak terkendali dan tampak irasional
· Masa irasional. Remaja memandang kehidupan dari kacamata dirinya, ia melihat dirinya dan orang lain sebagaimana yang ia inginkan bukan apa adanya.
· Emosi yang belum matang sebagai bagian dari transisi perubahan dari masa kanak-kanak dan puber. Perubahan fisik yang cepat saat puber seperti tumbuhnya jerawat, membesarnya bagian tubuh tertentu kadang kurang disikapi positif oleh remaja dengan menganggap dirinya tidak sesuai dengan standar budaya yang berlaku sehingga menjadi sumber kegelisahan
· Mencari identitas. Kuatnya pengaruh kelompok sebaya pada sikap, pembicaraan, minat, penampilan dan perilaku lebih besar daipada pengaruh keluarga. Misalnya mereka terbiasa berbicara keras agar dapat brpeluang lebih besar diakui sebagai bagian kelompoknya.
Pada hakekatnya sikap memberontak remaja jika tidak sesuai dengan norma adalah salah maka harus kita luruskan bersama. Untuk itu perlu disadari dalam proses mengarahkan ananda perlu mempertimbangkan proses tumbuh kembangnya sebagai berikut:
1. Proses penataan nilai sosial baru, artinya remaja mulai memilih teman sebaya berdasarkan minat dan nilai-nilai yang sama yang dapat saling mengerti dan membuat mereka nyaman kepadanya ia dapat mempercayakan masalah-masalah yang tidak dapat dibicarakan dengan orang tua atau guru.
2. Proses kematangan berfikir. Remaja belajar bagaimana mensikapi dirinya, dengan bertambahnya pengalaman pribadi dan pengalaman sosial dan meningkatnya kemampuan berfikir rasional, mereka akan mensikapi kehidupan ini lebih realistik.
3. Perubahan relegius, maksudnya banyak anak mulai mempertanyakan konsep dan keyakinan baik itu agama atau norma-norma yang berlaku di masyarakat saat kanak-kanak, mereka mulai belajar memahami hakekat agama itu.
2.2.4. Pola Emosi pada Orang Dewasa
Mereka yang memasuki usia muda (18-30 tahun) memiliki kebutuhan untuk memiliki keintiman dan melakukan hubungan seksual. Mereka berusaha menghindari perasaan terasing, yang sebagai hasilnya mereka berjuang untuk mendapatkan cinta dan penghargaan. Mereka belajar bahwa cinta dan penghargaan dapat membuat mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka berusaha untuk mandiri termasuk di orang tuanya. Pada masa ini dapat terjadi krisis seperempat usia atau kebingungan identitas, ketidakamanan terhadap masa depan, ketidakamanan terhadap prestasi, evaluasi kembali terhadap hubungan intim, kekecewaan terhadap pendapat, nostalgia masa sekolah, kecenderungan untuk memegang pendapat, kebosanan terhadap interaksi social, stress terhadap keamanan financial, dan kesepian. Hal ini terjadi setelah mereka lulus dari pendidikan dan harus mengahadapi dunia nyata. Interaksi emosional yang intensif pada remaja, pada masa ini menjadi lebih halus dan lebih pribadi.
Setelah mencapai awal 30-an, mereka umumnya menjadi lebih tenang. Mereka yang lebih berhasil mengatasi krisis sebelumnya, telah memiliki investasi keuangan dan emosi untuk hidup mereka. Umumnya mereka telah membentuk keluarga.
Memasuki usia 40-an, mereka dapat mengalami krisis pertengahan. Pada usia ini mereka melewati masa di mana mereka berusaha untuk meraih prestasi hidup. Kondisi ini lebih banyak memengaruhi laki-laki dari pada perempuan.
Memasuki usia lanjut mereka menagalami penurunan kondisi fisik, sehingga banyak yang mulai mengakhiri karier pekerjaan mereka. Mereka yang dapat menerima dirinya akan mencapai integritas kepribadian mereka lebih dapat menghargai keterbatasan dan nilai-nilai kemanusiaan. Namun, jika mereka gagal dalam kehidupan periode sebelumnya, mereka dapat merasakan perasaan tidak berharga dan putus asa.
2.3 PENGGOLONGAN EMOSI
Membedakan satu emosi dari emosi lainnya dan menggolongkan emosi-emosi yang sejenis ke dalam satu golongan atau satu tipe adalah sangat sukar dilakukan karena hal-hal yang berikut ini:
1. Emosi yang sangat mendalam (misalnya sangat marah atau sangat takut) menyebabkan aktivitas badan yang sangat tinggi, sehingga seluruh tubuh diaktifkan, dan dalam keadaan seperti ini sukar untuk menentukan apakah seseorang sedang takut atau sedang marah.
2. Satu orang dapat menghayati satu macam emosi dengan berbagai cara. Misalnya, kalau marah ia mungkin gemetar di tempat, tetapi lain kali mungkin ia memaki-maki, dan lain kali lagi ia mungkin lari.
3. Nama yang umumnya diberikan kepada berbagai jenis emosi biasanya didasarkan pada sifat rangsangnya bukan pada keadaan emosinya sendiri. Jadi, “takut” adalah emosi yang timbul terhadap suatu bahaya, “marah” adalah emosi yang timbul terhadap sesuatu yang menjengkelkan.
4. Pengenalan emosi secara subyektif dan introspektif, juga sukar dilakukan karena selalu saja akan ada pengaruh dari lingkungan.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa perkembangan emosional manusia dapat dibedakan menjadi 4 tahap yaitu
1. Masa bayi, yang memiliki kecenderungan untuk marah, takut, gembira, ingin tahu, dan afeksi.
2. Masa kanak-kanak, yang memiliki kecenderungan untuk marah, takut, gembira, ingin tahu, iri hati, sedih, dan memiliki rasa kasih sayang.
3. Masa remaja yang memiki kecenderungan untuk mencari jati diri.
4. Masa dewasa yang sudah memiliki pola pikir yang sudah mapan dan kebutuhan biologis.
3.2. Saran
1. Sebaiknya para orangtua benar-benar memantau perkembangan emosional anak-anaknya agar kelak anaknya tidak memiliki perilaku emosional yang menyimpang
2. Guru perlu mengetahui benar sifat-sifat anak didiknya agar dapat memberikan pembinaan yang baik dan tepat sehingga dapat meningkatkan potensi kecerdasan dan kemampuan anak didiknya sesuai dengan kebutuhan anak.
DAFTAR PUSTAKA
Sumantri, Mulyani. 2007. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Universitas Terbuka.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar