A. Sejarah
Proses keperawatan merupakan sebuah metode yang diterapkan dalam praktek keperawatan. Ia juga merupakan sebuah konsep dengan pendekatan problem solving yang memerlukan ilmu, teknik, dan keterampilan interpersonal untuk memenuhi kebutuhan klien/keluarganya.
Proses keperawatan pertama kali dijelaskan oleh Hall pada tahun 1955. Selanjutnya proses keperawatan ini mengalami perkembangan sebagai berikut:
| TAHUN | TOKOH | PERKEMBANGAN |
| 1967 | Yura & Walsh | Penjabaran proses keperawatan menjadi 4 proses, yaitu: pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi |
| 1973 | Publikasi proses keperawata semakin meningkat | |
| ANA | Menggunakan proses keperawatan sebagai pedoman dalam pengembangan standar praktek keperawatan. | |
| 1974 | Bloch | Memberi tambahan proses keperawatan menjadi 5 tahapan yaitu: pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi. |
| 1975 | Roy | |
| 1976 | Aspinal |
Seiring berkembangnya waktu, proses keperawatan telah dianggap sebagai dasar hukum praktek keperawatan dan telah digunakan sebagai kerangka konsep kurikulum keperawatan. Bahkan saat ini definisi dan tahapan keperawatan telah digunakan sebagai dasar pengembangan praktek keperawatan, sebagai kriteria dalam program sertifikasi, dan standar aspek legal praktek keperawatan.
B. Definisi
Proses keperawatan dapat didefenisikan berdasarkan tiga dimensi yaitu: tujuan, organisasi, dan property/karaktersitik.
1. Tujuan
Tujuan proses keperawatan secara umum adalah membangun kerangka konsep untuk memenuhi kebutuhan individu klien, keluarga, dan masyarakat.
Sedangkan menurut Yura dan walsh (1983), proses keperawatan merupakan suatu tahapan desain tindakan yang digunakan untuk memenuhi tujuan keperawatan, antara lain:
· Mempertahankan kondisi kesehatan optimal pasien
· Melakukan tindakan untuk mengembalikan kondisi pasien menjadi normal kembali
· Memfasilitasi kualitas kehidupan yang maksimal berdasarkan kondisi pasien sehingga ia bisa mencapai derajat kehidupan yang baik
2. Organisasi
Berdasarkan dimensi organisasi, proses keperawatan dikelompokan menjadi 5 tahap, yaitu: pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Kelima tahapan ini merupakan proses terorganisir yang mengatur pelaksanaan asuhan keperawatan berdasarkan rangkaian pengelolaan klien secara sistematik
3. Karekteristik
Terdapat 6 karakteristik dari proses keperawatan itu, antara lain: (1) tujuan, (2) sistematik; (3) dinamik; (4) interaktif; (5) Fleksibel; dan (6) Teoritis. Penjabaran dari karakteristik tersebut dapat dilihat, berikut ini:
1) Tujuan : memiliki tujuan jelas yaitu untuk meningkatkan kualitas asuhan keperawatan pada klien
2) Sistematik: menggunakan pendekatan yang terorganisir dalam mencapai tujuan. Sehingga dapat meningkatkan kualitas pelayanan serta menghindari terjadinya kesalahan
3) Dinamik: proses keperawatan dilakukan secara berkesinambungan. Serta ditujukan untuk mengatasi perubahan respon klien yang diidentikan melalui hubungan antara perawat dengan klien
4) Interaktif: proses keperawatan memiliki dasar hubungan yaitu hubungan timbal balik antara perawat, klien, keluarga, dan tenaga kesehatan lain.
5) Fleksibel: fleksibilitas proses keperawatan ini dapat dilihat dalam dua konteks, yaitu:
a. Dapat diadopsi dalam praktek keperawatan dalam situasi apapun, baik dalam kaitannya dengan individu, keluarga, atau masyarakat
b. Tahapannya dapat dilakukan berurutan sesuai dengan persetujuan kedua belah pihak.
6) Teoritis : setiap langkah dalam keperawatan selalu berdasarkan pada konsep ilmu keperawatan.
Berdasarka karakter teoritis ini, maka asuhan keperawatan pada klien hendaknya menekankan pada tiga aspek penting, antara lain
a. Humanistic : memandang dan memperlakukan klien sebagai manusia
b. Holistic : intervensi keperawatan harus memenuhi kebutuhan dasar manusia secara utuh, yakni bio-psiko-sosio-spiritual.
c. Care: asuhan keperawatan yang diberikan hendaknya berlandaskan pada standar praktek keperawatan dank ode etik keperawatan.
C. Implikasi
Penerapan proses keperawatan memberikan dampak atau implikasi terhadap profesi keperawatan, klin dan perawat itu sendiri.
1. Profesi
Secara professional, profesi keperawatan melalui 5 tahapan menyajikan lingkup praktik keperawatan yang secara terus menerus mendefinisikan perannya baik terhadap klien maupun profesi kesehatan lainnya.
Dengan demikian perawat bekerja melakukan sesuatu bukan hanya sekedar melaksanakan perintah dokter, melainkan melalui perencanaan keperawatan yang matang.
2. Klien
Proses keperawatan mendorong klien dan keluarga berpartisifasi aktif dan terlibat ke dalam 5 tahapan proses tersebut.
Selama pengkajian, klien menyediakan informasi yang dibutuhkan, selanjutnya memberikan validasi diagnosa keperawatan, dan menyediakan umpan balik selama evaluasi.
3. Perawat
Beberapa hal yang dapat diperoleh dari proses keperawatan, antara lain:
a. Meningkatkan kepuasan dan perkembangan profesionalisasi perawat
b. Meningkatkan hubungan antara klien dengan perawat.
c. Meningkatkan pengembangan kreativitas dalam penyelesaian masalah klien.
D. Teori yang mendasari
1. Teori sistem
Sistem terdiri dari: tujuan proses dan isi
a. Tujuan adalah sesuatu yang harus dilaksanakan, sehingga dapat memberikan arah pada sistem.
b. Proses adalah sesuatu yang berfungsi dalam memenuhi tujuan yang hendak dicapai
c. Isi merupakan bagian atau elemen yang membentuk sebuah sistem.
Keterkaitan antara teori sistem dengan proses keperawatan dapat dijelaskan dalam gambar berikut ini:
| OUTPUT |
| INPUT |
| FEEDBACK |
| | |
| | |
Input merupakan kumpulan data hasil pengkajian data beserta permasalahannya, yang diikut dengan perencanaan dan tindakan keperawatan yang tepat. Sedangkan output menunjukan hasil dari tindakan yang telah dilaksanakan. Selanjutnya feedback merupakan proses pengkomunikasian output terhadap sistem sehingga dapat dievaluasi dan memberikan arah untuk pelaksanaan selanjutnya.
Dalam sistem keperawatan dijelaskan bahwa perawat sebagai individu dan klien (individu, keluarga, masyarakat) melakukan interaksi dan saling mempengaruhi satu sama lain.
2. Teori kebutuhan manusia
Teori ini memandang bahwa manusia merupakan bagian integral yang berintegrasi satu sama lain dalam memotivasi untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya (fisiologis, kasih sayang, harga diri, dan aktualisasi diri.
Pada dasarnya kebutuhan dasar manusia merupakan terpenuhinya tingkat kepuasan agar manusi bisa mempertahankan hidupnya dan perawatlah yang berperan untuk memenuhinya.
Kerangka kerja pada teori ini menggambarkan penerapan proses keperawatan selalu berfokus pada pemenuhan kebutuhan individu yang unik dan merupakan bagian integral dari keluarga dan masyarakat.
3. Teori persepsi
Perubahan dalam pemenuhan kebutuhan manusia sangat dipengaruhi oleh persepsi individu yang berbeda antara satu dengan yang lain. Hal ini akan membawa konsekwensi terhadap permasalahan keperawatan yang ditegakan pada setiap individu. Meskipun sumber masalah yang dihadapinya sama, akan tetapi setiap individu memiliki persepsi dan respon yang berbeda-beda. Misalnya, walaupun kedua pasien sama-sama terkena penyakit DM, akan tetapi permasalahan keperawatan yang dihadapi tidak mesti sama.
Untuk memahami arti persepsi, maka seseorang harus mengadakan pendekatan melalui karakteristik individu yang mempersepsikan dalam situasi yang memunyai makna bagi kita. Makna di sini mengandung arti penjabaran dari persepsi, ingatan, dan tindakan. Dengan demikian persepsi memiliki arti penting dalam kehidupan, dimana kira bisa mengumpulkan data dari informasi tentang diri sendiri, kebutuhan manusia, dan lingkungan sekitar.
Kondisi ini sesuai dengan tahapan dalam proses keperawatan dimana perawat dan klien mengumpulkan data. Selanjutnya dari data tersebut akan diambil makna tertentu yang dapat digunakan dalam melakukan asuhan keperawatan. Proses tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
4. Teori informasi dan komunikasi
Salah satu tujuan asuhan keperawatan adalah untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi pasien. Oleh karena itulah perawat dituntut untuk memiliki pengetahuan tentang konsep dan teori sebagai dasar interaksi dalam memahami informasi serta menjalin komunikasi yang efektif.
Kemampuan tersebut meliputi kemampuan mencari data, menyeleksi, memproses, dan memutuskan sebuah tindakan berdasarkan informasi tersebut.
Proses keperawatan merupakan sebuah siklus karena memerlukan modifikasi pengkajian ulang, perencanaan ulang, memperbaharui tindakan, dan mengevaluasi ulang. Dengan demikian asuhan keperawatan memerlukan informasi yang akurat, dan untuk melakukannya, seorang perawat membutuhkan kemampuan dalam melakukan komunikasi.
5. Teori pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah
Setiap tindakan yang rasional selalu disertai dengan keputusan atau pilihan. Sedangkan setiap pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah menuntut kesedian orang yang terlibat agar mau menerima hal-hal baru dan perbedaan dari kondisi yang ada. Kesenjangan yang terjadi merupakan masalah yang membutuhkan jawaban serta solusi secara tepat.
Salah satu tujuan dari keperawatan adalah menyelesaikan masalah yang dihadapi klien. Melaui pendekatan proses keperawatan masalah-masalah yang dihadapi dapat diidentifikasi secara tepat dan keputusan dapat diambil secara akurat.
| PENERIMAAN |
| FEEDBACK |
| PENGIRIM |
| PERENCANAAN |
| TINDAKAN |
| | |
| | |
Perbandingan antara pengambilan keputusan dan proses keperawatan dapat terlihat dalam tabel berikut ini:
| Proses Pengambilan Keputusan | Proses Keperawatan |
| Pengumpulan data | Pengkajian: · Pengumpulan data · Interpretasi |
| Identifikasi masalah | Diagnosa keperawatan |
| Perencanaan | Perencanaan |
| · Penentuan tujuan · Identifikasi solusi | · Penentuan tujuan · Rencana tindakan |
| Implementasi | Implementasi |
| Evaluasi dan revisi proses | Evaluasi dan modifikasi |
E. Standar praktek keperawatan professional
Standar prakek keperawatan nasional merupakan pedoman bagi perawat Indonesia, baik generalis maupun spesialis di seluruh tatanan pelayanan kesehatan (RS, Puskesmas, dll) dalam melakukan asuhan keperawatan melalui pendekatan proses keperawatan.
Standar praktek keperawatan di Indonesia, sebagaimana telah dijabarkan oleh PPNI, mengacu pada tahapan dalam proses keperawatan yakni terdiri dari 5 standar antara lain: (1) pengkajian; (2) diagnosa keperawatan; (3) perencanaan; (4) implementasi; dan (5) evaluasi.
1. Standar I: Pengkajian Keperawatan
Perawat mengumpulkan data tentang status kesehatan klien secara akurat, menyeluruh, singkat, dan berkesinambungan.
Kriteria Proses:
a. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan mempelajari data penunjang (hasil lab, catatan klien lainnya)
b. Sumber data terdiri dari sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer berasal dari pengkajian langsung terhadap klien. Sedangkan sumber data sekunder berasal dari selain klien, misalnya: keluarga atau orang terkait, tim kesehatan, rekam medis, dan catatan lainnya.
c. Data yang dikumpulkan, berfokus untuk mengidentifikasi:
1) Status kesehatan klien saat ini
2) Status kesehatan klien masa lalu
3) Status fisiologis-psikologis-sosial-spiritual
4) Harapan terhadap tingkat kesehatan yang optimal
5) dll
2. Standar II : Diagnosa Keperawatan
Perawat melakukan analisis terhadap data-data yang dikumpulkan selama pengkajian untuk menegakan Diagnosa Keperawatan.
Kriteria Proses:
a. Proses diagnosa keperawatan terdiri dari: analisis, interpretasi data, identifikasi masalah klien, dan perumusan diagnosa keperawatan.
b. Komponen diagnosa keperawatan terdiri dari:
· P (Problem) à masalah
· E (Etiology) à penyebab
· S (Symptom) à tanda dan gejala
Akan tetapi terkadang hanya terdiri dari P dan E saja.
c. Validasi diagnosa dilakukan dengan cara bekerjasama dengan klien dan berusaha untuk dekat dengan klien atau petugas kesehatan lain.
d. Melakukan pengkajian ulang dan merevisi diagnosa keperawatan berdasarkan data terbaru.
3. Standar III : Perencanaan
Perawat membuat rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah dan meningkatkan kesehatan klien.
Kriteria Proses:
a. Perencanan terdiri dari penetapan:
· prioritas masalah
· tujuan
· rencana tindakan
b. Melibatkan klien dalam membuat perencanaan keperawatan
c. Perencanaan bersifat individual sesuai dengan kondisi dan kebutuhan klien saat itu
d. Mendokumentasikan rencana keperawatan
4. Standar IV : Implementasi
Perawat mengimplementasikan tindakan yang telah diidentifikasi dalam asuhan keperawatan.
Kriteria Proses:
a. Bekerjasama dengan klien dalam pelaksanaan tindakan keperawatan
b. Berkolaborasi dengan profesi kesehatan lain untuk meningkatkan kesehatan lain
c. Melakukan tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah kesehatan klien
d. Melakukan supervisi terhadap tenaga pelaksana keperawatan dibawah tanggungjawabnya
e. Menjadi coordinator pelayanan & advocator bagi klien dalam mencapai tujuan perawatan
f. Menginformasikan kepada klien tentang status kesehatan dan fasilitasi-fasilitasi pelayanan kesehatan yang ada.
g. Memberikan pendidikan pada klien & keluarga mengenai konsep keterampilan asuhan diri serta membantu klien memodifikasi lingkungan yang digunakan
h. Mengkaji ulang & merevisi pelaksanaan tindakan keperawatan berdasarkan respon klien.
5. Standar V : Evaluasi
Perawat mengevaluasi kemajuan klien terhadap tindakan dalam pencapaian tujuan dan merevisi data dasar serta perencanaan.
Kriteria Proses:
a. Menyusun perencanaan evaluasi hasil terhadap intervensi secara komprehensif, tepat waktu dan terus menerus.
b. Menggunakan data dasar dan respon klien dalam mengukur perkembangan ke arah pencapaian tujuan
c. Memvalidasi dan menganalisa data baru dengan teman sejawat dank lien
d. Bekerjasama dengan klien dan keluarga untuk memodifikasi rencana asuhan keperawatan
e. Mendokumentasi hasil evaluasi dan memodifikasi perencanaan
Reference
Nursalam, 2001, Proses & Dokumentasi Keperawatan: Konsep dan Praktek, Salemba Medika, Jakarta.
Tahap tahap proses keperawatan
Proses/Asuhan Keperawatan
Proses keperawatan merupakan cara yang sistematis yang dilakukan oleh perawat bersama pasien dalam menentukan kebutuhan asuhan keperawatan dengan melakukan pengkajian, menentukan diagnosis, merencanakan tindakan yang akan dilaksanakan, melaksanakan tindakan serta mengevaluasi hasil asuhan yang telah diberikan dengan berfokus pada pasien , berorientasi pada tujuan pada setiap tahap saling terjadi ketergantungan dan saling berhubungan . (A. Azis Alimul Hidayat, 2004)
Proses keperawatan merupakan suatu sistem dalam merencanakan pelayanan Asuhan keperawatan yang mempunyai empat tahapan, yaitu pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Alternatif lain dari proses keperawatan terdiri dari lima tahab yang meliputi pengkajian, diagnosa, perencanaan , implementasi dan evaluasi (H.Lismidar, dkk, 2005)
Pengkajian
Merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri dari atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau masalah klien. (Keliat, 1998)
Data yang didapatkan bisa di kelompokkan menjadi dua macam yaitu data subjektif, merupakan data yang didapatkan melalui wawancara oleh perawat kepada pasien, keluarga atau orang – orang yang dekat dengan pasien dan data objektif, merupakan data yang ditemukan secara nyata. Data ini didapat melalui observasi atau pemeriksaan langsung oleh perawat (Depkes, 2000).
Diagnosa keperawatan
Adalah penilaian klinis tentang respon aktual dan potensial dari individu, keluarga atau masyarakat terhadap masalah kesehatan/proses kehidupan. (Carpenito,1995. dalam Keliat, 1998)
Diagnosa keperawatan merupakan keputusan klinis mengenai seseorang, keluarga atau masyarakat sebagai akibat dari masalah kesehatan atau proses kehidupan yang aktual atau potensial. (NANDA 1990, dalam Hidayat, 2004)
Perencanaan
Merupakan suatu proses penyusunan berbagai intervensi keperawatan yang dibutuhkan untuk mencegah,menurunkan atau mengurangi masalah- masalah pasien . Perencanaan ini merupakan langkah ketiga dalam membuat suatu proses keperawatan. (Hidayat, 2004).
Rencana tindakan keperawatan terdiri dari tiga aspek yaitu tujuan umum, tujuan khusus dan rencana tindakan keperawatan. Tujuan umum berfokus pada penyelesaian masalah dari diagnosa tertentu. Tujuan umum dapat dicapai jika serangkaian tujuan khusus telah tercapai. (Keliat, 1998)
Implementasi
Merupakan langkah keempat dalam tahap proses keperawatan dengan melaksanakan berbagai strategi keperawatan (tindakan keperawatan) yang telah direncanakan dalam rencana tindakan keperawatan. Dalam tahab ini perawat harus mengetahui berbagai hal diantaranya bahaya- bahaya fisik dan perlindungan pada pasien, teknik komunikasi, kemampuan dalam prosedur tindakan, pemahaman tentang hak – hak pasien serta dalam memahami tingkat perkembangan pasien. Dalam pelaksanaan rencana tindakan terdapat dua jenis tindakan, yaitu tindakan jenis mandiri dan tindakan kolaborasi. (Hidayat, 2004).
Evaluasi
Adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada klien.Evaluasi dilakukan terus menerus pada respon pasien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. Evaluasi dapat dibagi dua yaitu evalusi proses atau formatif dilakukan setiap selesai melaksanakan tindakan, evaluasi hasil atau sumatif dilakuakan dengan membandingkan respon pasien pada tujuan khusus dan umum yang telah ditentukan. (Keliat, 1998).
KONSEP DASAR PROSES KEPERAWATAN
March 9, 2010 by mirzal tawi
Sejarah Proses Keperawatan
Proses keperawatan mulai dikenal di Indonesia sekitar tahun 1980-an. Perawat yang dididik sebelum tahun tersebut pada umumnya belum mengenal proses keperawatan karena kurikulum di pendidikan belum mengajarkan metode tersebut. Proses keperawatan mulai dikenal di pendidikan keperawatan Indonesia yaitu dalam Katalog Pendidikan Diploma III Keperawatan yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 1984.
Diluar negeri istilah proses keperawatan diperkenalkan pada tahun 1955 oleh Lidya Hall, dan sejak tahun tersebut para pakar keperawatan mendiskripsikan proses keperawatan secara bervariasi. Pada awal perkembangannya, proses keperawatan mempunyai tiga tahap, kemudian empat tahap dan pada saat ini proses keperawatan mempunyai lima tahap. Proses lima tahap pertama diperkenalkan pada tahun 1967 oleh Western Interstate Commision of Higher Education (WICHE) yang meliputi: persepsi, komunikasi, interpretasi, intervensi, dan evaluasi. Pada tahun yang sama para staf pengajar,Yura.H dan Walsh di Catholic University of American mangusulkan metode empat tahap, meliputi: pengkajian, perencanaan, intervensi dan evaluasi (Craven & Hirnle, 2000). Pada tahun 1973, American Nurse’s Association (ANA) menerbitkan standars of Nursing Practice dan juga National Council of State Boards of Nursing ( 1982 ) yang terdiri dari lima tahap, meliputi: pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi (Kozier et al., 1995).
Proses keperawatan mulai dikenal di Indonesia sekitar tahun 1980-an. Perawat yang dididik sebelum tahun tersebut pada umumnya belum mengenal proses keperawatan karena kurikulum di pendidikan belum mengajarkan metode tersebut. Proses keperawatan mulai dikenal di pendidikan keperawatan Indonesia yaitu dalam Katalog Pendidikan Diploma III Keperawatan yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 1984.
Diluar negeri istilah proses keperawatan diperkenalkan pada tahun 1955 oleh Lidya Hall, dan sejak tahun tersebut para pakar keperawatan mendiskripsikan proses keperawatan secara bervariasi. Pada awal perkembangannya, proses keperawatan mempunyai tiga tahap, kemudian empat tahap dan pada saat ini proses keperawatan mempunyai lima tahap. Proses lima tahap pertama diperkenalkan pada tahun 1967 oleh Western Interstate Commision of Higher Education (WICHE) yang meliputi: persepsi, komunikasi, interpretasi, intervensi, dan evaluasi. Pada tahun yang sama para staf pengajar,Yura.H dan Walsh di Catholic University of American mangusulkan metode empat tahap, meliputi: pengkajian, perencanaan, intervensi dan evaluasi (Craven & Hirnle, 2000). Pada tahun 1973, American Nurse’s Association (ANA) menerbitkan standars of Nursing Practice dan juga National Council of State Boards of Nursing ( 1982 ) yang terdiri dari lima tahap, meliputi: pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi (Kozier et al., 1995).
Proses keperawatan terus berkembang dan kemudian istilah Nursing Diagnosis mulai diperkenalkan dalam literatur-literatur keperawatan. Pada tahun 1973, Gebbie dan Levin dari St.Louis University School of Nursing membantu dalam menyelenggarakan konferensi pertama tentang klasifikasi diagnosa keperawatan di Amerika.
Pada tahun 1982, terbentuk North American Nursing Diagnosis Association (NANDA) yang setiap dua tahun mengadakan konferensi tentang klasifikasi diagnosa keperawatan (Potter & Perry, 1997).
Pada saat ini proses keperawatan telah berkembang dan diterapkan di berbagai tatanan pelayanan kesehatan di Indonesia, seperti rumah sakit, klinik-klinik, Puskesmas, perawatan keluarga, perawatan kesehatan masyarakat, dan perawatan pada kelompok khusus. Namun secara umum penerapan proses keperawatan belum optimal dan belum menggambarkan pemecahan masalah secara ilmiah oleh perawat, karena pada dasarnya hal ini tidak terlepas dari sumber daya keperawatan yang ada dan dukungan institusi.
Pengertian Proses Keperawatan
Banyak pengertian atau definisi yang dikemukakan oleh para ahli keperawatan tentang proses keperawatan, diantaranya adalah menurut Nettina (1996) yang menyatakan bahwa proses keperawatan adalah sesuatu yang disengaja, dengan pendekatan pemecahan masalah untuk menemukan kebutuhan keperawatan pasien dalam pelayanan kesehatan. Meliputi pengkajian (pengumpulan data), diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi, serta menggunakan modifikasi mekanisme umpan balik untuk meningkatkan upaya pemecahan masalah.
Banyak pengertian atau definisi yang dikemukakan oleh para ahli keperawatan tentang proses keperawatan, diantaranya adalah menurut Nettina (1996) yang menyatakan bahwa proses keperawatan adalah sesuatu yang disengaja, dengan pendekatan pemecahan masalah untuk menemukan kebutuhan keperawatan pasien dalam pelayanan kesehatan. Meliputi pengkajian (pengumpulan data), diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi, serta menggunakan modifikasi mekanisme umpan balik untuk meningkatkan upaya pemecahan masalah.
Proses merupakan serangkaian kegiatan yang direncanakan atau serangkaian operasional untuk mencapai hasil yang diharapkan. Proses keperawatan adalah metode yang sistematik dan rasional dalam merencanakan dan memberikan pelayanan keperawatan kepada individu. Tujuannya untuk mengidentifikasi status kesehatan klien, kebutuhan atau masalah kesehatan aktual atau risiko, membuat perencanaan sesuai dengan kebutuhan yang telah diidentifikasi dan melaksanakan intervensi keperawatan spesifik sesuai dengan kebutuhan (Kozier et al. 1995). Sedangkan Clark (1992), mendefinisikan proses keperawatan sebagai suatu metode/ proses berpikir yang terorganisir untuk membuat suatu keputusan klinis dan pemecahan masalah.
Demikian juga dengan Yura dan Walsh (1988), menyatakan bahwa proses keperawatan adalah tindakan yang berurutan, dilakukan secara sistematik untuk menentukan masalah klien, membuat perencanaan untuk mengatasinya, melaksanakan rencana tersebut atau menugaskan orang lain untuk melaksanakannya dan mengevaluasi keberhasilan secara efektif terhadap masalah yang diatasi.
Tujuan
Tujuan dari penerapan proses keperawatan pada tatanan pelayanan kesehatan adalah:
1.Untuk mempraktekkan suatu metoda pemecahan masalah dalam praktek keperawatan.
2.Sebagai standar untuk praktek keperawatan.
3.Untuk memperoleh suatu metoda yang baku, sistematis, rasional, serta ilmiah dalam memberikan asuhan keperawatan.
4.Untuk memperoleh suatu metoda dalam memberikan asuhan keperawatan yang dapat digunakan dalam segala situasi sepanjang siklus kehidupan.
5.Untuk memperoleh hasil asuhan keperawatan yang bermutu.
Tujuan
Tujuan dari penerapan proses keperawatan pada tatanan pelayanan kesehatan adalah:
1.Untuk mempraktekkan suatu metoda pemecahan masalah dalam praktek keperawatan.
2.Sebagai standar untuk praktek keperawatan.
3.Untuk memperoleh suatu metoda yang baku, sistematis, rasional, serta ilmiah dalam memberikan asuhan keperawatan.
4.Untuk memperoleh suatu metoda dalam memberikan asuhan keperawatan yang dapat digunakan dalam segala situasi sepanjang siklus kehidupan.
5.Untuk memperoleh hasil asuhan keperawatan yang bermutu.
Kemampuan Perawat dan Proses Keperawatan
Dalam melaksanakan proses keperawatan seorang perawat harus memiliki persyaratan kemampuan sebagai berikut:
Dalam melaksanakan proses keperawatan seorang perawat harus memiliki persyaratan kemampuan sebagai berikut:
1.Kecakapan intelektual, yang memungkinkan perawat mampu untuk membuat keputusan dan berpikir kritis dalam memecahkan masalah klien
2.Kecakapan dalam perilaku dan hubungan antar manusia, memudahkan perawat dalam menciptakan hubungan baik dengan klien, keluarga, dan anggota tim kesehatan lainnya. Disini sangat dituntut pada kemampuan berkomunikasi secara terapeutik dan berperilaku.
3.Kecakapan dalam kemampuan teknis keperawatan, merupakan kunci keberhasilan dalam memberikan asuhan keperawatan, mulai dari pengkajian, merumuskan diagnosa keperawatan, menyusun rencana keperawatan, melaksanakan tindakan dan prosedur keperawatan secara menyeluruh meliputi kebutuhan bio-psiko-sosio-spiritual klien serta mengevaluasi hasil tindakan keperawatan.
2.Kecakapan dalam perilaku dan hubungan antar manusia, memudahkan perawat dalam menciptakan hubungan baik dengan klien, keluarga, dan anggota tim kesehatan lainnya. Disini sangat dituntut pada kemampuan berkomunikasi secara terapeutik dan berperilaku.
3.Kecakapan dalam kemampuan teknis keperawatan, merupakan kunci keberhasilan dalam memberikan asuhan keperawatan, mulai dari pengkajian, merumuskan diagnosa keperawatan, menyusun rencana keperawatan, melaksanakan tindakan dan prosedur keperawatan secara menyeluruh meliputi kebutuhan bio-psiko-sosio-spiritual klien serta mengevaluasi hasil tindakan keperawatan.
Manfaat Proses Keperawatan
Penerapan proses keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan klien akan memberikan manfaat-manfaat sebagai berikut:
1.Meningkatkan mutu pelayanan keperawatan.
Dengan tersedianya pola pikir yang logis, ilmiah, sistematis, dan terorganisir dalam memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif kepada klien tentunya akan mempercepat proses penyembuhan, terhindar dari kelalaian dan malpraktek, dengan demikian pelayanan keperawatan yang diterima oleh klien merupakan pelayanan yang bermutu dan dapat dipertanggung-jawabkan.
Penerapan proses keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan klien akan memberikan manfaat-manfaat sebagai berikut:
1.Meningkatkan mutu pelayanan keperawatan.
Dengan tersedianya pola pikir yang logis, ilmiah, sistematis, dan terorganisir dalam memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif kepada klien tentunya akan mempercepat proses penyembuhan, terhindar dari kelalaian dan malpraktek, dengan demikian pelayanan keperawatan yang diterima oleh klien merupakan pelayanan yang bermutu dan dapat dipertanggung-jawabkan.
2.Pengembangan keterampilan intelektual dan teknis bagi tenaga keperawatan.
Pelaksanaan proses keperawatan dalam merawat klien akan memberikan kesempatan bagi perawat untuk mengembangkan berbagai pengetahuan dan keterampilan serta pengalaman kerjasama dengan teman sejawat, klien, dan keluarganya.
Pelaksanaan proses keperawatan dalam merawat klien akan memberikan kesempatan bagi perawat untuk mengembangkan berbagai pengetahuan dan keterampilan serta pengalaman kerjasama dengan teman sejawat, klien, dan keluarganya.
3.Meningkatkan citra profesi keperawatan.
Dengan tersedianya pola pikir yang logis, ilmiah, sistematis, dan terorganisir dalam memberikan asuhan keperawatan tentunya klien akan menerima suatu pelayanan keperawatan yang bermutu. Pelayanan keperawatan yang bermutu dapat meningkatkan citra profesi keperawatan.
Dengan tersedianya pola pikir yang logis, ilmiah, sistematis, dan terorganisir dalam memberikan asuhan keperawatan tentunya klien akan menerima suatu pelayanan keperawatan yang bermutu. Pelayanan keperawatan yang bermutu dapat meningkatkan citra profesi keperawatan.
4.Meningkatkan peran dan fungsi keperawatan dalam pengelolaan asuhan keperawatan.
Dengan melaksanakan tahap-tahap dalam proses keperawatan berarti melaksanakan fungsi-fungsi pengelolaan yang dimulai dari pengkajian masalah, merencanakan asuhan keperawatan, pengorganisasian kegiatan keperawatan, menggerakkan tenaga keperawatan, menilai serta mengontrol asuhan keperawatan yang diberikan dalam mencapai tujuan pelayanan keperawatan yang telah ditetapkan.
Dengan melaksanakan tahap-tahap dalam proses keperawatan berarti melaksanakan fungsi-fungsi pengelolaan yang dimulai dari pengkajian masalah, merencanakan asuhan keperawatan, pengorganisasian kegiatan keperawatan, menggerakkan tenaga keperawatan, menilai serta mengontrol asuhan keperawatan yang diberikan dalam mencapai tujuan pelayanan keperawatan yang telah ditetapkan.
5.Pengakuan otonomi keperawatan.
Masyarakat akan mengakui otonomi dari profesi keperawatan bila asuhan keperawatan yang diberikan dengan suatu metode yang didasari oleh tanggung jawab dan tanggung gugat berdasarkan kode etik profesi dan standar praktek keperawatan.
Masyarakat akan mengakui otonomi dari profesi keperawatan bila asuhan keperawatan yang diberikan dengan suatu metode yang didasari oleh tanggung jawab dan tanggung gugat berdasarkan kode etik profesi dan standar praktek keperawatan.
6.Peningkatan rasa solidaritas.
Kesamaan metode yang dipergunakan oleh tenaga keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien akan memperkuat rasa kebersamaan dan identitas dari profesi keperawatan.
Kesamaan metode yang dipergunakan oleh tenaga keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien akan memperkuat rasa kebersamaan dan identitas dari profesi keperawatan.
7.Meningkatkan kepuasan kerja tenaga keperawatan.
Asuhan keperawatan yang bermutu dapat meningkatkan kepuasan konsumen, terhindar dari kelalaian dan malpraktek yang dengan sendirinya akan berpengaruh kepada kepuasan kerja perawat secara keseluruhan.
Asuhan keperawatan yang bermutu dapat meningkatkan kepuasan konsumen, terhindar dari kelalaian dan malpraktek yang dengan sendirinya akan berpengaruh kepada kepuasan kerja perawat secara keseluruhan.
8.Untuk pengembangan ilmu keperawatan.
Penerapan proses keperawatan dapat mendukung dan memberi sumbangan dalam pengembangan “body of knowledge” dengan penelitian-penelitian keperawatan, sehingga dapat dikembangkan metode-metode yang baku dalam memberikan asuhan keperawatan.
Penerapan proses keperawatan dapat mendukung dan memberi sumbangan dalam pengembangan “body of knowledge” dengan penelitian-penelitian keperawatan, sehingga dapat dikembangkan metode-metode yang baku dalam memberikan asuhan keperawatan.
Karakteristik Proses Keperawatan
Kozier et al. (1995) menyebutkan bahwa proses keperawatan mempunyai sembilan karakteristik, antara lain:
1) Merupakan sistem yang terbuka dan fleksibel untuk memenuhi kebutuhan yang unik dari klien, keluarga, kelompok dan komunitas.
2) Bersifat siklik dan dinamis, karena semua tahap-tahap saling berhubungan dan berkesinambungan.
3)Berpusat pada klien, merupakan pendekatan individual dan spesifik untuk memenuhi kebutuhan klien.
4) Bersifat interpersonal dan kolaborasi.
5) Menggunakan perencanaan.
6) Mempunyai tujuan.
7) Memperbolehkan adanya kreativitas antara perawat dengan klien dalam memikirkan jalan keluar menyelesaikan masalah keperawatan.
Menekankan pada umpan balik, dengan melakukan pengkajian ulang dari masalah atau merevisi rencana keperawatan.
9) Dapat diterapkan secara luas. Proses keperawatan menggunakan kerangka kerja untuk semua jenis pelayanan kesehatan, klien dan kelompok.
Kozier et al. (1995) menyebutkan bahwa proses keperawatan mempunyai sembilan karakteristik, antara lain:
1) Merupakan sistem yang terbuka dan fleksibel untuk memenuhi kebutuhan yang unik dari klien, keluarga, kelompok dan komunitas.
2) Bersifat siklik dan dinamis, karena semua tahap-tahap saling berhubungan dan berkesinambungan.
3)Berpusat pada klien, merupakan pendekatan individual dan spesifik untuk memenuhi kebutuhan klien.
4) Bersifat interpersonal dan kolaborasi.
5) Menggunakan perencanaan.
6) Mempunyai tujuan.
7) Memperbolehkan adanya kreativitas antara perawat dengan klien dalam memikirkan jalan keluar menyelesaikan masalah keperawatan.
9) Dapat diterapkan secara luas. Proses keperawatan menggunakan kerangka kerja untuk semua jenis pelayanan kesehatan, klien dan kelompok.
Demikian juga dengan Craven dan Hirnle (2000), menurutnya proses keperawatan sebagai pedoman untuk praktek keperawatan profesional, mempunyai karakteristik:
1) Merupakan kerangka kerja dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada individu, keluarga dan masyarakat.
2) Teratur dan sistematis.
3)Saling tergantung.
4)Memberikan pelayanan yang spesifik kepada individu, keluarga, dan masyarakat.
5)Berpusat pada klien, menggunakan klien sebagai suatu kekuatan.
6)Tepat untuk diterapkan sepanjang jangka waktu kehidupan.
7) Dapat dipergunakan dalam semua keadaan.
1) Merupakan kerangka kerja dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada individu, keluarga dan masyarakat.
2) Teratur dan sistematis.
3)Saling tergantung.
4)Memberikan pelayanan yang spesifik kepada individu, keluarga, dan masyarakat.
5)Berpusat pada klien, menggunakan klien sebagai suatu kekuatan.
6)Tepat untuk diterapkan sepanjang jangka waktu kehidupan.
7) Dapat dipergunakan dalam semua keadaan.
Sedangkan Taylor (1993) menyatakan bahwa proses keperawatan bersifat sistematis, dinamis, interpersonal, berorientasi kepada tujuan dan dapat dipakaii pada situasi apapun.
Jadi dapat disimpulkan bahwa proses keperawatan adalah suatu cara menyelesaikan masalah yang sistematis dan dinamis serta bersifat individual untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan klien sebagai manusia yang bersifat unik, dan menekankan pada kemampuan pengambilan keputusan oleh perawat sesuai dengan kebutuhan klien.
PENGANTAR PROSES KEPERAWATAN
Sebelum proses keperawatan berkembang, perawat bekerja secara /berdasarkan instruksi dokter dan fokus utama pada penyakit serta belum ilmiah.
Tahun 1955., awal mula istilah keperawatan digunakan, Linda Hall mengembangkan proses keperawatan.
Tahun 1967, Univercity Catholic di Amerika mengemukakan tentang empat tahap proses keperawatan, yaitu; pengkajian, perencanaan, peleksanaan, dan evaluasi.
Tahun 1973, ANA, standar umum praktek keperawatan mengemukakan lima tahap proses keperawatan, yaitu; pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Tahun 1980, ANA,mengemukakan keperawatan adalah diagnosa dan pengobatan respon manusia yang aktual dan potensial pada masalah-masalah kesehatan.
Tahun 1982, The National Council of State Board of Nursing, mengemukakan lima tahap proses keperawatan, yaitu; pengkajian, analisa, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Pada tabel 9-1 banyak perawat dan kelompok yang mengkontribusi perkembangan proses keperawatan dan kemajuan diagnosa keperawatan, yaitu selain yang telah diuraikan di atas dan beberapa tokoh lainnya.
Jonson,D.E, 1959, proese keperawatan sebagai pengkajian, pengambilan keputusan, pelaksanaan adalah serangkaian tindakan untuk pemecahan masalah-masalah kesehatan dan evaluasi.
Knowlles, 1967 memberikan kesan pada “5 D” yaitu; menemukan , menyelidiki, menentukan/memutuskan, pelaksanaan dan membedakan.
Roy, Sr.C, 1976, menggunakan enam tahapan proses keperawatan yaitu; pengkajian pada perilaku pasien, pengkajian pada faktor-faktor yang mempengaruhi, identifikasi masalah, tujuan, pelaksanaan, memilih pendekatan, dan evaluasi.
KOMPONEN DARI PROSES KEPERAWATAN.
Proses adalah serangkaian tindakan yang direncanakan untuk mencapai tujuan. Proses keperawatan adalah suatu sistem, metode rasional, yang direncanakan dan memberikan asuhan keperawatan. Tujuannya adalah identifikasi masalah-masalah status klien, aktual dan potensial masalah-masalah perawatan kesehatan, membuat rencana pertemuan untuk identifikasi kebutuhan dan memberikan tindakan perawatan yang khusus pada kebutuhan tersebut.
Aplikasi pada proses keperawatan memerlukan bermacam-macam ketrampilan perawatan antara lain;
Hubungan interpersonal meliputi; komunikasi, mendengar, memberikan perhatian, terbaru, pengetahuan dan informasi.
Ketrampilan tehnik, ditunjang dengan penggunaan peralatan dalam pelaksanaan prosedur.
Ketrmpilan intelektual, yaitu problem solving, pemikir, dan pendapat.
Proses keperawatan yang sering digunakan adalah empat atau lima langkah. Komponen-komponen ini sering digunakan untuk mencapai tujuan dari proses. Dalam proses keperawatan, interaksi antara klien dan perawat adalah penting, seperti yang digambarkan sebagai berikut;
Assm.
Diagnosa
KLIEN Planing PERAWAT
I. EVAL.
Teori keperawatan berbeda penggunaannya dalam setiap langkah. Meskipun berbeda dalam aktifitas perawatan menggunakan proses yang berbeda.
Untuk contoh diagnosa perawatan menggunakan analisa, dan implementasi atau intervensi
Gambaran dalam lima langkah proses keperawatan memeakai beberapa buku sumber.
Komponen-komponen dalam proses keperawatan didiskusikan secara mendalam sebagai berikut:
1. Pengkajian: adalah pengumpulan data, membuktikan data tentang status kesehatan seorang klien. Data tentang fisik,emosi,pertumbuhan,sosial,kebudayaan, intelektual,dan aspek spiritual. Keahlian dalam melakukan observasi, komunikasi, wawancara, dan pemeriksaan fisik sangat penting untuk mewujudkan fase proses keperawatan.
2. Diagnosa : merupakan sebuah proses yang menghasilkan suatu pernyataan atau diagnosa keperawatan. Dalam fase ini, perawat mengelompokkan data, apakah masalah yang aktual atau potensial dimana klien membutuhkan pertolongan perawatan? Untuk menguatkan diagnosa adalah analisa. Analisa adalah mengidentifikasi macam-macam sistem tubuh. Suatu masalah kesehatan yang aktual adalah kehadiran faktor-faktor beresiko yang disembunyikan untuk klien dan keluarga terhadap masalah-masalah kesehatan.
3. Perencanaan ; Mencakup sekelompok langkah-langkah dimana perawat dan klien menyusun prioritas, tujuan , hasil yang diharapkan dan menetapkan suatu rencana untuk memecahkan atau mengurangi masalah klien.
4. Pelaksanaan: Menerapkan rencana pelayanan keperawatan dalam tindakan. Selama fase ini perawat meneruskan pengumpulan data, melakukan perawatan untuk pendekatan perseorangan dan mengarahkan rencana tindakan. Untuk mengarahkan rencana keperawatan perawat menentukan :
• Prioritas klien dipertimbangkan
• Rencana kegioatan keperawatan terlaksana dan menolong klien mencapai hasil yang diinginkan.
• Rencana tersendiri untuk memenuhi kebutuhan klien.
5. Evaluasi : adalah pengkajian respon klien terhadap penerapan keperawatan dan membandingkan respon standar yang ditentukan. Standar ini sering disebut dengan kriteria hasil. Perawat bertujuan memperluas hasil atau tujuan perawatan yang telah ditentukan telah tercapai, tercapai sebaian, atau tak tercapai. Kalau tidak tercapai, dibutuhkan pengkajian kembali, perencanaan, dan bisa mencakup perubahan dalam beberapa fase proses keperawatan, karena setiap langkah mempengaruhi langkah lainnya karena saling berkaitan.
Proses perawatan adalah adaptasi pada tehnik pemecahan ,masalah dan sitem-sistem teori. itu dapat dibandingkan dengan proses kedokteran/medik. Lihat tabel.
II.
III. TABEL PERBANDINGAN PROSES KEPERAWATAN DAN PROSES KEDOKTERAN
Nursing Proses Medical Proses
Assessing
Mengumpulkan data dari
• Cerita perawat
• Pemeriksaan kesehatan
• Meninjau catatan
• Konsultasi dengan anggota team lain
• Meninjau literatur Assessing
Pengumpulan data dari
• Cerita dokter
• Pemeriksaan fisik
• Test diagnosa
• Meninjau literatur
Diagnosing
• Analisa dan sintesis dari data
• Identifikasi dari problem kesehatan
• Penugasan diagnosa perawat Medical diagnosis
• Mengorganisasi data
• Analisa dan interpretasi data
• Perumusan sebuah diagnosa
Planning
• Pembuatan prioritas
• Pembuatan tujuan
• Perkembangan sasaran
• Menuliskan rencana perawat (NCP)
• Penyerahan kegiatan keperawatan Medical planning
• Pembuatan prioritas
• Pembuatan tujuan untuk terapi
• Menuliskan perencanaan terapi
Implementing
• Preimplementasi intervensi
• Pelaksanaan
• Sesudah pelaksanaan strtegi; memperbaharui data yang jelek, meninjau dan merevisi rencana.
Therapi
Pesanan dokter
Therapi dokter
Penyerahan
Evaluating
• Pengumpulan data tentang respon pasien
• Perbandingan data obyek yang tidak dapat dipungkiri dan tujuan
• Determinasi effektifan rencana keperawatan
• Analisa akibat pengaruh variabel
• Modifikasi care plan Evaluating
• Pembuatan keefektifan terapi dokter dalam hubungan tujuan
• Analisis pada variabel
• Merevisi rencana kebutuhan terapi
IV. KEUNTUNGAN PROSES KEPERAWATAN
Proses keperawatan sangat penting untuk perawat dan klien. Manfaat berikut dijelaskan dalam Atkison dan Murray, 1986, pp 5-7.
Keuntungan bagi klien
• Kualitas asuhan keperawatan klien
• Asuhan keperawatan yang kontinue
• Partisipasi klien dalam merawat kesehatannya.
Keuntungan bagi perawat
• Pendidikan bertambah
• Kepuasan kerja
• Pengembangan profesional
• Mneghindari tindakan illegal (Philpott, 1985,p.79)
• Penemuan standar profesional keperawatan
• Penemuan standat dan akreditasi rumah sakit.
KARAKTERISTIK PROSES KEPERAWATAN
• Merupakan sistem yang terbuka, fleksibel, dan dinamis
• Dilakukan melalui pendekatan secara individual pada pemenuhan kebutuhan klien
• Direncanakan
• Diarahkan untuk mencapai tujuan
• Fleksibel untuk menemukan kebutuhan klien, keluarga, dan masyarakat
• Memerlukan kreatifitas perawat dan klien dalam menemukan cara-cara mengatasi atau memecahkan masalah kesehatan.
• Merupakan hubungan interpersonal yang membutuhkan perawat untuk berkomunikasi secara langsung dan konsisten dengan pasien/klien untuk menemukan kebutuhannya.
• Merupakan suatu siklus, semua tahap saling berhubungan dan bukan merupakan awal atau akhir yang absoulut.
• Menekankan hubungan timbal balik yang dilakukan untuk mengkaji ulang masalah rencana keperawatan.
• Dapat diterapkan secara universal. Proses keperawatan digunakan sebagai kerangka kerja asuhan keperawatan berbagai tipe pelayanan kesehatan.
KERANGKA KERJA SEBAGAI SUATU PERTANGGUNGJAWABAN
Tanggung jawab adalah suatu kondisi yang dapat dijawabkan dipertanggungjawabkan pada seseorang atas perilaku khusus yang merupakan bagian dari peran perawat profesional. Proses keperawatan memberikan kerangka kerja untuk mempertanggungjawabakan dan mempertanggung gugat keperawatan serta memaksimalkan tanggung jawab dan tanggung gugat standar pelayanan. (Law, 1983). Perawat bertanggung jawab pada klien, organisasi profesi, kolega, tempat kerja, dan dirinya sendiri. Selain itu proses keperawatan memberikan kerangka kerja untuk pertanggungjawaban pada kegiatan-kegiatandi lima fase, yaitu: Pengkajian, Diagnosa, Perencanaan, Pelaksanaan, dan Evaluasi.
V. PENGANTAR PROSES KEPERAWATAN
Isi Pembahasan
Sejarah persepektif proses keperawatan
Komponen proses keperawatan
Manfaat proses keperawatan bagi perawat dan bagi klien
Ini mempunyai tujuan untuk dapat :
• Menggambarkan komponen proses keperawatan
• Mengidentifikasikan sumbangan perawat-perawat yang terpilih terhadap pengembangan proses keperawatan
• Mengidentifikasikan aktifitas-aktifitas keperawatan yang terlibat pada masing-masing komponen proses keperawatan
• Mengidentifikasi kerekterisrik esensial proses keperawatan
• Membuat daftar manfaat proses keperawatan bagi perawat
• Membuat daftar manfaat proses keperawatan bagi klien
• Menggambarkan proses keperawatan sebagai kerangka bagi pertanggungjawaban dan tanggung gugat.
VI.
Persepektif sejarah proses keperawatan.
Sebelum proses keperawatan berkembang para perawat cenderung memberikan perawatan berdasarkan pesan tertulis secara fisik dan difokoskan pada keadaan penyakit tertentu dari orang yasng dirawat.
Praktek keperawatan yang diberikan secara independent tantang keadaan fisik yang sering didukung oleh intuisi dan pegalaman dari pada metode ilmiah.
Kerangka proses keperawatan merupakan implikasi yang relatif baru. Pda tahun 1955 Hall mendapoat gagasan istilah proses keperawatan. Sejak saat itu bebrbagai perawat telah menggambarkan proses keperawatan dengan cara yang berbeda-beda.
Wiendeubach (1963), menggambarkan tiga langkah dalam keperawatan : observasi, melayani serta membantu dan validasi.
Knowle (1967,pp. 248-72), menyarankan “ 5 D “ perlu bagi penerapan keperawatan; discaver, delve, decide, do, dan discriminate (penemuan, penyelidikan, menentukan, melaksanakan, dan memisahkan).
Pada tahun 1967 Western Interstate Commission of Higher Education (WICHE), mengidentifikasikan proses keperawatan dengan lima langkah: persepsi, komunikasi, interpretasi, intervensi, dan evaluasi.
Juga pada tahun yang sama Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Katholik Amerika mengusulkan empat komponen proses keperawatan; Assessment, planing, intervention, dan evaluation.
Pemakaian proses keperawatan dipraktek klinik didapat legitimasi tambahan dalam tahun 1973, ketika Perkumpulan Perawat Amerika (ANA) menerbitkan standar praktek keperawatan; pengkajian, diagnosa, rencana, intervensi, dan evaluasi.
Selanjutnya sejumlah negara merevisi undang-undang praktek keperawatan serta aspek-aspek keperawatan, proses pearwatan berkembang secara teori dan secara klinik, istilah diagnosa keperawatan mendapat pengakuan yang dapat dipertanggungjawabkan dalam literatur ilmu keperawatan.
Komponen dari prakterk keperawatan.
Proses adalah serangkain tindakan atau perilaku yang yang teratur yang ditujukan untuk mencapai tujuan tertentu. Proses keperawatan merupakan perencanaan pemberian asuhan keperawatan yang sistematis dan rasional. Tujuannya mengidentifikasi status kesehatan klien, masalah kesehatan aktual atau potensial, untuk membuat rencana sesuai kebutuhan dan memberikan tindakan perawatan tertentu untuk memenuhi kebutuhannya.
Proses perawatan adalah suatu siklus dimana komponen-komponen praktek keperawatan mengikuti urutan yang logis tetapi lebih dari satu komponen dapat berlangsung bersamaan(dalam satu waktu)
Untuk dapat menggunakan proses keperawatan secara effektif bagi kebutuhan klien, perawat harus bekerja sama dengan klien. (Individu, keluarga, dan masyarakat). Jika klien tidak dapat ambil bagian dalam perencanaan dan pengambilan keputusan anggota keluarga dapat diajak untuk mewakili klien.
Dalam penerapan praktek keperawatan memerlukan bermacam-macam ketrampilan dari perawat, meliputi; ketrampilan interpersonal, tehnik dan intelektual. Adapun proses keperawatan terdiri atas empat atau lima tahap. Ynag empat tahap terdiri dari; pengkajian, perencanaan, pelaksanaan , dan evaluasi. Pada sistem ini diagnosa termasuk dalam pengkajian. sedangkan pada sistem lima tahap terdiri dari; pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
Penjelasan singkat tentang kelima komponen praktek keperawatan adalah;
Pengkajian
adalah pengumpulan data, pembuktian dan pengorganisasian data mengenai status kesehatan klien.
Data tentang fisik , emosional, perkembangan, sosial budaya, intelektual, dan spiritual didapatkan dari berbagai sumber dan merupakan dasar untuk tindakan dan pengambilan keputusan untuk tahap berikutnya. Ketrampilan observasi komunikasi dan wawancara serta pemeriksaan fisik sangat diperlukan dalam tahap ini.
Diagnosa
adalah pernyataan mengenai gangguan kesehatan klien baik yang aktual maupun potensial, dimana perawat berhak dan mampu untuk mengatasinya. Pada fase ini perawat memilih dan mengelompokkan data status kesehatan, akan masalah aktual dan potensial yang mana dari klien memerlukan bantuan dan faktor-faktor penyebab masalah tersebut. Respon terhadap jawaban tersebut menjadi diagnosa keperawatan. Proses membuat diagnosa disebut; analisa.
Perencanaan
Merupakan serangkaian langkah dimana perawat dan klien menyusun prioritas, menulis tujuan dan hasil yang diharapkan dan membuat rencana tertulis mengenai tindakan yang akan dilaksanakan untuk mengatasi masalah yang telah teridentifikasi dan untuk mengkoordinasikan pemberian asuhan dari seluruh tim kesehatan. Dalam berkolaborasi dengan klien, perawat menentukan intervensi yang specifik untuk tiap diagnosa keperawatan.
Implementasi
adalah pelaksanaan dari tindakan yang direncanakan serta memvalidasi perencanaan yang dibuat atau mendelegasikannya kepada orang yang tepat. Melanjutkan pengumpulan data tidak hanya untuk mengetahui perubahan data (kondisi pasien) yang terjadi, tetapi juga untuk mendapatkan kejadian (data) untuk mengevaluasi pencapaian tujuan pda tahap berikutnya. Untuk mengvalidasi perencanaan perawat menentukan;
Apakah prioritas klien sudah dipertimbangkan
Apakah rencana tindakan yang direncanakan realistis dan dan dapat membantu mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Apakah rencana sudah individual untuk memenuhi kebutuhan tertentu klien.
Evaluasi
Adalah mengkaji respon klien terhadap tindakan-tindakan dan membandingkannya dengan standar yang ditetapkan. Standar ini sering disebutu kriteria hasil. Perawat menentukan sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan tercapai, sudah tercapai semua, sebagian, atau belum tercapai. Jika belum tercapai , perawat melakukan pengkajian ulang mengenai rencana asuhan. Pengkajian ulang dapat merubah sebagian atau seluruh langkah-langkah dari proses keperawatan.
Kegunaan proses keperawatan.
Praktek keperawatan penting bagi perawat dan klien.
Bagi klien
• Asuhan yang berkualitas. Proses keperawatan direncanakan untuk memenuhi kebutuhan individu yang unik. Evaluasi dan pengkajian berulang/berkelanjutan mengenai kelayakan asuhan keperawatan.
• Asuhan berkelanjutan. Rencana perawatan yang tertulis dapat dikaji oleh seluruh anggota tim pemberi asuhan dan dapat mencegah pengulangan informasi bagi klien dan pemberi asuhan.
• Partisipasi klien dalam pemeliharaan kesehatan. Proses tersebut dapat membantu klien mengembangkan ketrampilan yang terkait dengan asuhan kesehatannya dan lebih memperhatikan tujuan asuhan.
Bagi perawat
• Pendidikan perawatan yang sistematis dan konsisten.
The National Legue for Nursing (NLN) yang mengatur akreditasi program pendidikan keperawatan menghendaki sarjan yang kompoten dalam menggunakan proses keperawatan.
• Kepuasan kerja yang tertulis baik memberikan kepercayaan diri perawat, yang mana tindakan keperawatan didasarkan pada identifikasi yang akurat dari masalah klien, sehingga mencegah terjadinya tak terorganisir, mencoba dan salah. Perencanaan memberikan kepuasan jika tujuan tercapai.
Pertumbuhan profesional :Dengan mengevaluasi efektifitas tindakan, perawat belajar mengenai tindakan keperawatan mana yang efektif dan mana yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan klien. Proses tersebut meningkatkan ketrampilan dan pengalaman perawat.
• Menghindari aspek tindakan legal (hukum)
Ketika setiap tahap dari proses keperawatan digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan kepada klien, perawat mempunyai tanggung jawab hukum terhadap klien. Kegagalan dalam melaksanakan pengkajian atau membuat perencanaan akan membawa kosekuensi legal.
• Mendapatkan standar keperawatan profesional.
Kriteria dalam standar praktek keperawatan yang dikembangkan ANA didasarkan pada langkah-langkah dari proses keperawatan.
• Mendapatkan/memenuhi standar akreditasi rumah sakit.: Joint Comition af Acreditation Healt Organitation American menginginkan penerapan proses pearwatan dan rencana tertulis harus disediakan untuk setiap klien yang dirawat di rumah sakit. “Registered Nurse” bertanggung jawab atas hal ini.
Karakteritik proses keperawatan
• Sistem terbuka, fleksibel, dan dinamis
• Merupakan pendekatan yang individual untuk tiap-tiap bagian kebutuhan klien
• Terencana
• Terarah untuk tujuan
• Fleksibel untuk memenuhi kebutuhan klien, keluarga, dan masyarakat.
• Memungkinkan kreatifitas bagi perawat dan klien dalam menentukan tindakan untuk memecahkan masalah yang ditetapkan.
• Merupakan interpersonal. Menuntut perawat untuk berlangsung dan konsisten berkomunikasi dengan klien untuk memenuhi kebutuhannya.
• Siklikal. Tak ada awal dan akhir secara absoulut.
• Menekankan pada feed back (umpan balik)
• Dapat digunakan secara universal, diberbagai tempat pelayanan dan pada klien semua kelompok umur.
VII. TABEL 9.3 PILIHAN PENGETAHUAN DAN KEMAMPUAN YANG DIGUNAKAN UNTUK PROSES KEPERAWATAN
KOMPONEN PENGETAHUAN KEMAMPUAN
Assessing Sistem Biopsikososial dan Spiritual manusia.
Kebutuhan perkembangan manusia.
Kesehatan
Kesakitan
Patofisiologi
Sistem keluarga
Budaya dan nilai pribadi dan klien
Lingkungan Menilai secara sistematis
Komunikasi secara efektif
Menetapkan haubungan suatu pertolongan
Mendapatkan sejararh kesehatan
Melakukan penilaian perawatan fisik
Diagnosing Kategori diagnosa perawat bahwa perawat dapat mengenali dan mengobati.
Faktor etiologi diagnosa keperawatan
Tanda atau karakteristik diagnosa keperawatan.
Faktor resiko teman sejawat dengan potensial dignosa keperawatan.
Standar ukuran normal
Mekamisme koping individual
Membedakan isyarat dan kesimpulan
Berpikir secara kritik
Dapat berfikir secara induktif dan deduktif
Mengorganisasi data
Mengenali isyarat dan hubungan
Menghasilkan dan test hipotesis sementara
Membuat suatu diagnosa perawat.
Planning Nilai-nilai dan kepercayaan klien lapangan praktek keperawatan sumber yang ada gunanya pelaksanaan keperawatan
Intervensi (campur tangan) peran dari personil kesehatan lain
Memecahkan masalah
Membuat keputusan
Menulis tujuan klien yang menceritakan pada diagnosa keperawatan dalam kolaborasi dengan klien.
Memprioritaskan tempat
Menulis akibat tindakan yang menceritakan untuk tujuan.
Memilih dan membuat strategi keperawatan yang melindungi dan cocok untuk menjumpai tujuan klien.
Menulis keperawatan lainnya
Mendapatkan kerja sama dan partisipasi klien dan personil kesehatan lainnya.
Implementing Bahasa fisik dan keselamatan
Asepsi
Prosedur
Menggunakan peralatan
Organization
Management
Learning
Perubahan teori
Sokongan anjuran
Kebenaran klien
Perkembangan level klien Observasi secara sistematik
Komunikasi secara efektif
Memelihara suatu hubungan saling menolong
Melakukan tehnik psikomotor
Membicarakan cara menolong diri sendiri
Menyampaikan caring.
Perbuatan menganjurkan klien.
Mengrurus
Supervisi dan evaluasi pekerjaan lyang lain.
Melaksanakan medikan yang lain.
Evaluating Tujuan klien dan hasil kriteria
Respon klien untuk intervensi nursing. Mendapatkan data yang relevan untuk membandingkan dengan hasil kriteria.
Menarik kesimpulan mengenazi tujuan yang dicapai.
Menceritakan perbuatan keperawatan untuk hasil kriteria.
Menaksir rencana asuhan keperawatan.
VIII.
IX.
X. TABEL PERBANDINGAN PROSES KEPERAWATAN DAN PROSES
XI. KEDOKTERAN
Nursing Proses Medical Proses
Assessing
Mengumpulkan data dari
• Cerita perawat
• Pemeriksaan kesehatan
• Meninjau catatan
• Konsultasi dengan anggota team lain
• Meninjau literatur Assessing
Pengumpulan data dari
• Cerita dokter
• Pemeriksaan fisik
• Test diagnosa
• Meninjau literatur
Diagnosing
• Analisa dan sintesis dari data
• Identifikasi dari problem kesehatan
• Penugasan diagnosa perawat Medical diagnosis
• Mengorganisasi data
• Analisa dan interpretasi data
• Perumusan sebuah diagnosa
Planning
• Pembuatan prioritas
• Pembuatan tujuan
• Perkembangan sasaran
• Menuliskan rencana perawat (NCP)
• Penyerahan kegiatan keperawatan Medical planning
• Pembuatan prioritas
• Pembuatan tujuan untuk terapi
• Menuliskan perencanaan terapi
Implementing
• Preimplementasi intervensi
• Pelaksanaan
• Sesudah pelaksanaan strtegi; memperbaharui data yang jelek, meninjau dan merevisi rencana.
Therapi
Pesanan dokter
Therapi dokter
Penyerahan
Evaluating
• Pengumpulan data tentang respon pasien
• Perbandingan data obyek yang tidak dapat dipungkiri dan tujuan
• Determinasi effektifan rencana keperawatan
• Analisa akibat pengaruh variabel
• Modifikasi care plan Evaluating
• Pembuatan keefektifan terapi dokter dalam hubungan tujuan
• Analisis pada variabel
• Merevisi rencana kebutuhan terapi
Medical diagnosa mempunyai lima fase;
1. Suspected diagnosis mengikuti inisial (awal) keluhan pasien
2. Tentative diagnosis mengikuti sejarah kedokteran
3. Provisional diagnosis mengikuti pemeriksaan fisik
4. Devinitive diagnosis diagnosa test
5. Anatomic diagnosis mengikuti suatu post mortem.
A. HUBUNGAN DI ANTARA KLIEN DAN PERAWAT. MENGIKUTI DAN MENDALAMI KOTAK RANGKUMAN KARAKTERISTIK PROSES NURSING.
B. .PENTINGNYA PROSES NURSING
Proses keperawatan penting pada klien dan perawat. Mengikuti Benefits telah diceritakan pada ( Atkinson dan Murray, 1986, PP 5 - 7 )
XII. PENTING UNTUK PERAWAT
• Kualitas perawat klien.
Asuhan keperawatan dibutuhkan untuk menemukan bermacam kebutuhan individu, keluarga, atau masyarakat. Evaluasi selanjutnya dan menaksirkan perubahan klien. Menjamin kebutuhan level asuhan yang cocok.
• Asuhan selanjutnya.
Menuliskan rencana asuhan dapat diperoleh pada semua orang meliputi perawatan kliendan pencegahan klien serta penemuan untuk memperbaiki informasi dan preferens pada setiap pemberian asuhan.
• Partisipasi oleh klien dalam perawatan kesehatannya. Proses keperawatan dapat menolong klien untuk menumbuhkan kemempuan usaha perawatan kesehatannya, dan menjadi lebih komitmen pada tujuan keperawatan.
C. EVOLUSI PROSES KEPERAWATAN
Orlando, I.J. (1961)
Mengemukakan bahwa proses keperawatan sebagai interaksi dan proses tersebut terdiri dari tiga tahap: peri laku klien, reaksi perawat, dan tindakan perawat.
Henderson, V. (1965)
Menyatakan bahwa proses keperawatan seperti langkah-langkah metode ilmiah.
Wiedenbach, E. (1963-1970)
Memperkenalkan tiga langkah proses keperawatan : Identifikasi bantuan yang diperlukan, mengatur bantuan, validasi bahwa bantuan telah diberikan
Knowes, L (1967)
Memperkenalkan teori “Five Ds” dari proses keperawatan ; discover, delve, decide, do.
Catholic Univercity of America (1967)
Mengajukkan empat komponen proses keperawatan; pengkajian, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
Orem, D. (`1971)
Menyatakan bahwa ada tiga langkah dalam asuhan perawatan; penentuan kebutuhan asuhan awal dan berkelanjutan, mendesain tindakan keperawatan yang dapat mencapai tujuan klien, memulai, mengarahkan, dan mengontrol tindakan.
AN (American Nursing Asociation, 1973)
Mengemukakan lima langkah proses keperawatan; pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
Roy, SrC. 91976)
Menggunakan enam langkah proses keperawatan; pengkajian, tingkah laku klien, pengkajian faktor yang mempengaruhi, identigikasi massalah, penentuan tujuan, entervensi, seleksi pendekatan, dan evaluasi. Mengajukan istilah diagnosa perawatan.
D. KOMPONEN PROSES KEPERAWATAN
Suatu proses adalah serangkaian tindakan atau perilaku yang terencana yang ditujukan yntuk mecapai tujuan. Proses keperawatan merupakan metode perencanaan, dan pemberian asuhan keperawatan yang sistematis dan rasional. Tujuannya untuk mengidentifikasi status kesehatan klien, masalah aktual dan potensial dari kesehatan klien, untuk membuat perencanaan untuk memenuhi kebutuhan yang teridentifikasikan, dan untuk memberikan tindakan keperawatan tertentu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.
Proses keperawatan bersifat siklikal, dimana komponen-komponen proses keperawatan mengikuti urutan yang logis tetapi lebih dari satu komponen dapat berlangsung bersamaa(dalam satu waktu).
Untuk menggunakan proses keperawatan secara sangat efektif dan individual bagi tiap kebutuhan klien, perawat harus kerja sama dengan klien. Individu, keluarga, atau masyarakat dapat dipertimbangkan sebagai klien. Jika klien tidak dapat ambil bagian dalam perencanaan dan mengambil keputusan, anggota keluarga dapat diajak untuk berpartisipasi mewakili klien.
Penerapan proses keperawatan memerlukan berbagai macam ketrampilan dari perawat, meliputi ; ketrampilan interpersonal, tehnik, dan itelektual. Ketrampilan interpersonal termasuk komunikasi, mendengar, menarik perhatian, membina hubungan saling percaya, memberi pengertian/informasi dan perhatian. Ketrampilan tehnik dimanifestasikan dalam kemampuannya menggunakan alat dan melaksanakan prosedur. Ketrampilan intelektual yang diharapkan perawat termasuk pemecahan masalah, berfikir kritis, dan membuat keputusan keperawatan. Pembuatan keputusan terlibat dalam setiap tahap proses keperawatan (Yura and Wallsh, 1988, p. 108)
Proses keperawatan terdiri atas rangkaian empat atau lima tahap. Kempat tahap tersebut adalah; pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pada sistem ini diagnosa termasuk dalam pengkajian. Pada sistem lima langkah, terdiri dari pengkajian, perumusan diagnosa, perencanaan, intervensi, dan evakuasi.
Kedua sitem, empat dan lima langkah tersebut memberikan struktur yang terorganisasi dalam mencapai tujuan proses. Dalam kedua proses keparawatan tersebut antara perawat klien sangat penting terlihat dalam diagram berikut;
Penjelasan singkat megenai kelima komponen p[roses keperawatan tersenut adalah sebagai berikut;
• Pengkajian
Adalah pengumpulan, verifikasi, dan pengorganisasian data mengenai status kesehatan klien. Data tentang fisik, emosional, perkembangan, sosial budaya, intelektual, dan spiritual didapatkan dari berbagai sumber dan merupakan dasar tindakan dan pengambilan keputusan untuk tahap berikutnya. Ketrampilan observasi, komunikasi, dan wawancara serta pemeriksaan fisik sangat diperlukan dalam tahap i
• Diagnosa
Yaitu proses yang menghasilkan sesuatu pernyataan diagnostik. Diagnosa keperawatan adalah pernyataan mengenai gangguan kesehatan klien baik yang aktual atau potensial, dimana perawat berhak dan mampu untuk mengatasinya. Pada fase ini perawat memilih/meringkas dan mengelompokkan data dan kemudian bertanya “ masalah aktual dan potensial apa dari status kesehatan yang mana klien memerlukan bantuan” dan “faktor-faktor pentebab masalah” tersebut. Respon terhadap jawaban tersebut menjadi diagnosa keperawatan. Proses untuk membuat diagnosa dinamakan analisa. Menganalisa adalah memecah keseluruhan mejadi bagian=bagian. Masalah aktual adalah masalah yang ada pada saat ini. Masalah poitensial adalah adanya resiko atau faktor-faktor yang merupakan predisposisi seseorangh atau keluarga untuk mengalami masalah kesehatan.
• Perencanaan
Merupakan serangkaian langkah dimana perawat danklien menyusun prioritas, menulis tujuan dan hasil yang diharapkan, dan membuat rencana tertulis mengenai tindakan yang akan dilaksanakan untuk mengatasi masalah yang telah teridentifikasi, dan untuk mengkoordinasikan pemberian asuhan dari seluruh tim kesehatan. Daam berkolaborati dengan klien, perawat menentukan intervensi yang spesifik untuk tiap diagnosa keperawatan.
• Implementasi
Adalah pelaksanaan dari tindkan perencanaan. Selama tahap ini perawat melanjutkan pengumpulan data, melaksanakan tindakan yang telah ditetapkan atau mendelegasikannya kepada orang yang tepat, serta mengvalidasikan perencanaan yang dibuat.Kelanjutan pengumpulan data tidak hanya untuk megetahui perubahan data (konsisi klien) yang terjadi tetapi juga untuk mendapatkan kejadian (data) untuk mengevaluasi pencapaian tujuan pada tahap berikutya. Untuk memvalidasi perencanaan perawat menentukan ; (a) Apakah prioritas klien sudah diperhitungkan, (b). Apakah rencana yang direncankan realitas dan dapat membantu mecapai tujuan yang telah ditetapkan. ©. Apakah rencana sudah individual untuk memenuhi kebutuhan tertentu klien.
• Evaluasi
Adalah mengkaji respon klien terhadap tindakan dan membandingkannya dengan standart yang ditetapkan. Standar ini sering disebut juga kriteria hasil. Perawat menentukan sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan tercapai, sudah tercapai semua, sebagian, atau belum tercapai. Jika belum tercapai perawat memerlukan pengkajian ulang mengenai rencana asuhan. Pengkajian ulang dapat merubah sebagian atau seluruh langkah-langkah dari proses keperawatan.
Perbandingan Proses Keperawatan dengan Proses Medis
Proses Keperawatan Proses Kedokteran
Pengkajian
• Pengumpulan data dari
• Riawayat perawatan
• Pemeriksaan kesehatan
• Reviw catatan
• Konsultasi dengan anggota team yangh lain
• Review literatur
Diagnosa
• Analisa dan sintesa data
• Mengidentifikasi masalah kesehatan
• Formulasi diagnosa keperawatan
Perencanaan
• Penulisan rencana asuhan Penetapan prioritas
• Penetapan tujuan
• Pengembangan objektif
• keperawatan
• Pendelegasian tindakan perawatan
Implementasi
• Tindakan preimplementasi
• Implentasi
• Strategi postimplementasi update data dasar, review dan memperbaiki perencanaan.
Evaluasi
• Pengumpulan tetang respon klien
• Perbandingan data dengan tujuan dan sasaran yang ditetapkan
• Menetapkan efektifitas rencana asuhan
• Menganalisa faktor yang mempengaruhi hasil
• Modifikasi rencana asuhan Pengkajian
• Pengumpulan data dari
• Riwayat medis
• Pemeriksaan fisik
• Test diagnosa
• Review literatur
Diagmosa
• Organisasi data
• Analisa dan interpretasi data
• Formulasi satu diagnosa
Perencanaan
• Menetapkan prioritas
• Penetapan tujuan tera
• Penulisan rencana terapi
Therapi
• Perintah dokter
• Terapi medis
• Referrals
Evaluasi
Mnentukan efektifitas terapi medis
Analisa variabel
Revisi rencana pengobatan seperlunya.
1. KEGUNAAN PROSES KEPERAWATAN
Proses keperawatan penting bagi perawat dan klien.
Bagi Klien
• Asuhan yang berkualitas, proses keperawatan direncanakan untuk memenuhi kebutuhan individu yang unik. Evaluasi dan reasesmen yang berulang-ulang/berkelanjutan mengenai perubahan kebutuhan klien menjadi tingkat kelayakan asuhan.
• Asuhan berkelanjutan, rencana perawatan yang tertulis dan dapat dikaji oleh seluruh anggota team pemberi asuhan dan dapat mencegah pengulangan informasi bagi klien dan preference pada tiap pemberi asuhan.
• Partisipasi klien dalam asuhan kesehatanya. Proses tersebut dapat membantu klien mengembangkan ketrampilan yang terkait dengan asuhan kesehatannya dan lebih memperhatikan asuhan.
a. Bagi Perawat
• Pendidikan perawatan yang sistematis dan kosisten.
The National Legue for Nursing (NLN) yang mengatur akreditasi program pendidikan perawatan, menghendaki sarjana yang kompoten dalam menggunakan proses keperawatan.
• Kepuasan kerja
Rencana keperawatan yang tertulis baik memberikan kepercayaan diri perawat yang mana tindakan keperawatan didasarkan pada identifikasi yang akurat dari masalah pasien, sehingga mencegah terjadinya tak terorganisir, trial, and error. Perencanaan memberikan kepuasan jika tujuan tercapai.
• Pertumbuhan profesional
Dengan mengevaluasi efektifitas tindakan perawat mengenal tindakan keperawatan mna yang efektif dan mana yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan klien. Proses tersebut meningkatkan ketrampilan dan pengalaman perawat.
• Menghindari aspek ligal (hukum)
Ketika setiap tahap dari proses keperawatan digunakan untuk m,emberikan asuhan keperawatan kepada klien, perawat mempunyai tanggung jawab hukum kepada klien. Kegagalan dalam melaksanakan pengkajian atau pembuatan perencanaan akan membawa koksekuensi legal (hukukm).
• Mendapatkan standart keperawatan profesional
Kriteria dalam standart keperawatan praktis (praktek keperawatan) yang dikembangkan ANA didasarkan pada langkah-langkah dari proses keperawatan.
• Mendapatkan atau memenuhi standart akreditasi rumah sakit
Joint Comition on Acreditation Healt Organisation American menginginkan penerapan proses keperawatan dan rencana asuhan harus disediakan untuk setiap klien yang dirawat di rumah sakit. “Registered nurse” bertanggung jawab atas hal ini.
1) Kriteria Proses Keperawatan
• Sistem terbuka, fleksibel, dan dinamis
• Merupakan pendekatan yang individual untuk tiap-tiap bagian kebutuhan klien
• Terencana
• Terarah untuk tujuan
• Fleksibel untuk memenuhi kebutuhan klien, keluarga, dan masyarakat
• Memungkinkan kreatifitas bagi perawat dan klien dalam menentukan masalah yang ditetapkan.
• Merupakan interpersonal. Menurut untuk secara langsung dan konsisten berkomunikasi dengan klien untuk memenuhi kebutuhannya.
• Siklikal. Tidak ada awal dan akhir secara absolut.
• Menekankan pada feed back (umpan balik)
• Dapat digunakan secara universal. Dapat digunakan diberbagai tempat pelayanan dan pada klien semua kelompok umur.
2. KERANGKA KERJA UNTUK TANGGUNG GUGAT
Tanggung gugat adalah dimana seseorang dapat menjawab dan bertanggung jawab atas perilaku tertentunya yang merupakan bagian dari peran perawat profesional. Perawat bertanggung jawab kepada klien, profesi, kolega, instansi tempat kerja, dan kepada diriya sendiri.
Perawat profesional bertanggunga jawab gugat terhadap aktifitas terhadap setiap tahap proses keperawatan.
2) Pengkajan
Perawat bertanggung gugat untuk mengumpulkan informasi, mendukung partisipasi klien, dan keputusan validasi data. Ketika mengkaji perawat bertanggung jawab gugat atas adanya kesenjangan, ketidakakuratan, dan kekaburan Ubias data.
3) Diagnosa
Perawat bertanggung gugat terhadap keputusan masalah klien (diagnosa keperawatan). Apakah masalah kesehatan tersebut dikenali oleh klien atau hanya perawat saja ?
Apakah dalam menetapkan asalah tersebut perawat sudah memperhatikan seluruh aspek (bio-osiko-sosial-spiritual).
4)
5) Perencanaan
Perawat bertanggung gugat atas penentuan prioritas, menetapkan tujuan klien , memperkirakan hasil, dan perencanaan tindakan keperawatan.
6) Implementasi
Perawat bertanggung gugat atas semua tindakannya dalam memberikan asuhan keperawatannya. Tindakan tersebut baik yang dilaksankan secara madiri atau berkolaborasi dengan yang lain. Sering kali perawat mendelegasikan suatu tidakan kepada yang lain, dalam hal ini perwat masih bertanggung gugat atas apa yang didelegasikan, dan bagaimana delegasi tersebut dilaksanakan. Tindakan keperawatan harus dicatat setelah dilaksanakan, sehingga memberikan rekaman tertulis.
7) Evaluasi
Dengan menetapkan tingkat pencapaian tujuan, perawat bertanggung gugat terhadap keberhasilan atau kegagalan dalam tindakan keperwatan. Perawat harus dapat menjelaskan mengapa tujuan tidak tercapa, dan tahap-tahap mana yang perlu diadakan perubahan dan mengapa perlu dirubah.
Untuk dapat menerapkan proses keperawatan, perawat bertanggung jawab kepada dirinya sendiri untuk mempunyai pengetahuan dan ketrampilan.
Tahun 1955., awal mula istilah keperawatan digunakan, Linda Hall mengembangkan proses keperawatan.
Tahun 1967, Univercity Catholic di Amerika mengemukakan tentang empat tahap proses keperawatan, yaitu; pengkajian, perencanaan, peleksanaan, dan evaluasi.
Tahun 1973, ANA, standar umum praktek keperawatan mengemukakan lima tahap proses keperawatan, yaitu; pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Tahun 1980, ANA,mengemukakan keperawatan adalah diagnosa dan pengobatan respon manusia yang aktual dan potensial pada masalah-masalah kesehatan.
Tahun 1982, The National Council of State Board of Nursing, mengemukakan lima tahap proses keperawatan, yaitu; pengkajian, analisa, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Pada tabel 9-1 banyak perawat dan kelompok yang mengkontribusi perkembangan proses keperawatan dan kemajuan diagnosa keperawatan, yaitu selain yang telah diuraikan di atas dan beberapa tokoh lainnya.
Jonson,D.E, 1959, proese keperawatan sebagai pengkajian, pengambilan keputusan, pelaksanaan adalah serangkaian tindakan untuk pemecahan masalah-masalah kesehatan dan evaluasi.
Knowlles, 1967 memberikan kesan pada “5 D” yaitu; menemukan , menyelidiki, menentukan/memutuskan, pelaksanaan dan membedakan.
Roy, Sr.C, 1976, menggunakan enam tahapan proses keperawatan yaitu; pengkajian pada perilaku pasien, pengkajian pada faktor-faktor yang mempengaruhi, identifikasi masalah, tujuan, pelaksanaan, memilih pendekatan, dan evaluasi.
KOMPONEN DARI PROSES KEPERAWATAN.
Proses adalah serangkaian tindakan yang direncanakan untuk mencapai tujuan. Proses keperawatan adalah suatu sistem, metode rasional, yang direncanakan dan memberikan asuhan keperawatan. Tujuannya adalah identifikasi masalah-masalah status klien, aktual dan potensial masalah-masalah perawatan kesehatan, membuat rencana pertemuan untuk identifikasi kebutuhan dan memberikan tindakan perawatan yang khusus pada kebutuhan tersebut.
Aplikasi pada proses keperawatan memerlukan bermacam-macam ketrampilan perawatan antara lain;
Hubungan interpersonal meliputi; komunikasi, mendengar, memberikan perhatian, terbaru, pengetahuan dan informasi.
Ketrampilan tehnik, ditunjang dengan penggunaan peralatan dalam pelaksanaan prosedur.
Ketrmpilan intelektual, yaitu problem solving, pemikir, dan pendapat.
Proses keperawatan yang sering digunakan adalah empat atau lima langkah. Komponen-komponen ini sering digunakan untuk mencapai tujuan dari proses. Dalam proses keperawatan, interaksi antara klien dan perawat adalah penting, seperti yang digambarkan sebagai berikut;
Assm.
Diagnosa
KLIEN Planing PERAWAT
I. EVAL.
Teori keperawatan berbeda penggunaannya dalam setiap langkah. Meskipun berbeda dalam aktifitas perawatan menggunakan proses yang berbeda.
Untuk contoh diagnosa perawatan menggunakan analisa, dan implementasi atau intervensi
Gambaran dalam lima langkah proses keperawatan memeakai beberapa buku sumber.
Komponen-komponen dalam proses keperawatan didiskusikan secara mendalam sebagai berikut:
1. Pengkajian: adalah pengumpulan data, membuktikan data tentang status kesehatan seorang klien. Data tentang fisik,emosi,pertumbuhan,sosial,kebudayaan, intelektual,dan aspek spiritual. Keahlian dalam melakukan observasi, komunikasi, wawancara, dan pemeriksaan fisik sangat penting untuk mewujudkan fase proses keperawatan.
2. Diagnosa : merupakan sebuah proses yang menghasilkan suatu pernyataan atau diagnosa keperawatan. Dalam fase ini, perawat mengelompokkan data, apakah masalah yang aktual atau potensial dimana klien membutuhkan pertolongan perawatan? Untuk menguatkan diagnosa adalah analisa. Analisa adalah mengidentifikasi macam-macam sistem tubuh. Suatu masalah kesehatan yang aktual adalah kehadiran faktor-faktor beresiko yang disembunyikan untuk klien dan keluarga terhadap masalah-masalah kesehatan.
3. Perencanaan ; Mencakup sekelompok langkah-langkah dimana perawat dan klien menyusun prioritas, tujuan , hasil yang diharapkan dan menetapkan suatu rencana untuk memecahkan atau mengurangi masalah klien.
4. Pelaksanaan: Menerapkan rencana pelayanan keperawatan dalam tindakan. Selama fase ini perawat meneruskan pengumpulan data, melakukan perawatan untuk pendekatan perseorangan dan mengarahkan rencana tindakan. Untuk mengarahkan rencana keperawatan perawat menentukan :
• Prioritas klien dipertimbangkan
• Rencana kegioatan keperawatan terlaksana dan menolong klien mencapai hasil yang diinginkan.
• Rencana tersendiri untuk memenuhi kebutuhan klien.
5. Evaluasi : adalah pengkajian respon klien terhadap penerapan keperawatan dan membandingkan respon standar yang ditentukan. Standar ini sering disebut dengan kriteria hasil. Perawat bertujuan memperluas hasil atau tujuan perawatan yang telah ditentukan telah tercapai, tercapai sebaian, atau tak tercapai. Kalau tidak tercapai, dibutuhkan pengkajian kembali, perencanaan, dan bisa mencakup perubahan dalam beberapa fase proses keperawatan, karena setiap langkah mempengaruhi langkah lainnya karena saling berkaitan.
Proses perawatan adalah adaptasi pada tehnik pemecahan ,masalah dan sitem-sistem teori. itu dapat dibandingkan dengan proses kedokteran/medik. Lihat tabel.
II.
III. TABEL PERBANDINGAN PROSES KEPERAWATAN DAN PROSES KEDOKTERAN
Nursing Proses Medical Proses
Assessing
Mengumpulkan data dari
• Cerita perawat
• Pemeriksaan kesehatan
• Meninjau catatan
• Konsultasi dengan anggota team lain
• Meninjau literatur Assessing
Pengumpulan data dari
• Cerita dokter
• Pemeriksaan fisik
• Test diagnosa
• Meninjau literatur
Diagnosing
• Analisa dan sintesis dari data
• Identifikasi dari problem kesehatan
• Penugasan diagnosa perawat Medical diagnosis
• Mengorganisasi data
• Analisa dan interpretasi data
• Perumusan sebuah diagnosa
Planning
• Pembuatan prioritas
• Pembuatan tujuan
• Perkembangan sasaran
• Menuliskan rencana perawat (NCP)
• Penyerahan kegiatan keperawatan Medical planning
• Pembuatan prioritas
• Pembuatan tujuan untuk terapi
• Menuliskan perencanaan terapi
Implementing
• Preimplementasi intervensi
• Pelaksanaan
• Sesudah pelaksanaan strtegi; memperbaharui data yang jelek, meninjau dan merevisi rencana.
Therapi
Pesanan dokter
Therapi dokter
Penyerahan
Evaluating
• Pengumpulan data tentang respon pasien
• Perbandingan data obyek yang tidak dapat dipungkiri dan tujuan
• Determinasi effektifan rencana keperawatan
• Analisa akibat pengaruh variabel
• Modifikasi care plan Evaluating
• Pembuatan keefektifan terapi dokter dalam hubungan tujuan
• Analisis pada variabel
• Merevisi rencana kebutuhan terapi
IV. KEUNTUNGAN PROSES KEPERAWATAN
Proses keperawatan sangat penting untuk perawat dan klien. Manfaat berikut dijelaskan dalam Atkison dan Murray, 1986, pp 5-7.
Keuntungan bagi klien
• Kualitas asuhan keperawatan klien
• Asuhan keperawatan yang kontinue
• Partisipasi klien dalam merawat kesehatannya.
Keuntungan bagi perawat
• Pendidikan bertambah
• Kepuasan kerja
• Pengembangan profesional
• Mneghindari tindakan illegal (Philpott, 1985,p.79)
• Penemuan standar profesional keperawatan
• Penemuan standat dan akreditasi rumah sakit.
KARAKTERISTIK PROSES KEPERAWATAN
• Merupakan sistem yang terbuka, fleksibel, dan dinamis
• Dilakukan melalui pendekatan secara individual pada pemenuhan kebutuhan klien
• Direncanakan
• Diarahkan untuk mencapai tujuan
• Fleksibel untuk menemukan kebutuhan klien, keluarga, dan masyarakat
• Memerlukan kreatifitas perawat dan klien dalam menemukan cara-cara mengatasi atau memecahkan masalah kesehatan.
• Merupakan hubungan interpersonal yang membutuhkan perawat untuk berkomunikasi secara langsung dan konsisten dengan pasien/klien untuk menemukan kebutuhannya.
• Merupakan suatu siklus, semua tahap saling berhubungan dan bukan merupakan awal atau akhir yang absoulut.
• Menekankan hubungan timbal balik yang dilakukan untuk mengkaji ulang masalah rencana keperawatan.
• Dapat diterapkan secara universal. Proses keperawatan digunakan sebagai kerangka kerja asuhan keperawatan berbagai tipe pelayanan kesehatan.
KERANGKA KERJA SEBAGAI SUATU PERTANGGUNGJAWABAN
Tanggung jawab adalah suatu kondisi yang dapat dijawabkan dipertanggungjawabkan pada seseorang atas perilaku khusus yang merupakan bagian dari peran perawat profesional. Proses keperawatan memberikan kerangka kerja untuk mempertanggungjawabakan dan mempertanggung gugat keperawatan serta memaksimalkan tanggung jawab dan tanggung gugat standar pelayanan. (Law, 1983). Perawat bertanggung jawab pada klien, organisasi profesi, kolega, tempat kerja, dan dirinya sendiri. Selain itu proses keperawatan memberikan kerangka kerja untuk pertanggungjawaban pada kegiatan-kegiatandi lima fase, yaitu: Pengkajian, Diagnosa, Perencanaan, Pelaksanaan, dan Evaluasi.
V. PENGANTAR PROSES KEPERAWATAN
Isi Pembahasan
Sejarah persepektif proses keperawatan
Komponen proses keperawatan
Manfaat proses keperawatan bagi perawat dan bagi klien
Ini mempunyai tujuan untuk dapat :
• Menggambarkan komponen proses keperawatan
• Mengidentifikasikan sumbangan perawat-perawat yang terpilih terhadap pengembangan proses keperawatan
• Mengidentifikasikan aktifitas-aktifitas keperawatan yang terlibat pada masing-masing komponen proses keperawatan
• Mengidentifikasi kerekterisrik esensial proses keperawatan
• Membuat daftar manfaat proses keperawatan bagi perawat
• Membuat daftar manfaat proses keperawatan bagi klien
• Menggambarkan proses keperawatan sebagai kerangka bagi pertanggungjawaban dan tanggung gugat.
VI.
Persepektif sejarah proses keperawatan.
Sebelum proses keperawatan berkembang para perawat cenderung memberikan perawatan berdasarkan pesan tertulis secara fisik dan difokoskan pada keadaan penyakit tertentu dari orang yasng dirawat.
Praktek keperawatan yang diberikan secara independent tantang keadaan fisik yang sering didukung oleh intuisi dan pegalaman dari pada metode ilmiah.
Kerangka proses keperawatan merupakan implikasi yang relatif baru. Pda tahun 1955 Hall mendapoat gagasan istilah proses keperawatan. Sejak saat itu bebrbagai perawat telah menggambarkan proses keperawatan dengan cara yang berbeda-beda.
Wiendeubach (1963), menggambarkan tiga langkah dalam keperawatan : observasi, melayani serta membantu dan validasi.
Knowle (1967,pp. 248-72), menyarankan “ 5 D “ perlu bagi penerapan keperawatan; discaver, delve, decide, do, dan discriminate (penemuan, penyelidikan, menentukan, melaksanakan, dan memisahkan).
Pada tahun 1967 Western Interstate Commission of Higher Education (WICHE), mengidentifikasikan proses keperawatan dengan lima langkah: persepsi, komunikasi, interpretasi, intervensi, dan evaluasi.
Juga pada tahun yang sama Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Katholik Amerika mengusulkan empat komponen proses keperawatan; Assessment, planing, intervention, dan evaluation.
Pemakaian proses keperawatan dipraktek klinik didapat legitimasi tambahan dalam tahun 1973, ketika Perkumpulan Perawat Amerika (ANA) menerbitkan standar praktek keperawatan; pengkajian, diagnosa, rencana, intervensi, dan evaluasi.
Selanjutnya sejumlah negara merevisi undang-undang praktek keperawatan serta aspek-aspek keperawatan, proses pearwatan berkembang secara teori dan secara klinik, istilah diagnosa keperawatan mendapat pengakuan yang dapat dipertanggungjawabkan dalam literatur ilmu keperawatan.
Komponen dari prakterk keperawatan.
Proses adalah serangkain tindakan atau perilaku yang yang teratur yang ditujukan untuk mencapai tujuan tertentu. Proses keperawatan merupakan perencanaan pemberian asuhan keperawatan yang sistematis dan rasional. Tujuannya mengidentifikasi status kesehatan klien, masalah kesehatan aktual atau potensial, untuk membuat rencana sesuai kebutuhan dan memberikan tindakan perawatan tertentu untuk memenuhi kebutuhannya.
Proses perawatan adalah suatu siklus dimana komponen-komponen praktek keperawatan mengikuti urutan yang logis tetapi lebih dari satu komponen dapat berlangsung bersamaan(dalam satu waktu)
Untuk dapat menggunakan proses keperawatan secara effektif bagi kebutuhan klien, perawat harus bekerja sama dengan klien. (Individu, keluarga, dan masyarakat). Jika klien tidak dapat ambil bagian dalam perencanaan dan pengambilan keputusan anggota keluarga dapat diajak untuk mewakili klien.
Dalam penerapan praktek keperawatan memerlukan bermacam-macam ketrampilan dari perawat, meliputi; ketrampilan interpersonal, tehnik dan intelektual. Adapun proses keperawatan terdiri atas empat atau lima tahap. Ynag empat tahap terdiri dari; pengkajian, perencanaan, pelaksanaan , dan evaluasi. Pada sistem ini diagnosa termasuk dalam pengkajian. sedangkan pada sistem lima tahap terdiri dari; pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
Penjelasan singkat tentang kelima komponen praktek keperawatan adalah;
Pengkajian
adalah pengumpulan data, pembuktian dan pengorganisasian data mengenai status kesehatan klien.
Data tentang fisik , emosional, perkembangan, sosial budaya, intelektual, dan spiritual didapatkan dari berbagai sumber dan merupakan dasar untuk tindakan dan pengambilan keputusan untuk tahap berikutnya. Ketrampilan observasi komunikasi dan wawancara serta pemeriksaan fisik sangat diperlukan dalam tahap ini.
Diagnosa
adalah pernyataan mengenai gangguan kesehatan klien baik yang aktual maupun potensial, dimana perawat berhak dan mampu untuk mengatasinya. Pada fase ini perawat memilih dan mengelompokkan data status kesehatan, akan masalah aktual dan potensial yang mana dari klien memerlukan bantuan dan faktor-faktor penyebab masalah tersebut. Respon terhadap jawaban tersebut menjadi diagnosa keperawatan. Proses membuat diagnosa disebut; analisa.
Perencanaan
Merupakan serangkaian langkah dimana perawat dan klien menyusun prioritas, menulis tujuan dan hasil yang diharapkan dan membuat rencana tertulis mengenai tindakan yang akan dilaksanakan untuk mengatasi masalah yang telah teridentifikasi dan untuk mengkoordinasikan pemberian asuhan dari seluruh tim kesehatan. Dalam berkolaborasi dengan klien, perawat menentukan intervensi yang specifik untuk tiap diagnosa keperawatan.
Implementasi
adalah pelaksanaan dari tindakan yang direncanakan serta memvalidasi perencanaan yang dibuat atau mendelegasikannya kepada orang yang tepat. Melanjutkan pengumpulan data tidak hanya untuk mengetahui perubahan data (kondisi pasien) yang terjadi, tetapi juga untuk mendapatkan kejadian (data) untuk mengevaluasi pencapaian tujuan pda tahap berikutnya. Untuk mengvalidasi perencanaan perawat menentukan;
Apakah prioritas klien sudah dipertimbangkan
Apakah rencana tindakan yang direncanakan realistis dan dan dapat membantu mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Apakah rencana sudah individual untuk memenuhi kebutuhan tertentu klien.
Evaluasi
Adalah mengkaji respon klien terhadap tindakan-tindakan dan membandingkannya dengan standar yang ditetapkan. Standar ini sering disebutu kriteria hasil. Perawat menentukan sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan tercapai, sudah tercapai semua, sebagian, atau belum tercapai. Jika belum tercapai , perawat melakukan pengkajian ulang mengenai rencana asuhan. Pengkajian ulang dapat merubah sebagian atau seluruh langkah-langkah dari proses keperawatan.
Kegunaan proses keperawatan.
Praktek keperawatan penting bagi perawat dan klien.
Bagi klien
• Asuhan yang berkualitas. Proses keperawatan direncanakan untuk memenuhi kebutuhan individu yang unik. Evaluasi dan pengkajian berulang/berkelanjutan mengenai kelayakan asuhan keperawatan.
• Asuhan berkelanjutan. Rencana perawatan yang tertulis dapat dikaji oleh seluruh anggota tim pemberi asuhan dan dapat mencegah pengulangan informasi bagi klien dan pemberi asuhan.
• Partisipasi klien dalam pemeliharaan kesehatan. Proses tersebut dapat membantu klien mengembangkan ketrampilan yang terkait dengan asuhan kesehatannya dan lebih memperhatikan tujuan asuhan.
Bagi perawat
• Pendidikan perawatan yang sistematis dan konsisten.
The National Legue for Nursing (NLN) yang mengatur akreditasi program pendidikan keperawatan menghendaki sarjan yang kompoten dalam menggunakan proses keperawatan.
• Kepuasan kerja yang tertulis baik memberikan kepercayaan diri perawat, yang mana tindakan keperawatan didasarkan pada identifikasi yang akurat dari masalah klien, sehingga mencegah terjadinya tak terorganisir, mencoba dan salah. Perencanaan memberikan kepuasan jika tujuan tercapai.
Pertumbuhan profesional :Dengan mengevaluasi efektifitas tindakan, perawat belajar mengenai tindakan keperawatan mana yang efektif dan mana yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan klien. Proses tersebut meningkatkan ketrampilan dan pengalaman perawat.
• Menghindari aspek tindakan legal (hukum)
Ketika setiap tahap dari proses keperawatan digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan kepada klien, perawat mempunyai tanggung jawab hukum terhadap klien. Kegagalan dalam melaksanakan pengkajian atau membuat perencanaan akan membawa kosekuensi legal.
• Mendapatkan standar keperawatan profesional.
Kriteria dalam standar praktek keperawatan yang dikembangkan ANA didasarkan pada langkah-langkah dari proses keperawatan.
• Mendapatkan/memenuhi standar akreditasi rumah sakit.: Joint Comition af Acreditation Healt Organitation American menginginkan penerapan proses pearwatan dan rencana tertulis harus disediakan untuk setiap klien yang dirawat di rumah sakit. “Registered Nurse” bertanggung jawab atas hal ini.
Karakteritik proses keperawatan
• Sistem terbuka, fleksibel, dan dinamis
• Merupakan pendekatan yang individual untuk tiap-tiap bagian kebutuhan klien
• Terencana
• Terarah untuk tujuan
• Fleksibel untuk memenuhi kebutuhan klien, keluarga, dan masyarakat.
• Memungkinkan kreatifitas bagi perawat dan klien dalam menentukan tindakan untuk memecahkan masalah yang ditetapkan.
• Merupakan interpersonal. Menuntut perawat untuk berlangsung dan konsisten berkomunikasi dengan klien untuk memenuhi kebutuhannya.
• Siklikal. Tak ada awal dan akhir secara absoulut.
• Menekankan pada feed back (umpan balik)
• Dapat digunakan secara universal, diberbagai tempat pelayanan dan pada klien semua kelompok umur.
VII. TABEL 9.3 PILIHAN PENGETAHUAN DAN KEMAMPUAN YANG DIGUNAKAN UNTUK PROSES KEPERAWATAN
KOMPONEN PENGETAHUAN KEMAMPUAN
Assessing Sistem Biopsikososial dan Spiritual manusia.
Kebutuhan perkembangan manusia.
Kesehatan
Kesakitan
Patofisiologi
Sistem keluarga
Budaya dan nilai pribadi dan klien
Lingkungan Menilai secara sistematis
Komunikasi secara efektif
Menetapkan haubungan suatu pertolongan
Mendapatkan sejararh kesehatan
Melakukan penilaian perawatan fisik
Diagnosing Kategori diagnosa perawat bahwa perawat dapat mengenali dan mengobati.
Faktor etiologi diagnosa keperawatan
Tanda atau karakteristik diagnosa keperawatan.
Faktor resiko teman sejawat dengan potensial dignosa keperawatan.
Standar ukuran normal
Mekamisme koping individual
Membedakan isyarat dan kesimpulan
Berpikir secara kritik
Dapat berfikir secara induktif dan deduktif
Mengorganisasi data
Mengenali isyarat dan hubungan
Menghasilkan dan test hipotesis sementara
Membuat suatu diagnosa perawat.
Planning Nilai-nilai dan kepercayaan klien lapangan praktek keperawatan sumber yang ada gunanya pelaksanaan keperawatan
Intervensi (campur tangan) peran dari personil kesehatan lain
Memecahkan masalah
Membuat keputusan
Menulis tujuan klien yang menceritakan pada diagnosa keperawatan dalam kolaborasi dengan klien.
Memprioritaskan tempat
Menulis akibat tindakan yang menceritakan untuk tujuan.
Memilih dan membuat strategi keperawatan yang melindungi dan cocok untuk menjumpai tujuan klien.
Menulis keperawatan lainnya
Mendapatkan kerja sama dan partisipasi klien dan personil kesehatan lainnya.
Implementing Bahasa fisik dan keselamatan
Asepsi
Prosedur
Menggunakan peralatan
Organization
Management
Learning
Perubahan teori
Sokongan anjuran
Kebenaran klien
Perkembangan level klien Observasi secara sistematik
Komunikasi secara efektif
Memelihara suatu hubungan saling menolong
Melakukan tehnik psikomotor
Membicarakan cara menolong diri sendiri
Menyampaikan caring.
Perbuatan menganjurkan klien.
Mengrurus
Supervisi dan evaluasi pekerjaan lyang lain.
Melaksanakan medikan yang lain.
Evaluating Tujuan klien dan hasil kriteria
Respon klien untuk intervensi nursing. Mendapatkan data yang relevan untuk membandingkan dengan hasil kriteria.
Menarik kesimpulan mengenazi tujuan yang dicapai.
Menceritakan perbuatan keperawatan untuk hasil kriteria.
Menaksir rencana asuhan keperawatan.
VIII.
IX.
X. TABEL PERBANDINGAN PROSES KEPERAWATAN DAN PROSES
XI. KEDOKTERAN
Nursing Proses Medical Proses
Assessing
Mengumpulkan data dari
• Cerita perawat
• Pemeriksaan kesehatan
• Meninjau catatan
• Konsultasi dengan anggota team lain
• Meninjau literatur Assessing
Pengumpulan data dari
• Cerita dokter
• Pemeriksaan fisik
• Test diagnosa
• Meninjau literatur
Diagnosing
• Analisa dan sintesis dari data
• Identifikasi dari problem kesehatan
• Penugasan diagnosa perawat Medical diagnosis
• Mengorganisasi data
• Analisa dan interpretasi data
• Perumusan sebuah diagnosa
Planning
• Pembuatan prioritas
• Pembuatan tujuan
• Perkembangan sasaran
• Menuliskan rencana perawat (NCP)
• Penyerahan kegiatan keperawatan Medical planning
• Pembuatan prioritas
• Pembuatan tujuan untuk terapi
• Menuliskan perencanaan terapi
Implementing
• Preimplementasi intervensi
• Pelaksanaan
• Sesudah pelaksanaan strtegi; memperbaharui data yang jelek, meninjau dan merevisi rencana.
Therapi
Pesanan dokter
Therapi dokter
Penyerahan
Evaluating
• Pengumpulan data tentang respon pasien
• Perbandingan data obyek yang tidak dapat dipungkiri dan tujuan
• Determinasi effektifan rencana keperawatan
• Analisa akibat pengaruh variabel
• Modifikasi care plan Evaluating
• Pembuatan keefektifan terapi dokter dalam hubungan tujuan
• Analisis pada variabel
• Merevisi rencana kebutuhan terapi
Medical diagnosa mempunyai lima fase;
1. Suspected diagnosis mengikuti inisial (awal) keluhan pasien
2. Tentative diagnosis mengikuti sejarah kedokteran
3. Provisional diagnosis mengikuti pemeriksaan fisik
4. Devinitive diagnosis diagnosa test
5. Anatomic diagnosis mengikuti suatu post mortem.
A. HUBUNGAN DI ANTARA KLIEN DAN PERAWAT. MENGIKUTI DAN MENDALAMI KOTAK RANGKUMAN KARAKTERISTIK PROSES NURSING.
B. .PENTINGNYA PROSES NURSING
Proses keperawatan penting pada klien dan perawat. Mengikuti Benefits telah diceritakan pada ( Atkinson dan Murray, 1986, PP 5 - 7 )
XII. PENTING UNTUK PERAWAT
• Kualitas perawat klien.
Asuhan keperawatan dibutuhkan untuk menemukan bermacam kebutuhan individu, keluarga, atau masyarakat. Evaluasi selanjutnya dan menaksirkan perubahan klien. Menjamin kebutuhan level asuhan yang cocok.
• Asuhan selanjutnya.
Menuliskan rencana asuhan dapat diperoleh pada semua orang meliputi perawatan kliendan pencegahan klien serta penemuan untuk memperbaiki informasi dan preferens pada setiap pemberian asuhan.
• Partisipasi oleh klien dalam perawatan kesehatannya. Proses keperawatan dapat menolong klien untuk menumbuhkan kemempuan usaha perawatan kesehatannya, dan menjadi lebih komitmen pada tujuan keperawatan.
C. EVOLUSI PROSES KEPERAWATAN
Orlando, I.J. (1961)
Mengemukakan bahwa proses keperawatan sebagai interaksi dan proses tersebut terdiri dari tiga tahap: peri laku klien, reaksi perawat, dan tindakan perawat.
Henderson, V. (1965)
Menyatakan bahwa proses keperawatan seperti langkah-langkah metode ilmiah.
Wiedenbach, E. (1963-1970)
Memperkenalkan tiga langkah proses keperawatan : Identifikasi bantuan yang diperlukan, mengatur bantuan, validasi bahwa bantuan telah diberikan
Knowes, L (1967)
Memperkenalkan teori “Five Ds” dari proses keperawatan ; discover, delve, decide, do.
Catholic Univercity of America (1967)
Mengajukkan empat komponen proses keperawatan; pengkajian, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
Orem, D. (`1971)
Menyatakan bahwa ada tiga langkah dalam asuhan perawatan; penentuan kebutuhan asuhan awal dan berkelanjutan, mendesain tindakan keperawatan yang dapat mencapai tujuan klien, memulai, mengarahkan, dan mengontrol tindakan.
AN (American Nursing Asociation, 1973)
Mengemukakan lima langkah proses keperawatan; pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
Roy, SrC. 91976)
Menggunakan enam langkah proses keperawatan; pengkajian, tingkah laku klien, pengkajian faktor yang mempengaruhi, identigikasi massalah, penentuan tujuan, entervensi, seleksi pendekatan, dan evaluasi. Mengajukan istilah diagnosa perawatan.
D. KOMPONEN PROSES KEPERAWATAN
Suatu proses adalah serangkaian tindakan atau perilaku yang terencana yang ditujukan yntuk mecapai tujuan. Proses keperawatan merupakan metode perencanaan, dan pemberian asuhan keperawatan yang sistematis dan rasional. Tujuannya untuk mengidentifikasi status kesehatan klien, masalah aktual dan potensial dari kesehatan klien, untuk membuat perencanaan untuk memenuhi kebutuhan yang teridentifikasikan, dan untuk memberikan tindakan keperawatan tertentu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.
Proses keperawatan bersifat siklikal, dimana komponen-komponen proses keperawatan mengikuti urutan yang logis tetapi lebih dari satu komponen dapat berlangsung bersamaa(dalam satu waktu).
Untuk menggunakan proses keperawatan secara sangat efektif dan individual bagi tiap kebutuhan klien, perawat harus kerja sama dengan klien. Individu, keluarga, atau masyarakat dapat dipertimbangkan sebagai klien. Jika klien tidak dapat ambil bagian dalam perencanaan dan mengambil keputusan, anggota keluarga dapat diajak untuk berpartisipasi mewakili klien.
Penerapan proses keperawatan memerlukan berbagai macam ketrampilan dari perawat, meliputi ; ketrampilan interpersonal, tehnik, dan itelektual. Ketrampilan interpersonal termasuk komunikasi, mendengar, menarik perhatian, membina hubungan saling percaya, memberi pengertian/informasi dan perhatian. Ketrampilan tehnik dimanifestasikan dalam kemampuannya menggunakan alat dan melaksanakan prosedur. Ketrampilan intelektual yang diharapkan perawat termasuk pemecahan masalah, berfikir kritis, dan membuat keputusan keperawatan. Pembuatan keputusan terlibat dalam setiap tahap proses keperawatan (Yura and Wallsh, 1988, p. 108)
Proses keperawatan terdiri atas rangkaian empat atau lima tahap. Kempat tahap tersebut adalah; pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pada sistem ini diagnosa termasuk dalam pengkajian. Pada sistem lima langkah, terdiri dari pengkajian, perumusan diagnosa, perencanaan, intervensi, dan evakuasi.
Kedua sitem, empat dan lima langkah tersebut memberikan struktur yang terorganisasi dalam mencapai tujuan proses. Dalam kedua proses keparawatan tersebut antara perawat klien sangat penting terlihat dalam diagram berikut;
Penjelasan singkat megenai kelima komponen p[roses keperawatan tersenut adalah sebagai berikut;
• Pengkajian
Adalah pengumpulan, verifikasi, dan pengorganisasian data mengenai status kesehatan klien. Data tentang fisik, emosional, perkembangan, sosial budaya, intelektual, dan spiritual didapatkan dari berbagai sumber dan merupakan dasar tindakan dan pengambilan keputusan untuk tahap berikutnya. Ketrampilan observasi, komunikasi, dan wawancara serta pemeriksaan fisik sangat diperlukan dalam tahap i
• Diagnosa
Yaitu proses yang menghasilkan sesuatu pernyataan diagnostik. Diagnosa keperawatan adalah pernyataan mengenai gangguan kesehatan klien baik yang aktual atau potensial, dimana perawat berhak dan mampu untuk mengatasinya. Pada fase ini perawat memilih/meringkas dan mengelompokkan data dan kemudian bertanya “ masalah aktual dan potensial apa dari status kesehatan yang mana klien memerlukan bantuan” dan “faktor-faktor pentebab masalah” tersebut. Respon terhadap jawaban tersebut menjadi diagnosa keperawatan. Proses untuk membuat diagnosa dinamakan analisa. Menganalisa adalah memecah keseluruhan mejadi bagian=bagian. Masalah aktual adalah masalah yang ada pada saat ini. Masalah poitensial adalah adanya resiko atau faktor-faktor yang merupakan predisposisi seseorangh atau keluarga untuk mengalami masalah kesehatan.
• Perencanaan
Merupakan serangkaian langkah dimana perawat danklien menyusun prioritas, menulis tujuan dan hasil yang diharapkan, dan membuat rencana tertulis mengenai tindakan yang akan dilaksanakan untuk mengatasi masalah yang telah teridentifikasi, dan untuk mengkoordinasikan pemberian asuhan dari seluruh tim kesehatan. Daam berkolaborati dengan klien, perawat menentukan intervensi yang spesifik untuk tiap diagnosa keperawatan.
• Implementasi
Adalah pelaksanaan dari tindkan perencanaan. Selama tahap ini perawat melanjutkan pengumpulan data, melaksanakan tindakan yang telah ditetapkan atau mendelegasikannya kepada orang yang tepat, serta mengvalidasikan perencanaan yang dibuat.Kelanjutan pengumpulan data tidak hanya untuk megetahui perubahan data (konsisi klien) yang terjadi tetapi juga untuk mendapatkan kejadian (data) untuk mengevaluasi pencapaian tujuan pada tahap berikutya. Untuk memvalidasi perencanaan perawat menentukan ; (a) Apakah prioritas klien sudah diperhitungkan, (b). Apakah rencana yang direncankan realitas dan dapat membantu mecapai tujuan yang telah ditetapkan. ©. Apakah rencana sudah individual untuk memenuhi kebutuhan tertentu klien.
• Evaluasi
Adalah mengkaji respon klien terhadap tindakan dan membandingkannya dengan standart yang ditetapkan. Standar ini sering disebut juga kriteria hasil. Perawat menentukan sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan tercapai, sudah tercapai semua, sebagian, atau belum tercapai. Jika belum tercapai perawat memerlukan pengkajian ulang mengenai rencana asuhan. Pengkajian ulang dapat merubah sebagian atau seluruh langkah-langkah dari proses keperawatan.
Perbandingan Proses Keperawatan dengan Proses Medis
Proses Keperawatan Proses Kedokteran
Pengkajian
• Pengumpulan data dari
• Riawayat perawatan
• Pemeriksaan kesehatan
• Reviw catatan
• Konsultasi dengan anggota team yangh lain
• Review literatur
Diagnosa
• Analisa dan sintesa data
• Mengidentifikasi masalah kesehatan
• Formulasi diagnosa keperawatan
Perencanaan
• Penulisan rencana asuhan Penetapan prioritas
• Penetapan tujuan
• Pengembangan objektif
• keperawatan
• Pendelegasian tindakan perawatan
Implementasi
• Tindakan preimplementasi
• Implentasi
• Strategi postimplementasi update data dasar, review dan memperbaiki perencanaan.
Evaluasi
• Pengumpulan tetang respon klien
• Perbandingan data dengan tujuan dan sasaran yang ditetapkan
• Menetapkan efektifitas rencana asuhan
• Menganalisa faktor yang mempengaruhi hasil
• Modifikasi rencana asuhan Pengkajian
• Pengumpulan data dari
• Riwayat medis
• Pemeriksaan fisik
• Test diagnosa
• Review literatur
Diagmosa
• Organisasi data
• Analisa dan interpretasi data
• Formulasi satu diagnosa
Perencanaan
• Menetapkan prioritas
• Penetapan tujuan tera
• Penulisan rencana terapi
Therapi
• Perintah dokter
• Terapi medis
• Referrals
Evaluasi
Mnentukan efektifitas terapi medis
Analisa variabel
Revisi rencana pengobatan seperlunya.
1. KEGUNAAN PROSES KEPERAWATAN
Proses keperawatan penting bagi perawat dan klien.
Bagi Klien
• Asuhan yang berkualitas, proses keperawatan direncanakan untuk memenuhi kebutuhan individu yang unik. Evaluasi dan reasesmen yang berulang-ulang/berkelanjutan mengenai perubahan kebutuhan klien menjadi tingkat kelayakan asuhan.
• Asuhan berkelanjutan, rencana perawatan yang tertulis dan dapat dikaji oleh seluruh anggota team pemberi asuhan dan dapat mencegah pengulangan informasi bagi klien dan preference pada tiap pemberi asuhan.
• Partisipasi klien dalam asuhan kesehatanya. Proses tersebut dapat membantu klien mengembangkan ketrampilan yang terkait dengan asuhan kesehatannya dan lebih memperhatikan asuhan.
a. Bagi Perawat
• Pendidikan perawatan yang sistematis dan kosisten.
The National Legue for Nursing (NLN) yang mengatur akreditasi program pendidikan perawatan, menghendaki sarjana yang kompoten dalam menggunakan proses keperawatan.
• Kepuasan kerja
Rencana keperawatan yang tertulis baik memberikan kepercayaan diri perawat yang mana tindakan keperawatan didasarkan pada identifikasi yang akurat dari masalah pasien, sehingga mencegah terjadinya tak terorganisir, trial, and error. Perencanaan memberikan kepuasan jika tujuan tercapai.
• Pertumbuhan profesional
Dengan mengevaluasi efektifitas tindakan perawat mengenal tindakan keperawatan mna yang efektif dan mana yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan klien. Proses tersebut meningkatkan ketrampilan dan pengalaman perawat.
• Menghindari aspek ligal (hukum)
Ketika setiap tahap dari proses keperawatan digunakan untuk m,emberikan asuhan keperawatan kepada klien, perawat mempunyai tanggung jawab hukum kepada klien. Kegagalan dalam melaksanakan pengkajian atau pembuatan perencanaan akan membawa koksekuensi legal (hukukm).
• Mendapatkan standart keperawatan profesional
Kriteria dalam standart keperawatan praktis (praktek keperawatan) yang dikembangkan ANA didasarkan pada langkah-langkah dari proses keperawatan.
• Mendapatkan atau memenuhi standart akreditasi rumah sakit
Joint Comition on Acreditation Healt Organisation American menginginkan penerapan proses keperawatan dan rencana asuhan harus disediakan untuk setiap klien yang dirawat di rumah sakit. “Registered nurse” bertanggung jawab atas hal ini.
1) Kriteria Proses Keperawatan
• Sistem terbuka, fleksibel, dan dinamis
• Merupakan pendekatan yang individual untuk tiap-tiap bagian kebutuhan klien
• Terencana
• Terarah untuk tujuan
• Fleksibel untuk memenuhi kebutuhan klien, keluarga, dan masyarakat
• Memungkinkan kreatifitas bagi perawat dan klien dalam menentukan masalah yang ditetapkan.
• Merupakan interpersonal. Menurut untuk secara langsung dan konsisten berkomunikasi dengan klien untuk memenuhi kebutuhannya.
• Siklikal. Tidak ada awal dan akhir secara absolut.
• Menekankan pada feed back (umpan balik)
• Dapat digunakan secara universal. Dapat digunakan diberbagai tempat pelayanan dan pada klien semua kelompok umur.
2. KERANGKA KERJA UNTUK TANGGUNG GUGAT
Tanggung gugat adalah dimana seseorang dapat menjawab dan bertanggung jawab atas perilaku tertentunya yang merupakan bagian dari peran perawat profesional. Perawat bertanggung jawab kepada klien, profesi, kolega, instansi tempat kerja, dan kepada diriya sendiri.
Perawat profesional bertanggunga jawab gugat terhadap aktifitas terhadap setiap tahap proses keperawatan.
2) Pengkajan
Perawat bertanggung gugat untuk mengumpulkan informasi, mendukung partisipasi klien, dan keputusan validasi data. Ketika mengkaji perawat bertanggung jawab gugat atas adanya kesenjangan, ketidakakuratan, dan kekaburan Ubias data.
3) Diagnosa
Perawat bertanggung gugat terhadap keputusan masalah klien (diagnosa keperawatan). Apakah masalah kesehatan tersebut dikenali oleh klien atau hanya perawat saja ?
Apakah dalam menetapkan asalah tersebut perawat sudah memperhatikan seluruh aspek (bio-osiko-sosial-spiritual).
4)
5) Perencanaan
Perawat bertanggung gugat atas penentuan prioritas, menetapkan tujuan klien , memperkirakan hasil, dan perencanaan tindakan keperawatan.
6) Implementasi
Perawat bertanggung gugat atas semua tindakannya dalam memberikan asuhan keperawatannya. Tindakan tersebut baik yang dilaksankan secara madiri atau berkolaborasi dengan yang lain. Sering kali perawat mendelegasikan suatu tidakan kepada yang lain, dalam hal ini perwat masih bertanggung gugat atas apa yang didelegasikan, dan bagaimana delegasi tersebut dilaksanakan. Tindakan keperawatan harus dicatat setelah dilaksanakan, sehingga memberikan rekaman tertulis.
7) Evaluasi
Dengan menetapkan tingkat pencapaian tujuan, perawat bertanggung gugat terhadap keberhasilan atau kegagalan dalam tindakan keperwatan. Perawat harus dapat menjelaskan mengapa tujuan tidak tercapa, dan tahap-tahap mana yang perlu diadakan perubahan dan mengapa perlu dirubah.
Untuk dapat menerapkan proses keperawatan, perawat bertanggung jawab kepada dirinya sendiri untuk mempunyai pengetahuan dan ketrampilan.
PROSES KEPERAWATAN
PENDAHULUAN
• KEPERAWATAN BENTUK PELAYANAN PROFESIONAL
• TINDAKAN BUKAN RUTINITAS, TANPA POLA, TDK BERDASAR BUKTI ILMIAH
• UNTUK ITU PELAYANAN KEPERAWATAN DILAKSANAKAN SECARA SISTEMATIS DAN TERARAH untuk KEPUASAN KLIEN
• Proses keperawatan merupakan jawaban keterampilan intelektual,àpenyelesaian masalah mutu asuhan keperawatan interpersonal dan keterampilan teknis
à• Proses keperawatan memastikan penyelesaian masalah kesehatan klien berdasarkan landasan teori yang kuat
• WUJUD TANGGUNG JAWAB DAN TANGGUNG GUGAT
PENGERTIAN
• PROSES adalah suatu rangkaian kegiatan yang berurutan yang terdiri dari komponen-komponen yang saling terkait, berhubungan, dinamis dlm rangka mencapai tujuan ttt.
• KEPERAWATAN adalah suatu btk pelayanan profesional yg merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan berdasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat, baik sehat maupun sakit yg mencakup seluruh proses kehidupan.
ARTI PROSES KEPERAWATAN
• YURA & WALS (1983) ; Adalah suatu metode yg sistematis dan ilmiah yg digunakan perawat dalam mncapai atau mempertahankan kead. Bio,psiko,sosio,spritual yg optimal mll tahap pengkajian,identifikasi diagnosa kep,penentuan rencana kep., implementasi tindakan kep., serta evaluasi
• CAROL V.A (1991) PROSES KEPERAWATAN adalah metode yg sistematis untuk mengkaji respon manusia thd masalah kesehatan dan membuat rencanakeperawatan yg bertujuan mengatasi masalah tersebut.
• PROSES KEPERAWATAN adalah rangkaian kegiatan pemecahan masalah yg ilmiah, logis, sistematis, dan terorganisir bertujuan membantu klien mencapai tkt. kesehatan dan pemeliharaan kesehatan scr optimal sesuai dgn kebutuhannya mll langkah-langkah: pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi keperawatan.
Pada hakikatnya proses teknik penyelesaian/pemecahan masalah (problem solving),àkeperawatan proses terapeutik, melibatkan tenaga keperawatan, individu, keluarga, kelompok maupun masyarakat mencapai derajat kesehatan optimal.
Proses keperawatan adalah :
1. Suatu pendekatan sistematis untuk mengenal masalah-masalah pasien dan mencarikan alternatif pemecahan masalah dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan pasien.
2. Merupakan proses pemecahan masalah yang dinamis dalam memperbaiki dan meningkatkan kesehatan pasien sampai ke tahap maksimum.
3. Merupakan pendekatan ilmiah
4. Terdiri dari 4 tahap : pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Atau, ada pula yang menterjemahkannya ke dalam 5 tahap : pengkajian, perumusan diagnosis keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
SEJARAH
• Proses keperawatan pertama kali dijabarkan oleh Hall (1955)
• Tahun 1960, proses keperawatan diperkenalkan secara internal dalam keperawatan
• Wiedenbach (1963) mengenalkan proses keperawatan dalam 3 tahap : observasi, bantuan pertolongan dan validasi.
• Yura & Walsh (1967) menjabarkan proses keperawatan menjadi 4 tahap : pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pada tahun 1967, edisi pertama proses keperawatan dipublikasikan.
• Bloch (1974), Roy (1975) Mundinger & Jauron (1975) dan Aspinall (1976) menambahkan tahap diagnosa, sehingga proses keperawatan menjadi 5 tahap : pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Proses ini dari analisis pikir : dicover (menemukan), delve (mempelajari atau menganalisis), decide (memutuskan), do (mengerjakan) dan discriminate (identik dengan evaluasi).
• Dengan berkembangnya waktu, proses eperawatan telah dianggap sebagai suatu dasar hukum praktik keperawatan. ANA (1973) menggunakan proses keperawatan sebagai suatu pedoman dalam pengembangan Standart Praktik Keperawatan.
• Tahun 1975 : diadakan konferensi nasional tentang klasifikasi diagnosis keperawatan setiap dua tahun di Universitas Sr. Louis. Klasifikasi diagnosis keperawatan ini kemudian disebut dengan NANDA (North American Nursing Diagnoses Association).
KARAKTERISTIK PROSES KEPERAWATAN
SIFAT PROSES KEPERAWATAN
• PORPOSEFUL : TUJUAN JELAS ; MEMENUHI KEBUT. KLIEN BERDASARKAN MASALAH KEP.
• DINAMIS ; DAPAT BERUBAH DAN DIPERBAHARUI
• SIKLUS (CYCLE) ; BERKESINAMBUNGAN DARI PENGKAJIAN-EVALUASI.
• INTERDEPENDENT ; SALING TERGANTUNG (DX KEP, BERDASAR PENGKAJIAN, ……… )
• INTERAKTIF ; DASAR HUB. ADALAH HUB. TIMBAL BALIK PERAWAT KLIEN
• FLEKSIBEL : TIDAK KAKU
• ARUTAN DAPAT BERUBAH
• DAPAT DIGUNAKAN SEMUA MASALAH KESEHATAN
• SEGALA TATANAN (RS /PUSKESMAS)
• KLIEN ; INDIVIDU, KELUARGA, KELOMPOK , MASYARAKAT
• TEORITIS ; HARUS SELALU DIDASARKAN ILMU, MODEL DAN FILOSOFI KEP.
• HUMANISTIK ; MEMANDANG KLIEN SBG MANUSIA
• HOLISTIK ; UTUH (BIOPSIKOSOSIOSPRITUAL)
• CARE ;BERLANDASKAN STANDAR DAN ETIK KEPERAWATAN
UNSUR PROSES KEPERAWATAN
• UNSUR KOGNITIF (KECAKAPAN INTELEKTUAL) ; PENGET. TTG PERKEMB., PERILAKU, FISIOLOGI DLL. DASAR DALAM MEMBUAT KEPUTUSAN DAN BERPIKIR
• UNSUR PERILAKU (KETERAMPILAN DALAM HUBUNGAN ANTAR MANUSIA) ; MEMBINA HUB TERAPETIK DAN SALING PERCAYA, HUB PERAWAT DG PERAWAT DAN TIM KESEHATAN
• UNSUR KETERAMPILAN (TEKHNIS)
TUJUAN PROSES KEPERAWATAN
• TUJUAN UMUM : Memberikan suatu kerangka kerja berdasarkan kebutuhan klien, keluarga dan masyarakat, sehingga kebutuhan perawatan kesehatan klien, keluarga dan masyarakat dapat terpenuhi.
• TUJUAN KHUSUS :
1. Mempraktekkan metode pemecahan masalah dalam praktek keperawatan (problem solving)
2. Menggunakan standart dalam praktek keperawatan
3. Memperoleh metode yang baku, rasional dan sistematis
4. Memperoleh metode yang dapat digunakan dalam berbagai macam situasi
5. Memperoleh asuhan keperawatan yang berkualitas tinggi
MANFAAT PROSES KEPERAWATAN
Bagi Pelayanan Kesehatan :§
1. Pedoman yang sistematis bagi terselenggaranya pelayanan kesehatan
2. Sebagai alat untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan
Bagi Pelaksana§ Keperawatan
1. Meningkatkan mutu pelayanan keperawatan
2. Bila semua kebutuhan klien dapat dipenuhi, tentu akan dapat mempercepat proses penyembuhan klien dan kepuasan bagi klien akan pelayanan keperawatan yang diberikan. Dengan demikian, mutu asuhan keperawatan akan meningkat.
3. Pengembangan ketrampilan intelektual dan teknis bagi tenaga pelaksana keperawatan.
4. Peningkatan citra keperawatan dan tenaga keperawatan.
5. Jalan yang paling tepat untuk meningkatkan citra keperawatan dan profesi keperawatan adalah dengan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan. Kepuasan knsumen terhadap pelayanan keperawatan menunjukkan keyakinannya terhadap profesi keperawatan.
6. Meningkatkan peran dan fungsi perawatan dalam pengelolaan asuhan keperawatan.
7. Pengakuan otonomi keperawatan oleh masyarakat dan profesi lain.
8. Profesi keperawatan memberikan kesempatan kepada tenaga keperawatan untuk melaksanaan otonomi profesinya, yang didasari oleh tanggung gugat dan tanggung jawab, penerapan etika profesi dan standart praktek keperawatan.
9. Peningkatan rasa solidaritas.
10. Kesamaan metode praktek keperawatan yang digunakan oleh semua tenaga keperawatan akan memperkuat persatuan serta menggambarkan otonomi dan identitas keperawatan.
11. Peningkatan kepuasan tenaga keperawatan.
12. Kepuasan konsumen terhadap pelayanan keperawatan dengan sendirinya akan menimbulkan kepuasan bagi tenaga perawatan.
13. Memupuk rasa percaya diri dalam memberikan asuhan keperawatan
14. Untuk pengembangan ilmu keperawatan.
15. Proses keperawatan dapat mendukung dan memberi sumbangan dalam pengembangan penelitian ilmu keperawatan, sehingga dapat dikembangkan metode-metode yang baku dalam memberikan asuhan keperawatan.
Bagi Klien§
1. Aspek keperawatan yang diterima bermutu dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah
2. Merangsang partisipasi pasien dalam perawatan dirinya (self care)
3. Kelanjutan asuhan
4. Terhindar dari mal-praktik
KOMPONEN PROSES KEPERAWATAN
Tahap-tahap Proses Keperawatan
PENGKAJIAN
1. TAHAP AWAL PROSES KEPERAWATAN
2. SUATU PROSES YG SISTEMATIS DLM PENGUMPULAN DATA DARI BERBAGAI SUMBER UNTUK MENGEVALUASI & MENGIDENTIFIKASI STATUS KES. KLIEN.
3. SECARA KOMPREHENSIF
KERANGKA DASAR
1. Iindividu mrp multidimensional yg selalu dihub. Dg kebut.
2. Individu berfungsi sbg satu kesatuan yg utuh yg dimulai sejak konsepsi sampai kematian
3. Perubahan dlm satu sistem akan mempengaruhi sistem lain
4. Individu mrp sistem terbuka yg berinteraksi dg lingkungan
5. Tiap individu mpy pola yg unik dlm memenuhi kebutuhannya
6. Semua perilaku individu mpy maksud tertentu
7. Kesehatan mrp kead. Dinamis yg berada dlm suatu rentang
8. Kes. Yg optimal sbg kead. Yg ditandai dg tercapainya potensi kes. Yg maksimal
9. Individu yg sehat ditandai dg kemamp. Beradaptasi thd perubahan dimensi perkemb., psikologik, sosiokultural, dan fisiologik
10. Tujuan perawatan adl membantu individu untuk mencapai ataun meningkatkan kead. Kesehatannya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan :
1. Memahami secara keseluruhan situasi yang sedang dihadapi oleh klien dengan cara memperhatikan kondisi fisik, psikologi, emosi, sosialkultural, dan spiritual yagn bisa mempengaruhi status kesehatannya.
2. Mengumpulkan semua informasi yang bersangkutan dengan masa lalu, saat ini bahkan bahkan sesuatu yang berpotensi menjadi masalah bagi klien guna membuat suatu database yang lengkap. Data yang terkumpul berasal dari perawat-klien selama berinteraksi dan sumber yang lain. (Gordon, 1987;1994)
3. Memahami bahwa klien adalah sumber informasi primer.
4. Sumber informasi sekunder meliputi anggota keluarga, orang yang berperan penting dan catatan kesehatan klien.
Kegiatan ….
1. Pengumpulan data
2. Validasi data
3. Pengorganisasian data
4. Identifikasi masalah
Metode pengumpulan data
1. Melakukan interview/wawancara.
2. Riwayat kesehatan/keperawatan
3. Pemeriksaan fisik
4. Mengumpulkan data penunjang hasil laboratorium dan diagnostik lain serta catatan kesehatan (rekam medik).
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Diagnosa keperawatan adalah menganalisis data subjektif dan objektif. Diagnosa keperawatan melibatkan proses berpikir kompleks tentang data yang dikumpulkan dari klien, keluarga, rekam medik, dan pemberi pelayanan kesehatan yang lain.
2. The North American Nursing Diagnosis Association (NANDA, 1992) mendefinisikan diagnosa keperawatan semacam keputusan klinik yang mencakup klien, keluarga, dan respon komunitas terhadap sesuatu yan berpotensi sebagai masalah kesehatan dalam proses kehidupan.
KOMPONEN DX KEP.
1. MASALAH (PROBLEM) ; MENGGAMBARKAN PERUBAHAN STATUS KES. KLIEN
2. PENYEBAB (ETIOLOGI) ; MENCERMINKAN PENYEBAB DARI MASALAH, FRASE “BERHUBUNGAN DENGAN”
3. DATA (SIGS AND SYMPTOM) ; DIPEROLEH SAAT PENGKAJIAN, BUKTI ADANYA MASALAH, FRASE “DITANDAI OLEH”
Tipe Diagnosa Keperawatan
a. Aktual
Menggambarkan Masalah nyata saat ini sesuai data yg ditemukan,adanya batasan karakteristik mayor.
Contoh: “ Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan immobilisasi lama sekunder terhadap fraktur perlvis”
b. Resiko
Menggambarkan penilaian klinis dimana individu/kelompok lbh rentan mengalami masalah dibanding individu/kelompok lain dlm situasi yang sama. masalah kes. Yg nyata akan terjadi jika tdk dilakukan intervensi.
Contoh: “ Resiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer”
c. Kesejahteraan/wellness
Penilaian klinis ttg individu, keluarga atau komunitas dlm transisi dari tingkat kesejahteraan ttt ke tingkat kesejahteraan yg lebih tinggi. pernyataan “potensial peningkatan” tidak mengandung unsur “yg berhubungan dengan”
PERENCANAAN KEPERAWATAN
Tujuan:
a. Administratif: lebih fokus,tanggung jawab, independen, perbaikan kualitas askep.
fokus, arahàb. Klinik: prioritas diagnosa àdokumentasi, alat komunikasi, kriteria hasil dan tujuan keperawatan evaluasi, mengarahkan intervensi.
Langkah-langkah
• Menetukan prioritas
• Menetapkan tujuan keperawatan
• Menetapkan kriteria evaluasi
• Menyusun rencana intervensi keperawatan
• Menformulasikan rencana perawatan (Nursing Care Plan)
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
• MENGAPLIKASIKAN RENCANA ASUHAN KEP. KE DLM BENTUK INTERVENSI KEP. GUNA MEMBANTU KLIEN MENCAPAI TUJUAN YG TELAH DITETAPKAN.
• TIGA TAHAP
• PERSIAPAN (DATA,PERAWAT, KLIEN, LINGK., SARANA PRASARANA)
• PELAKSANAAN
• TERMINASI
PETUNJUK IMPLEMENTASI
• TIAP TINDAKAN PASTIKAN RASIONALISASINYA, EFEK YG DIHARAPKAN, KEMUNGKINAN EFEK SAMPING
• YAKINKAN DATA & MASALAH MASIH RELEVAN
• BUKAN KEGIATAN MEKANIK, O/KI PERLU KAJI RESPON KLIEN
• IKUT SERTAKAN KLIEN
PELAKSANA
• PERAWAT
• KLIEN
• KELUARGA
• TENAGA NON KEPERAWATAN
PRINSIP “CWIPAT”
• CHECK
• WASH YOUR HAND
• IDENTIFY THE PATIENT
• PROVIDE FOR SAFETY AND PRIVACY
• ASSESS THE PROBLEMS
• TELL THE PERSON OR TEACH THE PERSON ABOUT YOU ARE GOING TO DO
EVALUASI KEPERAWATAN
• MEMBANDINGKAN HASIL SUATU TINDAKAN KEPERAWATAN DENGAN NORMA ATAU KRITERIA TUJUAN YG TELAH DIBUAT
• KEMUNGKINAN HASIL EVALUASI ;
• TUJUAN TERCAPAI
• TUJUAN TERCAPAI SEBAGIAN
• TUJUAN TIDAK TERCAPAI
• TIMBUL MASALAH BARU
DOKUMENTASI PROSES KEPERAWATAN
• MRP PERNYATAAN TTG KEJADIAN / AKTIVITAS DGN CATATAN TERTULIS
• DAI PENGKAJIAN SAMPAI EVALUASI
• SARANA KOMUNIKASI
• DAPAT SBG ALAT BUKTI
• MEMUDAHKAN & MEMBANTU MENGATASI MASALAH KLIEN
• REFERENSI PEMBELAJARAN
Sumber :
Catatan Kuliah Konsep Dasar Keperawatan Stikes Muhammadiyah Banjarmasin Tahun 2009
Dosen : HIRYADI,M.Kep,Sp.Kom
• KEPERAWATAN BENTUK PELAYANAN PROFESIONAL
• TINDAKAN BUKAN RUTINITAS, TANPA POLA, TDK BERDASAR BUKTI ILMIAH
• UNTUK ITU PELAYANAN KEPERAWATAN DILAKSANAKAN SECARA SISTEMATIS DAN TERARAH untuk KEPUASAN KLIEN
• Proses keperawatan merupakan jawaban keterampilan intelektual,àpenyelesaian masalah mutu asuhan keperawatan interpersonal dan keterampilan teknis
à• Proses keperawatan memastikan penyelesaian masalah kesehatan klien berdasarkan landasan teori yang kuat
• WUJUD TANGGUNG JAWAB DAN TANGGUNG GUGAT
PENGERTIAN
• PROSES adalah suatu rangkaian kegiatan yang berurutan yang terdiri dari komponen-komponen yang saling terkait, berhubungan, dinamis dlm rangka mencapai tujuan ttt.
• KEPERAWATAN adalah suatu btk pelayanan profesional yg merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan berdasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat, baik sehat maupun sakit yg mencakup seluruh proses kehidupan.
ARTI PROSES KEPERAWATAN
• YURA & WALS (1983) ; Adalah suatu metode yg sistematis dan ilmiah yg digunakan perawat dalam mncapai atau mempertahankan kead. Bio,psiko,sosio,spritual yg optimal mll tahap pengkajian,identifikasi diagnosa kep,penentuan rencana kep., implementasi tindakan kep., serta evaluasi
• CAROL V.A (1991) PROSES KEPERAWATAN adalah metode yg sistematis untuk mengkaji respon manusia thd masalah kesehatan dan membuat rencanakeperawatan yg bertujuan mengatasi masalah tersebut.
• PROSES KEPERAWATAN adalah rangkaian kegiatan pemecahan masalah yg ilmiah, logis, sistematis, dan terorganisir bertujuan membantu klien mencapai tkt. kesehatan dan pemeliharaan kesehatan scr optimal sesuai dgn kebutuhannya mll langkah-langkah: pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi keperawatan.
Pada hakikatnya proses teknik penyelesaian/pemecahan masalah (problem solving),àkeperawatan proses terapeutik, melibatkan tenaga keperawatan, individu, keluarga, kelompok maupun masyarakat mencapai derajat kesehatan optimal.
Proses keperawatan adalah :
1. Suatu pendekatan sistematis untuk mengenal masalah-masalah pasien dan mencarikan alternatif pemecahan masalah dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan pasien.
2. Merupakan proses pemecahan masalah yang dinamis dalam memperbaiki dan meningkatkan kesehatan pasien sampai ke tahap maksimum.
3. Merupakan pendekatan ilmiah
4. Terdiri dari 4 tahap : pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Atau, ada pula yang menterjemahkannya ke dalam 5 tahap : pengkajian, perumusan diagnosis keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
SEJARAH
• Proses keperawatan pertama kali dijabarkan oleh Hall (1955)
• Tahun 1960, proses keperawatan diperkenalkan secara internal dalam keperawatan
• Wiedenbach (1963) mengenalkan proses keperawatan dalam 3 tahap : observasi, bantuan pertolongan dan validasi.
• Yura & Walsh (1967) menjabarkan proses keperawatan menjadi 4 tahap : pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pada tahun 1967, edisi pertama proses keperawatan dipublikasikan.
• Bloch (1974), Roy (1975) Mundinger & Jauron (1975) dan Aspinall (1976) menambahkan tahap diagnosa, sehingga proses keperawatan menjadi 5 tahap : pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Proses ini dari analisis pikir : dicover (menemukan), delve (mempelajari atau menganalisis), decide (memutuskan), do (mengerjakan) dan discriminate (identik dengan evaluasi).
• Dengan berkembangnya waktu, proses eperawatan telah dianggap sebagai suatu dasar hukum praktik keperawatan. ANA (1973) menggunakan proses keperawatan sebagai suatu pedoman dalam pengembangan Standart Praktik Keperawatan.
• Tahun 1975 : diadakan konferensi nasional tentang klasifikasi diagnosis keperawatan setiap dua tahun di Universitas Sr. Louis. Klasifikasi diagnosis keperawatan ini kemudian disebut dengan NANDA (North American Nursing Diagnoses Association).
KARAKTERISTIK PROSES KEPERAWATAN
SIFAT PROSES KEPERAWATAN
• PORPOSEFUL : TUJUAN JELAS ; MEMENUHI KEBUT. KLIEN BERDASARKAN MASALAH KEP.
• DINAMIS ; DAPAT BERUBAH DAN DIPERBAHARUI
• SIKLUS (CYCLE) ; BERKESINAMBUNGAN DARI PENGKAJIAN-EVALUASI.
• INTERDEPENDENT ; SALING TERGANTUNG (DX KEP, BERDASAR PENGKAJIAN, ……… )
• INTERAKTIF ; DASAR HUB. ADALAH HUB. TIMBAL BALIK PERAWAT KLIEN
• FLEKSIBEL : TIDAK KAKU
• ARUTAN DAPAT BERUBAH
• DAPAT DIGUNAKAN SEMUA MASALAH KESEHATAN
• SEGALA TATANAN (RS /PUSKESMAS)
• KLIEN ; INDIVIDU, KELUARGA, KELOMPOK , MASYARAKAT
• TEORITIS ; HARUS SELALU DIDASARKAN ILMU, MODEL DAN FILOSOFI KEP.
• HUMANISTIK ; MEMANDANG KLIEN SBG MANUSIA
• HOLISTIK ; UTUH (BIOPSIKOSOSIOSPRITUAL)
• CARE ;BERLANDASKAN STANDAR DAN ETIK KEPERAWATAN
UNSUR PROSES KEPERAWATAN
• UNSUR KOGNITIF (KECAKAPAN INTELEKTUAL) ; PENGET. TTG PERKEMB., PERILAKU, FISIOLOGI DLL. DASAR DALAM MEMBUAT KEPUTUSAN DAN BERPIKIR
• UNSUR PERILAKU (KETERAMPILAN DALAM HUBUNGAN ANTAR MANUSIA) ; MEMBINA HUB TERAPETIK DAN SALING PERCAYA, HUB PERAWAT DG PERAWAT DAN TIM KESEHATAN
• UNSUR KETERAMPILAN (TEKHNIS)
TUJUAN PROSES KEPERAWATAN
• TUJUAN UMUM : Memberikan suatu kerangka kerja berdasarkan kebutuhan klien, keluarga dan masyarakat, sehingga kebutuhan perawatan kesehatan klien, keluarga dan masyarakat dapat terpenuhi.
• TUJUAN KHUSUS :
1. Mempraktekkan metode pemecahan masalah dalam praktek keperawatan (problem solving)
2. Menggunakan standart dalam praktek keperawatan
3. Memperoleh metode yang baku, rasional dan sistematis
4. Memperoleh metode yang dapat digunakan dalam berbagai macam situasi
5. Memperoleh asuhan keperawatan yang berkualitas tinggi
MANFAAT PROSES KEPERAWATAN
Bagi Pelayanan Kesehatan :§
1. Pedoman yang sistematis bagi terselenggaranya pelayanan kesehatan
2. Sebagai alat untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan
Bagi Pelaksana§ Keperawatan
1. Meningkatkan mutu pelayanan keperawatan
2. Bila semua kebutuhan klien dapat dipenuhi, tentu akan dapat mempercepat proses penyembuhan klien dan kepuasan bagi klien akan pelayanan keperawatan yang diberikan. Dengan demikian, mutu asuhan keperawatan akan meningkat.
3. Pengembangan ketrampilan intelektual dan teknis bagi tenaga pelaksana keperawatan.
4. Peningkatan citra keperawatan dan tenaga keperawatan.
5. Jalan yang paling tepat untuk meningkatkan citra keperawatan dan profesi keperawatan adalah dengan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan. Kepuasan knsumen terhadap pelayanan keperawatan menunjukkan keyakinannya terhadap profesi keperawatan.
6. Meningkatkan peran dan fungsi perawatan dalam pengelolaan asuhan keperawatan.
7. Pengakuan otonomi keperawatan oleh masyarakat dan profesi lain.
8. Profesi keperawatan memberikan kesempatan kepada tenaga keperawatan untuk melaksanaan otonomi profesinya, yang didasari oleh tanggung gugat dan tanggung jawab, penerapan etika profesi dan standart praktek keperawatan.
9. Peningkatan rasa solidaritas.
10. Kesamaan metode praktek keperawatan yang digunakan oleh semua tenaga keperawatan akan memperkuat persatuan serta menggambarkan otonomi dan identitas keperawatan.
11. Peningkatan kepuasan tenaga keperawatan.
12. Kepuasan konsumen terhadap pelayanan keperawatan dengan sendirinya akan menimbulkan kepuasan bagi tenaga perawatan.
13. Memupuk rasa percaya diri dalam memberikan asuhan keperawatan
14. Untuk pengembangan ilmu keperawatan.
15. Proses keperawatan dapat mendukung dan memberi sumbangan dalam pengembangan penelitian ilmu keperawatan, sehingga dapat dikembangkan metode-metode yang baku dalam memberikan asuhan keperawatan.
Bagi Klien§
1. Aspek keperawatan yang diterima bermutu dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah
2. Merangsang partisipasi pasien dalam perawatan dirinya (self care)
3. Kelanjutan asuhan
4. Terhindar dari mal-praktik
KOMPONEN PROSES KEPERAWATAN
Tahap-tahap Proses Keperawatan
PENGKAJIAN
1. TAHAP AWAL PROSES KEPERAWATAN
2. SUATU PROSES YG SISTEMATIS DLM PENGUMPULAN DATA DARI BERBAGAI SUMBER UNTUK MENGEVALUASI & MENGIDENTIFIKASI STATUS KES. KLIEN.
3. SECARA KOMPREHENSIF
KERANGKA DASAR
1. Iindividu mrp multidimensional yg selalu dihub. Dg kebut.
2. Individu berfungsi sbg satu kesatuan yg utuh yg dimulai sejak konsepsi sampai kematian
3. Perubahan dlm satu sistem akan mempengaruhi sistem lain
4. Individu mrp sistem terbuka yg berinteraksi dg lingkungan
5. Tiap individu mpy pola yg unik dlm memenuhi kebutuhannya
6. Semua perilaku individu mpy maksud tertentu
7. Kesehatan mrp kead. Dinamis yg berada dlm suatu rentang
8. Kes. Yg optimal sbg kead. Yg ditandai dg tercapainya potensi kes. Yg maksimal
9. Individu yg sehat ditandai dg kemamp. Beradaptasi thd perubahan dimensi perkemb., psikologik, sosiokultural, dan fisiologik
10. Tujuan perawatan adl membantu individu untuk mencapai ataun meningkatkan kead. Kesehatannya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan :
1. Memahami secara keseluruhan situasi yang sedang dihadapi oleh klien dengan cara memperhatikan kondisi fisik, psikologi, emosi, sosialkultural, dan spiritual yagn bisa mempengaruhi status kesehatannya.
2. Mengumpulkan semua informasi yang bersangkutan dengan masa lalu, saat ini bahkan bahkan sesuatu yang berpotensi menjadi masalah bagi klien guna membuat suatu database yang lengkap. Data yang terkumpul berasal dari perawat-klien selama berinteraksi dan sumber yang lain. (Gordon, 1987;1994)
3. Memahami bahwa klien adalah sumber informasi primer.
4. Sumber informasi sekunder meliputi anggota keluarga, orang yang berperan penting dan catatan kesehatan klien.
Kegiatan ….
1. Pengumpulan data
2. Validasi data
3. Pengorganisasian data
4. Identifikasi masalah
Metode pengumpulan data
1. Melakukan interview/wawancara.
2. Riwayat kesehatan/keperawatan
3. Pemeriksaan fisik
4. Mengumpulkan data penunjang hasil laboratorium dan diagnostik lain serta catatan kesehatan (rekam medik).
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Diagnosa keperawatan adalah menganalisis data subjektif dan objektif. Diagnosa keperawatan melibatkan proses berpikir kompleks tentang data yang dikumpulkan dari klien, keluarga, rekam medik, dan pemberi pelayanan kesehatan yang lain.
2. The North American Nursing Diagnosis Association (NANDA, 1992) mendefinisikan diagnosa keperawatan semacam keputusan klinik yang mencakup klien, keluarga, dan respon komunitas terhadap sesuatu yan berpotensi sebagai masalah kesehatan dalam proses kehidupan.
KOMPONEN DX KEP.
1. MASALAH (PROBLEM) ; MENGGAMBARKAN PERUBAHAN STATUS KES. KLIEN
2. PENYEBAB (ETIOLOGI) ; MENCERMINKAN PENYEBAB DARI MASALAH, FRASE “BERHUBUNGAN DENGAN”
3. DATA (SIGS AND SYMPTOM) ; DIPEROLEH SAAT PENGKAJIAN, BUKTI ADANYA MASALAH, FRASE “DITANDAI OLEH”
Tipe Diagnosa Keperawatan
a. Aktual
Menggambarkan Masalah nyata saat ini sesuai data yg ditemukan,adanya batasan karakteristik mayor.
Contoh: “ Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan immobilisasi lama sekunder terhadap fraktur perlvis”
b. Resiko
Menggambarkan penilaian klinis dimana individu/kelompok lbh rentan mengalami masalah dibanding individu/kelompok lain dlm situasi yang sama. masalah kes. Yg nyata akan terjadi jika tdk dilakukan intervensi.
Contoh: “ Resiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer”
c. Kesejahteraan/wellness
Penilaian klinis ttg individu, keluarga atau komunitas dlm transisi dari tingkat kesejahteraan ttt ke tingkat kesejahteraan yg lebih tinggi. pernyataan “potensial peningkatan” tidak mengandung unsur “yg berhubungan dengan”
PERENCANAAN KEPERAWATAN
Tujuan:
a. Administratif: lebih fokus,tanggung jawab, independen, perbaikan kualitas askep.
fokus, arahàb. Klinik: prioritas diagnosa àdokumentasi, alat komunikasi, kriteria hasil dan tujuan keperawatan evaluasi, mengarahkan intervensi.
Langkah-langkah
• Menetukan prioritas
• Menetapkan tujuan keperawatan
• Menetapkan kriteria evaluasi
• Menyusun rencana intervensi keperawatan
• Menformulasikan rencana perawatan (Nursing Care Plan)
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
• MENGAPLIKASIKAN RENCANA ASUHAN KEP. KE DLM BENTUK INTERVENSI KEP. GUNA MEMBANTU KLIEN MENCAPAI TUJUAN YG TELAH DITETAPKAN.
• TIGA TAHAP
• PERSIAPAN (DATA,PERAWAT, KLIEN, LINGK., SARANA PRASARANA)
• PELAKSANAAN
• TERMINASI
PETUNJUK IMPLEMENTASI
• TIAP TINDAKAN PASTIKAN RASIONALISASINYA, EFEK YG DIHARAPKAN, KEMUNGKINAN EFEK SAMPING
• YAKINKAN DATA & MASALAH MASIH RELEVAN
• BUKAN KEGIATAN MEKANIK, O/KI PERLU KAJI RESPON KLIEN
• IKUT SERTAKAN KLIEN
PELAKSANA
• PERAWAT
• KLIEN
• KELUARGA
• TENAGA NON KEPERAWATAN
PRINSIP “CWIPAT”
• CHECK
• WASH YOUR HAND
• IDENTIFY THE PATIENT
• PROVIDE FOR SAFETY AND PRIVACY
• ASSESS THE PROBLEMS
• TELL THE PERSON OR TEACH THE PERSON ABOUT YOU ARE GOING TO DO
EVALUASI KEPERAWATAN
• MEMBANDINGKAN HASIL SUATU TINDAKAN KEPERAWATAN DENGAN NORMA ATAU KRITERIA TUJUAN YG TELAH DIBUAT
• KEMUNGKINAN HASIL EVALUASI ;
• TUJUAN TERCAPAI
• TUJUAN TERCAPAI SEBAGIAN
• TUJUAN TIDAK TERCAPAI
• TIMBUL MASALAH BARU
DOKUMENTASI PROSES KEPERAWATAN
• MRP PERNYATAAN TTG KEJADIAN / AKTIVITAS DGN CATATAN TERTULIS
• DAI PENGKAJIAN SAMPAI EVALUASI
• SARANA KOMUNIKASI
• DAPAT SBG ALAT BUKTI
• MEMUDAHKAN & MEMBANTU MENGATASI MASALAH KLIEN
• REFERENSI PEMBELAJARAN
Sumber :
Catatan Kuliah Konsep Dasar Keperawatan Stikes Muhammadiyah Banjarmasin Tahun 2009
Dosen : HIRYADI,M.Kep,Sp.Kom



Tidak ada komentar:
Posting Komentar