KATA PENGANTAR
Puji syukur
penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat-Nya
makalah KDM dengan judul ”Menolong Pasien BAB diatas tempat
tidur,Huknah Rendah dan Huknah Tinggi,Kolostomi”,dapat selesai tepat
pada waktu yang telah ditentukan.
Dalam kesempatan yang berbahagia
ini,penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu kelancaran penyusunan makalah ini, antara lain kepada:
- Drs. H. Soekardjo,Amd. Kep.MM,selaku direktur Stikes Banyuwangi
- Sugeng, S.Kep.,Ns, selaku dosen pembimbing yang telah banyak memberikan pengarahan , revisi kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa makalah
ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu,kritik dan saran yang membangun
dari pembaca sangat penulis harapkan demi kemajuan penulis untuk kedepannya.
Karena seperti pepatah mengatakan ”Tiada gading yang tak retak”. Akhir
kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Kendari, 24 Oktober 2010
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
Judul...........................................................................................................
Cover
dalam...............................................................................................................
Kata
pengantar...........................................................................................................
Daftar
isi....................................................................................................................
BAB
I PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah......................................................................................
1.2
Rumusan Masalah...............................................................................................
1.3
Tujuan Penulisan.................................................................................................
BAB
II TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Eliminasi Alvi...................................................................................................
2.1.1
Sistem yang berperan dalam eliminasi alvi…..................................................
2.1.2
Proses eliminasi alvi........................................................................................
2.1.3
Masalah eliminasi alvi.....................................................................................
2.1.4
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses defikasi.........................................
2.1.5
Meningkatkan kebiasaan defikasi secara rutin................................................
2.1.6
Tindakan mengatasi masalah eliminasi alvi.....................................................
2.2
Huknah..........................................................................................................
2.2.1
Konsep dasar Enema.......................................................................................
2.2.2
Indikasi...........................................................................................................
2.2.3
Macam dan tujuan Enema atau Huknah.........................................................
2.2.4
Kontra indikasi……………………………………………….……...............
2.2.5
Dampak pemberian Huknah............................................................................
2.2.6
Prosedur pelaksanaan......................................................................................
2.2.7
Hal-hal yang perlu diperhatikan......................................................................
2.3
Ileostomi ........................................................................................................
2.3.1
Diversi usus.....................................................................................................
2.3.2
Perawatan stoma rutin (kolostomi...................................................................
2.3.3
Perawatan pasien ileostomi.............................................................................
BAB
III PENUTUP
3.1
Kesimpulan...................................................................................................
3.2
Saran.............................................................................................................
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR BELAKANG
Eliminasi produk pencernaan yang teratur merupakan aspek
yang penting untuk fungsi normal tubuh. Perubahan eliminasi dapat menyebabkan
masalah pada gastrointestinal dan sistem tubuh lainnya, karena fungsi usus
bergantung pada keseimbangan beberapa faktor pola dan kebiasaan eliminasi
berfariasi diantara individu namun telah terbukti bahwa pengeluaran feses yang
sering dalam jumlah besar dan karakteristiknya normal biasanya berbanding lurus
dengan rendahnya insiden kangker kolesterol (Robinson dan Weigley,1989.
Untuk menangani masalah eliminasi perawat harus
memahami eliminasi normal dan faktor-faktor yang meningkatkan atau menghambat
eliminasi. Asuhan kaperawatan yang mendukung akan menghormati privasi dan
kebutuhan emosional klien. Tindakan yang dirancang untuk meningkatkan eliminasi
normal juga harus meminimalkan rasa ketidak nyamanan.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Dampak yang dapat terjadi akibat dari gangguan
sistem gastrointestinal sangatlah beragam mulai dari
konstipasi,diare,inkontinensia usus, dan hemoroid fecal infektion. Disini kita
akan membahas cara penanganan dan penatalaksanaan gangguan sistem gasto
intestinal. Serta penatalaksanaan pertolongan BAB diatas tempat tidur,Huknah
dan perawatan Kolostomy
1.3 TUJUAN PENULISAN
- Tujuan umum
Memberikan gambaran tentang tindakan enema , BAB,
dan kolostomy sesuai dengan tujuan dan tata prosedur pelaksanaan.
- Tujuan khusus
Mampu melaksanakan tindakan keperawatan BAB,
enema, dan kolostomy sesuai dengan prosedur pelaksanaan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Eliminasi Alvi ( BAB )
2.1.1 Sistem yang berperan dalam eliminasi Alvi (BAB)
Sistem tubuh yang memiliki
peran dalam proses eliminasi alvi adalah sistem gastrointestinal bawah yang
meliputi usus halus dan usus besar. Usus halus terdiri atasduodenum,jejenum,dan
ilem dengan panjang kurang lebih 6 m dengan diameter 2,5 cm. Serta berfungsi
absorbsi elektrolit Na+,CL,K+,mg,HCO3 dan kalsium.usus besar di mulai dari
rektum,kolon hingga anus yang memiliki panjang kurang lebih 1,5m atau 50-60
incidengan diameter 6 cm.
Pada batas di antara usus besar dan ujung usus
halus terdapat katup ilcocaccal.katup ini biasanya mencegah zat yang masuk ke
usus besar sebelum waktunya.dan mencegah produk buangan untuk kembali ke usus
halus.produk buangan yang memasuki usus besar isinya berupa cairan.setip hari
saluran anus menyerap sekitar 800-1000 ml cairan.penyerapan inilah yang menyebabkan
feses mempunyai bentuk dan setengah padat,feses ini lunak dan cair.kalau feses
terlalu lama dalam usus besar,maka terlalu banyak air yang di serap sehingga
feses menjadi kering dan keras.
Kolon sigmoid mengandung feses yang yang sudah
siap di buang dan di teruskan kedalam rektum.dalam rektum terdapat 3 lapisan
jaringan tranversal segitiga lapisan tersebut merupakan rektum menahan feses
untuk sementara dan setiap lipatan lapisan tersebut mempunyai arteri dan vena.
Makanan yang di terima oleh usus halus dan
lambung dalam bentuk setengah padat atau dikenal dengan nama chyme,baik berupa
air,nutien,maupun elektrolit kemudian akan diabsorsi.usus mensekresi
mukus,kalium,bikarbonat dan enzim.secara umum,kolon sebagai tempat
absorbsi,proteksi,sekresi,dan eliminasi.proses perjalanan makanan dari mulut
hingga sampai rektum membutuhkan waktu selama 12 jam.proses perjalanan makanan
khusus pada daerah kolon memiki beberapa gerakan diantaranya haustral
suffing atau dikenal sebagai garakan mencampur zat makanandalam bentuk padat
untuk mengabsorpsi air kemudian diikutidengan kontraksi haustral atau gerakan
mendorong zat makanan atau air pada daerah kolon dan terakhir terjadi gerakan
peristaltik yaitu gerakan maju ke anus.
2.1.2 Proses Buang Air Besar (DEFEKASI)
Defekasi adalah proses
pengosongan usus yang sering disebut buang air besar. Terdapat dua pusat yang
menguasai refleks untuk defekasi yang terletak dimedula dan sumsum tulang
belakang. Apabila terjadi rangsangan parasimpatis , sfingter anus bagian dalam
akan mengendor dan usus besar menguncup. Reflek defekesi dirangsang untuk buang
air besar,kemudian sfingter anus bagian luar yang diawali oleh syaraf
parasimpatis setiap waktu menguncup atau mengendor selama defekasi berbagai
otot lain membantu proses itu seperti otot dinding perut,diafragma dan
otot-otot dasar pelvis.
Secara umum,terdapat 2 macam reflek yang membantu
proses defekasi yaitu,pertama,reflekdefekasi interinsik yang mulai dari zat
sisa makanan (feses) dalam rektum sehingga terjadi distensi.kemudian flexus mesenterikus
merangsang gerakan peristaltik,dan akhirnya feses sampai di anus.lalu pada saat
sfingter interna relaksasi,maka terjadilah proses defekasi.kedua, reflek
defekasi parasimpatis.adanya feses dalam rektum yang merangsang saraf rektum.ke
spinal cord. Dan merangsang ke kolon desenden,kemudian ke sigmoid ,lalu ke
rektum dengangerakan peristaltik dan akhirnya terjadi relaksasi sfingter
interna,maka terjadilah proses defekasi saat sfingter interna berelaksasi.
2.1.3 Gangguan masalah Eliminasi Alvi
1.Konstipasi
Merupakan keadan individu yang
mengalami atau resiko tinggi stasis untuk besar sehingga menimbulkan eliminasi
yang jarang atau keras;keluarnya tinja terlalu kering dan keras.
A.Tanda klinis
a. Adanya feses yang keras
b. Defekasi yang kurang dari 3 kali seminggu
c. Menurunnya bising usus
d. Adanya keluhan dari rektum
e. Nyeri saat mengejan dan defikasi
f. Adanya perasaan masih da sisa feses
B. kemungkinan penyebab
a. Defekpersarafan:
kelemahan pelvis, imobilitas karena
cedera serebrospinalis, CVA, dll.
b. Pola defekasi yang tidak teratur
c. Nyeri saat defekasi karena hemeroid
d. Menurunnya peristaltik karena stres psikologis
e. Mengguna obat seperti antasida
f. Proses menua
2. Diare
Merupakan keadaan individu
yang mengalami atau beresiko sering mengalami pengeluaran feses dengan bentuk
cair. Diare di sertai kejang usus,mungkin ada rasa mual dan muntah.
A. Tanda klinis
a. adanya pengeluaran feses cair
b. frekuensi lebih dari 3 kali
c. nyeri/kram abdomen
d. bising usus meningkat
B. Kemungkinan penyebab
a. mengabsorbsi atau inflamansi proses infeksi
b. peningkatan peristaltik karena peningkatan
metabolisme
c. efek tindakan pembedahan usus
d. efek penggunaan obat
e. stres psikologis
3. Inkontinensia Usus
Merupakan keadaan individu
yang mengalami perubahan kebiasaan dari proses defekasi normal mengalami proses
pengeluaran feses tidak di sadari;yang merupakan hilangnya kemampuan otot untuk
mengontrol pengeluaran feses dan gas melalui sfingter sehingga mengakibatkan
kerusakan pada sfingter.
A. Tanda klinis
Penguaran feses yang tidak di kehendaki
B. Kemungkinan penyebab
a. gangguan sfingter rektal akibat cedera
anus,pembedahan,dll
b. disfensi rektum berlebihan
c. kurangnya kontrol sfingter akibat cedera medula
spinalis,dll
d. kerusakan kognitif
4. Kembung
Merupakan penuh udara dalam
perut karena pengumpulan secara berlebihan dalam lambung atau usus.
5.Hemorroid
Merupakan keadaan terjadinya
pelebaran vena di daerah anus sebagai akibat peningkatan tekanan daerah anus
yang dapat di sebabkan karena kontipasiperenggangan saat defekasi.
6.Fekal Impaction
Merupakan masa feses keras di
lipatan rektum yang di akibatkan oleh retensi dan akumulasi materi feses yang
berkepanjangan.penyebab kontipasi asupan kurang,aktivitas kurang,diet rendah
serat,kelemahan tonnus otot.
2.1.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi proses DEFEKASI
1. Usia
Setiap tahap perkembangan atau
usia memiliki kemampuan mengontrol proses defekasi yang berbeda.pada bayi belum
memiliki kemampuan mengotrol secara penuh dalam buang air besar,sedangkan orang
dewasa sudah memiliki kemampuan mengotrol secara penuh,kemudian pada usia
lanjut proses pengontrolan tersebut mengalami penurunan.
2. Diet
Diet atau jenis makanan yang
dikonsumsi dapat mempengaruhi proses defekasi.makanan yang memiliki kandungan
serat tinggi dapat membantu proses percepatan defekasi dan jumlah yang di
konsumsi pun dapat mempengaruhinya.
3. Asupan Cairan
Pemasukan cairan yang kurang
dalam tubuh membuat defekasi menjadi keras oleh karenaproses absorbsi yang kurang
sehingga dapat mempengaruhi kesulitan proses defekasi.
4. Aktivitas
Aktivitas dapat mempengaruhi
proses defekasi karena melalui aktivitas tonus otot,abdomen,pelvis dan
diafragma dapat membantu kelancaran proses defekasi,sehingga proses gerakan
peristaltik pada daerah kolon dapat bertambah baik dan memudahkan untuk
kelancaran proses defekasi.
5. Pengobatan
Pengobatan juga dapat
mempengaruhi proses defekasi seperti penggunaan obat-obatan laksatif atau
antasida yang terlalu kering.
6. Gaya hidup
Gaya hidup dapat mempengaruhi
proses defekasi.halini dapat dilihat pada seseorang yang memiliki gaya hidup
sehat/kebiasaan melakukan buang air besar di tempat yang bersih atau
toilet.maka ketika seseorang tersebut buang air besardi tempat yang terbuka
atau tempat yang kotor maka ia akan mengalami kesulilan dalam proses defekasi.
7. Penyakit
Beberapa penyakit dapat
mempengaruhi proses defekasi.biasanya penyakit-penyakit tersebut berhubungan
langsung dengan sistem pencernaan seperti gastroenteristis atau penyakit infeksi
lainnya.
8. Nyeri
Adanya nyeri dapat
mempengarihi kemampuan/keinginan untuk berdefekasi seperti nyeri pada kasus
hemoroid dan episiotomi.
9. Kerusakan motorik dan sensorik
Kerusakan pada sistem sensoris
dan metoris dapat mempengaruhi proses defekasi karena dapat menimbulkan proses
penurunan stimulasi sensoris dalam berdefekasi.hal tersebut dapat mengakibatkan
kerusakan pada tulang belakang ataukerusakan saraf lainnya.
|
No
|
Keadaan
|
Normal
|
Abnormal
|
Penyebab
|
|
1.
|
Warna
|
Bayi : Kuning
|
Putih, hitam / tar, atau merah
|
Kurangnya kadar empedu, perdarahan saluran cerna bagian
atas, atau perdarahan saluran cerna bagian bawah.
|
|
|
|
Dewasa : coklat
|
Pucat berlemak
|
Malabsorpsi lemak.
|
|
2.
|
Bau
|
Khas fases dan dipengaruhi oleh makanan
|
Amis dan perubahan bau
|
Darah dan ifeksi.
|
|
3.
|
Konsistensi
|
Lunak dan berbentuk.
|
Cair
|
Diare dan absorpsi kurang.
|
|
4.
|
Bentuk
|
Sesuai diameter rectum
|
Kecil, bentuknya seperti pensil.
|
Obstruksi dan peristaltik yang cepat.
|
|
5.
|
Konstituen
|
Makanan yang tidak dicerna, bakteri yang mati, lemak, pigmen
empedu, mukosa usus, air.
|
Darah, pus, benda asing, mukus, atau cacing.
|
Internal bleeding, infeksi, tertelan benda, iritasi, atau
inflamasi.
|
2.1.5 Meningkatkan kebiasaan defekasi secara rutin
Salah satu kebiasaan paling
penting yang dapat perawat ajarkan tentang kebiasaan defekasi ialah menetapkan
waktu untuk melakukan defekasi untuk memiliki kebiasaan defekasi yang
teratur,seorang klien harus mengetahui kapan keinginan untuk defekasi muncul
secara normal. Perawat menganjurkan klien untuk mulai menerapkan waktu defekasi
yang paling memungkinkan dalam sehari yang akan dijadikan sebagai rutinitas,
biasanya satu jam setelah makan, apabila klien harus menjalani tirah garing
atau membutuhkan bantuan dalam berjalan perawat harus menawarkan sebuah pispot atau
membantu klien mencapai kamar mandi.
Meningkatkan defekasi normal
Untuk membantu klien
berdefekasi secara normal dan tanpa rasa tidak nyaman,sejumlah intervensi dapat
menstimulasi refleks defekasi mempengaruhi karakter feses atau meningkatkan
peristaltik.
Posisi jongkok, perawat mungkin perlu membantu
klien yang memiliki kesulitan untuk mengambil posisi jongkok akibat kelemahan
otot atau masalah-masalah mobilitas. Toilet umum biasanya terlalu rendah untuk
mengambil posisi jongkok akibat menderita penyakit sendi atau penyakit yang
menyebabkan kehilangan masa otot. Klien dapat membeli tempat duduk toilet yang
dapat ditinggikan untuk digunakan di rumah. Dengan tempat duduk seperti
ini,klien tidak perlu melakukan banyak upaya untuk berdiri atau duduk.
Mengatur posisi di atas pispot,klien yang
menjalani tirah baring harus menggunakan pispot untuk defekasi. Wanita
menggunakan pispot sebagai tempat untuk mengeluarkan urine dan feses,sementara
pria menggunakan pispot dapat sangat tidak nyaman. Perawat harus membantu klien
mengambil posisi yang nyaman.
Saat mengatur posisi klien
penting mencegah agar otot tidak tegang sehingga tidak menimbulkan rasa tidak
nyaman. Klien tidak pernah boleh dibiarkan duduk diatas pispot dan membiarkan
tempat tidurnya dalam posisi datar, kecuali jika restriksi aktivitas membuat
tempat tidurnya harus dalam posisi datar, apabila tempat tidur datar panggul
akan berada dalam posisi hiperekstensi. Saat membantu klien keatas pispot ,
mungkin tempat tidur memang harus datar. Setelah klien berada diatas pispot,
perawat meninggikan kepala tempat tidur dengan sudut 30 derajat. Meninggikan
klien dengan dengan sudut 90 derajat akan membuat sulit pengaturan posisi.
Dalam posisi duduk, klien harus mengangkat tubuhnya dengan menggunakan kekuatan
lengannya sementara perawat meletakkan pispot. Kebanyakan klien terlalu lemah
untuk melakukan hal tersebut. Klien yang baru menjalani bedah abdomen,takut kalau
jahitannya terkoyak akibat regangan yang mereka lakukan. Terlebih lagi, perawat
membuat klien beresiko mengalami cidera dengan berupaya mengangkat klien keatas
pispot.
2.1.6 Tindakan mengatasi masalah eliminasi alvi(BAB)
1. Menyiapkan fases untuk bahan pemerikasaan
Menyiapkan fases untuk bahan
pemeriksaan merupakan cara yang dilakukan untuk mengambil fases untuk bahan
pmerikasaan, yaitu pemeriksaan lengkap dan pemeriksaan kultur (pembiakan)
-
Pemeriksaan fases lengkap merupakan pemeriksaan fases yang terdiri atas pemeriksaan warna, bau, konstostensi,
lendir, darah, dll.
-
Pemeriksaan fases kultur merupakan pemerikasaan fases melalui biakan dengan
cara toucher.
Alat :
- Tempat penampung atau botol penampung beserta penutup.
- Etiket khusus.
- Dua batang lidi kapas sebagai alat untuk mengambil fases.
Prosedur kerja.
- Cuci tangan.
- Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
- Anjurkan untuk buang air besar lalu ambil fases melalui lidi kapas yang telah dikeluarkan. Setelah selesai anjurkan untuk membersihkan daerah anus.
- Asupan bahan pemeriksaan ke dalam botol yang telah disediakan.
- Catat nama pasien dan tanggal pengambilan bahan pemeriksaan.
- Cuci tangan.
2.
Menolong
buang air besar dengan mennggunakan pispot.
Menolong membuang air besar dengan menggunakan
pispot merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan kepada pasien yang tidak
mampu buang air besar secara sendiri dikamar kecil dengan cara menggunakan
pispot (penampung) untuk buang air besar ditempat tidur, dengna tujuan memenuhi
kebutuhan eliminasi alvi (BAB).
Alat dan bahan :
- Alas / perlak
- Pispot
- Air bersih
- Tisu
- Handuk
- Sampiran apabila tempat pasien di bangsal umum
- Sarung tangan
- Sabun
Prosedur kerja :
- Cuci tangan
- Jelaskan prosedur
- Pasang sampiran
- Gunakan sarung tangan
- Pasang pengalas dibawah glutea
- Tempatkan piapot tepat dibawah glutea, tanyakan pada klien apakah sudah nyaman atau belu, kalau belum atur sesuai dengan kebutuhan.
- Letakkan sebuah gulungan handuk dibawah kurva lumbat punggung klien untuk menambah rasa nyaman.
- Anjurkan pasien untuk buang air besar pada pispot yang sudah disediakan.
- Setelah selesai siram dengan air hingga bersih dan keringkan dengan tisu.
10. Catat tanggal dan jam defekasi serta
karakteristiknya.
11. Cuci tangan.
Prosedur pelaksanaan
- Bawa peralatan kedekat pasien.
- Jelaskan tujuan dan prosedur.
- Tutup jendela dan pasang sampiran.
- Pasang pengalas dibawah glutea
- Pasang selimut mandi.
- Cuci tangan
- Pakai sarung tangan
- Posisikan pasien dorsal rekamben
- Tempatkan pispot yang sudah diberi air dibawah glutea, tanyakan pada pasien apakah sudah nyaman atau belum,kalau belum atur sesuai dengan kenyamanan pasien
10. Letakkan sebuah gulungan
handuk dibawah kurva lumbal punggung pasien untuk menambah rasa nyaman.
11. Anjurkan pasien untuk
buang air besar pada pispot yang sudah disediakan
12. Pastikan bahwa seprei dan
stik laken tidak terkena.
13. Tinngalkan pasien dan
anjurkan untuk membunyikan bel jika sudah selesai atau memberi tahu perawat.
14. Jika sudah selesai, tarik
pispot dan letakkan lengkap dengan tutupnya diatas meja dorong/trolly
15. Bersihkan dengan tisu dan
menggunakan sabun,lalu bersihkan dengan air bersih.
16. Keringkan dengan tisu
17. Bereskan alat dan rapikan
pasien
18. Dokumentasi.
HUKNAH
1. Konsep Dasar Enema
Secara umum Enema atau huknah
adalah tindakan yang digunakan untuk memasukkan suatu larutan atau cairan
kedalam rectum dan colon sigmoid. Enema atau huknah diberikan tujuannya adalah
untuk meningkatkan defekasi dengan menstimulasi peristaltik dan juga sebagai
alat transportasi obat-obatan yang menimbulkan efek lokal pada mukosa rectum.
(Perry,Potter.2005:1768).
2. Macam dan Tujuan Enema atau huknah
Enema dapat diklasifikasikan
kedalam 4 golongan menurut cara kerjanya diantaranya : cleansing
(membersihkan), carminative (untuk mengobati flatulence), retensi (menahan),
dan mengembalikan aliran.
a. Cleansing Enema
Clensing Enema merangsang
peristaltik dengan mengiritasi kolon dan rektum dan atau dengan meregangkan
intestinal dengan memasuki volume cairan. Ada 2 cleansing enema yaitu :
Huknah rendah
Low enema (huknah rendah)
diberikan hanya untuk membersihkan rektum dan kolon sigmoid. Sekitar 500ml
larutan diberikan pada orang dewasa, klien dipertahankan pada posisi sims /
miring kekiri selama pemberian. Tujuan huknah rendah diberikan adalah :
- Mengosongkan usus sebagai persiapan tindakan operasi, colonoscopy
- Merangsang peristaltik usus
- Tindakan pengobatan / pemeriksaan diagnostik
Huknah tinggi
High enema (huknah tinggi)
diberikan untuk membersihkan kolon sebanyak mungkin, sering diberikan sekitar
750-1000ml larutan untuk orang dewasa, dan posisi klien berubah dari posisi
lateral kiri ke posisi dorsal cecumbent dan kemudian ke posisi lateral kanan
selama pemberian ini cairan dapat turun ke usus besar. Cairan diberikan pada
tekanan yang tinggi daripada low enema. Oleh karena itu, wadah dari larutan
digantung lebih tinggi. Cleansing enema paling efektif jika diberikan dalam
waktu 5-10 menit. Tujuan huknah tinggi diberikan untuk :
- Membantu mengeluarkan fases akibat konstipasi atau impaksi fekal
- Membantu defaksi yang normal sebagai bagian dari program latihan defakasi (bowel training program)
- Tindakan pengobatan / pemeriksaan diagnostik.
b. Huknah Gliserin
Memasukkan cairan melalui anus
ke dalam kolon sigmoid dengan menggunakan spuit gliserin bertujuan untuk
melunakkan fases dan merangsang buang air besar serta sebagai tindakan
pengobatan.
c. Retention Enema
Retention enema, dimasukkan
oil (pelumas) kedalam rektum dan kolon sigmoid, pelumas tersebut tertahan untuk
waktu yang lama (1-3 jam). Ia bekerja untuk melumasi rektum dan kanal anal,
yang akhirnya memudahkan jalannya fases.
d. Carninative Enema
Carminative enema terutama
diberikan untuk mengeluarkan flatus. Larutan dimasukkan kedalam rektum untuk
mengeluarkan gas dimana ia meregangkan peritaltik. Untuk orang dewasa dimasukkan
60-180ml. Contoh enema carminative ialah larutan GMW,yang mengandung 30ml
magnesium, 60ml gliserin, dan 90ml air.
e. Enema bilas Harris
Enema Bilas Harris (
Enema arus balik ),kadang kadang mengarah pada pembilasan kolon, digunakan
untuk mengeluarkan flatus. Ini adalah pemasukan cairan yang berulang ke dalam
rektur dan pengaliran cairan dari rektum. Pertama-tama larutan ( 100-200ml
untuk orang dewasa ) dimasukkan ke rektum dan kolon sigmoid klien, kemudian
wadah larutan direndahkan sehingga cairan turun kembali keluar melalui rectal
tube ke dalam wadah. Pertukaran aliran cairan ke dalam dan keluar ini
berulang 5-6 kali,sampai ( perut ) kembung hilang dan rasa tidak nyaman
berkurang atau hilang. Banyak macam larutan yang digunakan untuk enema. Larutan
khusus mungkin diminta oleh dokter.
3. Indikasi
Konstipasi
-
Kebiasaan buang air besar yang tidak teratur.
-
Penggunaan laxative yang berlebihan.
-
Peningkatan stress psikologis
Impaksi fases
-
Kebiasaan buang air besar yang teratur
-
Konstipasi
- Persiapan pre operasi
- Untuk tindakan diagnostik misalnya pemeriksaan radiologi.
- Pasien dengan melana.
4. Kontra Indikasi
- Pasien dengan diverticulis,ulcerative colitis,crhon’s disease.
- Post operasi
- Pasien dengan gangguan fungsi jantung atau gagal ginjal, hemoroid, tumor rectum dan kolon.
5. Dampak Pemberian Huknah
1.
Dampak positif
-
membersihkan kolon bagian bawah (desenden) menjelang tindakan operasi seperti
sigmoidoscopy atau colonoscopy.
-
Sebagai jalan alternatif pemberian obat.
-
Menghilangkan distensi usus.
-
Memudahkan proses defakasi.
-
Meningkatkan mekanika tubuh.
2.
Dampak negatif
-
Jika menggunakan larutan terlalu hangat akan membakar mukosa usus dan jika larutan terlalu dingin yang diberikan
akan menyebabkan kram abdomen.
-
Jika klien memiliki kontrol sfingter yang buruk tidak akan mampu menahan
larutan enema (perry,peterson,potter.2005).
Beberapa perbedaan dalam tindakan cleansing enema :
|
No
|
Perbedaan
|
Huknah rendah
|
Huknah tinggi
|
|
1.
2.3. 4. 5. 6. |
- Tindakan
- Tujuan- Kanul enema - Posisi - Jumlah cairan hangat yang diberikan untuk dewasa - Tinggi irigator |
- Tindakan memasukkan cairan hangat dari
rectum kedalam kolon desenden
- Mengosongkan usus
sebagai persiapan tindakan operasi, colonoscopy- Kanula Recti - Posisi sims miring kekiri - 500 ml - ± 30 cm dari tempat tidur |
-
Tindakan memasukkan cairan hangat dari rectum dimasukkan kedalam kolon
asenden.
- Membantu
mengeluarkan fases akibat konstipasi atau impaksi fekal- Kanula usus - Posisi sim’s miring ke kanan - 750-1000ml - ± 30-45 cm dari tempat tidur |
Jumlah larutan yang diberikan tergantung pada
jenis enema, berdasar usia dan jumlahh cairan yang bisa disimpan :
|
No
|
Usia
|
Jumlah Larutan
|
|
1.
2.3. 4. 5 |
Bayi
Toddler atau preschoolAnak usia sekolah Remaja Deawasa |
150 – 250 ml
250 – 350 ml300 – 250 ml 500 – 750 ml 750 – 1000 ml |
PELAKSANAAN
1.
Pengertian
Tindakan yang digunakan untuk memasukkan suatu larutan atau cairan ke dalam
rectum dan colon sigmoid.
2.
Persiapan alat
Pemberian melalui slang rectal
dengan wadah enema pada enema rendah dan enema tinggi.
1. Wadah enema
(huknah)
2. Volume
larutan hangat
- Dewasa :
700-1000ml, dengan suhu 40,5-43ºC
- Anak – anak
Ø
Bayi : 150-250ml
Ø
Usia bermain (toddler): 250-350ml
Ø
Usia sekolah : 300-500ml
Ø
Remaja : 500-700
Ø
Cat : Suhu cairan yang digunakan untuk anak-anak
adlah 37,7ºC,sedang untuk dewasa dihangatkan 40,5-43ºC
- Slang
rectal dengann ujung bulat.
Ø
Dewasa : No.22-30 G French(fr)
Ø
Anak – anak : No.12-18 fr
3. Slang menghubungkan slang
rectal ke wadah (slang irrigator)
4. Klem pengatur pada slang
5. Termometer air untuk
mengukur suhu larutan
6. Pelumas lautan dalam
air
7. Perlak pengalas
8. Selimut mandi
9. Kertas toilet
10. Pispot
11. Baskom, waslap dan handuk,
serta sabun
12. Sarung tangan sekali pakai
13. Tiang intravena
14. Cucing
15. Disinfektan
Persiapan alat pada enema bilas
harris (enema arus balik)
- Wadah enema
- Slang enema dan klem
- Pelumas
- Tutup Troli
- Perlak
- Tisu toilet
- Larutan : 500ml ledeng dengan suhu 105C
- Sarung tangan sekali pakai
(perry, Peterson,potter.2005)
3.
Persiapan pasien
1.
Mengucapkan salam terapiutik
2.
Memperkenalkan diri
3.
Menjelaskan pad aklien dan keluarga tentang prosedur
dan tujuan tindakan yang akan dilaksanakan
4.
Membuat kontak (waktu, tempat dan tindakan yang akan
dilakukan)
5.
Selama komunikansi digunakan bahasa yang jelas, sistematis
serta tidak mengancam
6.
Klien atau keluarga diberi kesempatan bertanya untuk
klasifikasi
7.
Memperlihatkan kesabaran, punuh empati, sopan, dan
perhatian serat respek selama berkomunikasi dan melakukan tindakan
8.
Pasien disiapkan dlam posisi yang sesuai
4.
Persiapan lingkungan
1.
Ruangan terutup
2.
Pastikan semua jendela atau pintu dakam keadaan
tertutup agar privasi terjaga.
3.
Pasang sekat atau sampiran
4.
Gunakan selimut untuk melindungi daerah privasi pasien
5.
Prosedur pelaksanaan
a.
Penatalaksanaan cleansing enema yang terdiri dari low enema (huknah rendah) dan
high enema (huknah tinggi), diantaranya :
Jelaskan
prosedur kepada klien.
Mengurangi ansietas klien dan meningkatkan kerja sama prosedur.
Tutup
ruangan / tirai.
Memberikan privasi pada klien.
Bantu
klien untuk pada posisi miring ke kiri (lateral kiri) untuk huknah rendah dan
miring ke kanan untuk huknah tinggi dengan lutut kanan fleksi.
b. Persiapan
alat untuk huknah gliserin
- Selimut mandi atau kain penutup
- Perlak atau pengalas
- Spuit gliserin
- Bengkok
- Gliserin dalam tempatnya yang direndam air panas
- Mangkok kecil
- Pispot
- Sampiran
- Tisu
10. Waslap 2 buah
11. Baskom 2 buah
12. Handuk serta sabun
c. Pemeberian melalui kemasan
sekali pakai ( enema retensi minyak )
- Batang dengan ujung slang rectal
- Sarung tangan sekali pakai
- Pelumas larut dalam air
- Perlak pengalas
- Selimut mandi
- Kertas Toilet
- Pispot
- Baskom
- Waslap dan handuk, serta sabun
(Kusyati,eni.2006)
Biasanya ditempatkan pada posisi rekumben dorsal. Posisikan klien dengan
sedikit control sfingter pada pispot.
Memungkinkan larutan enema mengalir kebawah dengan bantuan
gravitasi sepanjang lengkung natural kolon sigmoid rectum, sehingga memperbaiki
retensi larutan (klien dengan control sfingter buruk tidak akan mampu menahan
larutan enema).
Letakkan perlak pengalas dibawah pantat klien
Agar linen tempat tidur tidak basah
Selimut butuh dan ekstrimitas bawah klien dengan selimut
mandi, biarkan hanya anal yang kelihatan.
Mencegah pemajanan bagian tubuh yang tidak perlu dan mengurangi rasa
malu klien.
Susun wadah enema, hubungkan slang, klem, dan selang
rectal.
Slang rectal harus cukup kecil untuk diameter anus klien, tetapi cukup
besar untuk mencegah kebocoran disekitar slang.
Tutup klem pengatur
Mencegah kehilangan larutan awal saat ditambah ke wadah
Tambahkan larutan hangat kedalam wadah.
Hangatkan air seperti layaknya mengalir dari kran. Letakkan wadah salin
normal dalam baskom kedalam baskom air panas sebelum menuangkan salin normal
dalam baskom kedalam wadah enema. Periksa suhu larutan dengan thermometer air
atau dengan meneteskan sedikit larutan diatas pergelangan tangan sebelah dalam.
Air panas dapat membakar mukosa usus sedangkan air dingin dapat
menyebabkan karam abdomen dan sulit menahan air.
Bilas wadah, isis dengan larutan,
lepaskan klem, dan biarkan larutan keluar sampai tak ada udara. Tempatkan dekat
dengan unit tempat tidur untuk memenuhi slang. Klem kembali slang.
Membuang udara dari dalam slang dan mencegah
kehilangan cairan.
Letakkan
pispot dekat dengan tempat tidur.
Agar mudah untuk diambil bila klien tidak
mampu menahan enema.
Cuci
tangan dan gunakan sarung tangan.
Mengurangi transmisi mikro organisme
Beri pelumas 3-4 cm pada ujung slang
rectal dengan pelumas jeli.
Memungkinkan insersi halus slang tanpa resiko
iritasi atau trauma pada mukosa rectal
Alirkan sebagian kecil cairan keluar, sepanjang
slang rectal untuk mengeluarkan udara dalam slang. Kemudian tutup kembali klem.
Dengan perlahan, regangkan bokong dan cari
letak anus. Instrusikan klien untuk rileks dengan menghembuskan nafas pada
perlahan melalui mulut.
Dengan mengembuskan napas, relaksasi sfingter
anus eksternal akan meningkat.
Masukkan ujung slang rectal secara perlahan
dengan mengarahkanny ke umbilicus klien. Panjang insersi beragam ; 7,4-10 cm
untuk orang dewasa, 5-7,5 cm untuk anak-anak, dan 2,5-3,25 cm untuk bayi. Tarik
slang dengan segera, jika ditemukan obstruksi.
Insersia hati-hati mencegah trauma pada
mukosa rectal akibat penusukan slang secara tidak sengaja pada dinding. Insersi
yang melebihi batas dapat menyebabkan perforasi usus.
Terus pegang slang sampai pengisian cairan
berakhir.
Kontraksi otot dapat menyebabkan ekspultasi
rectal.
Buka klem
pengatur dan biarkan larutan masuk dengan perlahan dengan wadah pada setinngi
pinggul klien.
Penginfusan cepat dapat merangsang evakuasi
dini, sebelum volume yang cukup dapat diinfuskan.
Naikkan wadah secara perlahan sampai pada
ketinggian diatas anus (30-45 cm untuk ketinggian enema tinggi, 30 cm untuk
enema rendah, dan 7,5 cm untuk bayi). Waktu pengaliran sesuai dengan pemberian
volume larutan (missal,1 liter dalam 10 menit).
Memungkinkan penginfusan perlahan
terus-menerus, sebelum volume yang cukup diinfuskan. Jika wadah dinaikkan
terlalu tinggi, tetesan infuse akan cepat dan memungkinkan akan nyeri akibat
detensi kolon.
Rendahkan wadah atau klem slang selama 30 detik,
kemudian alirkan kembali secara lebih lambat jika klien mengeluh kram.
Penghentian sementara penginfusan adalah untk
mencegah kram. Kram dapat menghambat klien menaahan semua cairan.
Klem slang setelah semua larutan dialirkan.
Mencegah masuknya udara kedalalm rectum.
letakkan lapisan tisu toilet disekitar slang pada
anus dan dengan perlahan tarik slang.
Memberikan kenyamanan pada klien dan
kebersihan.
Jelaskan pada klien bahwa prasaan distensi adalah
normal. Minta klien untuk menahan larutan selama mungkin saat berbaring
ditempat tidur (untuk bayi atau anak kaci, dengan perlahan pegang kedua sisi
pantat selama beberapa menit).
Larutan akan mendesak usus. Lamanya retensi
beragam dengan tipe enema dan kemampuan klien untuk mengontruksi sfingter ani.
Makin ditahan, perangsangan peristaltic dan defakasi akan lebih efektif (bayi
dan anak-anak mempunyai control sfingter yang buruk).
Bereskan wadah enema dan sleng pada tempat yang
telah disediakan atau cuci secara menyeluruh dengan air hangat dan sabun bila
akan digunakan ulang.
Mengontrol transmisi mikro organisme.
Lepaskan sarung tangan dengan cara menariknya
hingga terbalik dan taruh ke dalam wadah yang telah disediakan.
Posisi jongkok normal meningkatkan defakasi.
Bantu klien ke kamar mandi atau mengatur posisi
pispot.
Posisi jongkok normal meningkatkan defakasi.
Observasi feses dan larutan (peringatkan klien
agar jaringan menyiram toilet sebelum perawat menginspeksi).
Jika enema diinstruksikan ”sampai bersih”,
penting untuk mengobservasi isi larutan yang dikeluarkan.
Bantu klien sesuai kebutuhan untuk mencuci area
anal dengan air hangat dan sabun.
Isi fases dapat mengiritasi kulit. Kebersihan
meningkatkan kenyamanan klien.
Cuci tangan anda catat hasil enema pada catatan
perawat.
b. Penatalaksanaan huknah gliserin :
- Jelaskan tujuan dan proseedur pelaksaan.
- Pasang sampiran.
- Pasang selimut mandi dan tarik selimut tidur.
- Lepas pakaian bagian bawah.
- Atur posisi pasien.
- Dewasa : miring
kekiri dengan lutut kanan fleksi
- Bayi dan anak :
rekumben dorsal dibawahnya diberi pispot
- Pasang alat dan perlaknya.
- Teteskan gliserin pada punggung tangan untuk memeriksa kehangatan kemudian tuangkan mangkok kecil.
- Isi spuit gliserin 10 – 20 cc dan keluarkan udara.
- Setelah pasien berada pada posisi miring, tangan kiri dan kanan mendorong pantat ke atas sambil memasukkan spuit perlahan-lahan hingga rectum.
10. Masukkan spuit gliserin
7-10 cm untuk orang dewasa dan 5-7,5 cm untuk anak serta 2,5-3,75 cm untuk
bayi.
11. Masukkan gliserin
perlahan-lahan sambil menganjurkan pasien untuk menarik napas panjang dan
dalam.
12. Cabut spuit dan letakkan
dalam bengkok.
13. Bantu pasien BAB
-
Bantu pasien ke toilet untuk pasien yang bisa ke toilet
-
Untuk pasien dengan keadaan umum yang lemah dengan tirah baring, pasang pispot
14. Ambil pispot
15. Bersihkan daerah perianal
pada pasien yang buang air besar pada pispot.
-
Bersihkan dengan tisu
-
Ambil waslap dan bersihkan dengan air sabun pada daerah perianal
-
Bilas dengan air bersih
-
Keringkan dengan handuk
16. Tarik
alas dan perlak.
17. Ganti
selimut mandi dan selimut tidur.
18. Bantu
pasien mengenakan pakaian bawah.
19. Buka
sampiran .
20.
Rapikan alat kemudian cuci tangan.
21.
Dokumentasikan warna dan konsistensi fases, adanya distensi abdomen.
c.
Penatalaksanaan enema dengan unit sekali pakai (enema retensi minyak).
- Ikuti langkah 1 sampai 5 ”slang rectal dengan wadah enema”.
- Letakkan pispot dekat tempat tidur.
Agar mudah untuk diambil bila klien tidak
mampu menahan enema
Cuci tangan dan gunakan sarung tangan.
Mengurangi transmisi mikroorganisme
Kenakan sarung tangan sekali pakai.
Menurunkan transmisi mikroorganisme dari
feses
Lepaskan kap plastik dari ujung rectal.
Meskipun ujung sudah berpelumas, jeli tambahan dapat diberikan sesuai
kebutuhan.
Pelumas memudahkan insersi slang rectal tanpa
menyebabkan iritasi atau trauma pada rectal
Dengan perlahan, regangkan bokong dan
cari letak anus. Instruksikan klien untuk rileks dengan menghembuskan napas
pada perlahan melalui mulut.
Dengan mengembuskan napas, relaksasi sfingter
anus eksternal akan meningkat
Masukan ujung botol secara perlahan
kedalam rectum. Masuknya sejauh 7,5 – 9 cm untuk orang dewasa (anak-anak dan
bayi biasanya tidak mendapat enema hipertonik perkemasan).
Insersi perlahan mencegah trauma pada mukosa
rectal
Peras botol sampai semua larutan telah
masuk rectum dan kolon. (kebanyakan botol mengandung kurang lebih 250ml
larutan).
Larutan hipertonik memrlukan hanya sedikit
volume untuk merangsang defekasi
Ikuti langkah 20 sampai 27 ”slang rectal
dengan wadah enema sebelumnya”
(kusyati,eni.2006)
d. Penatalaksanaan Enema bilas harris (enema arus
balik)
- Jelaskan tujuan dan prosedur kepada klien.
- Pasang sampiran.
- Tuanglah larutan kedalam wadah plastik dan tutupi wadah tersebut. Bawa Troli kesisi tempat tidur.
- Letakkan perlak dibwah pasien.
- Tempatkan pelumas diatas tisu. Oleskan pelumas tersebut pada ujung slang enema.
- Alirkan sedikit air didalam slang untuk mengeluarkan udara.
- Pakai sarung tangan.
- Masukkan slang ke dalam rectum sepanjang 10 cm.
- Lakukan bilas harris sebagai berikut untuk mempengaruhi peristaltik :
-
Buka klem, naikkan kaleng irigasi setinggi 30 – 45 cm diatas panggul pasien
alirkan 200 ml cairan di atas rectum.
-
Turunkan kaleng irigasi sekitar 30 cm dibawah tempat tidur dan biarkan air
mengalir keluar dari rectum ke dalam kaleng.
10. Lanjutkan prosedur gas
keluar. Jika semua cairan telah kembali ke luar, klem slang tersebut dan
amgkat.
11. angkat penutup tempat tidut.
12. Kembalikan troli ke ruang
peralatan. Buang isi kaleng, bersihkan peralatan pada enema biasa. Lepas sarung
tangan dan buang dengan benar.
13. Dokumentasikan waktu adanya distensi abdomen
dan reaksi pasien.
Hal – hal yang perlu
diperhatikan :
- Penggunaan enema yang tidak benar dapat menyebabkan terganggunyakeseimbangan elektrolit tubuh.
- Pemberian enema berulang dapat membuat perlakuan pada jaringan kolon.
- Tindakan enema tidak dapat diberikan selagi adanya nyeri perut yang belum dikethui penyebabnya.
- Peristaltik usus dapat menyebabkan peradangan apendiks hingga pecahnya apendiks.
(Perry,peterson,potter.2005)
- 3. Evaluasi.
- Menetapkan waktu yang teratur untuk defakasi.
- Berpartisipasi dalam program latiahan yang teratur.
- Memakan makanan sesuai dengan diet yang ditentukan.
- BAB dengan nyaman dan lancar.
- Minum ± 2000ml cairan / hari.
- Tidak terjadi defakasi pada saat dilakukan tindakan operasi.
- Sukses pada pemeriksaan diagnostic radiologi.
Diversi Usus
Penyakit tertentu menyebabkan
kondisi – kondisi yang mencegah pengeluaran fases secara normal dari rectum.
Hal ini menimbulkan suatu kebutuhan untuk membentuk suatu lubang (stoma) buatan
yang permanen / sementara. Lubang yang dibuat melalui upaya bedah (ustomi)
paling sering dibentuk di ileum (ileustumi) atau dikolon (kolostomi). Ujung
usus kemudian ditarik kesebuah lubang didinding abdomen untuk membentuk stoma.
Bergantung pada tipe prosedur bedah yang dilakukan. Jenis stoma yang dibentuk
ada dua yakni klien tidak akan memiliki control terhadap materi fases yang
keluar dari stoma (istomi inkontinen) atau klien memiliki control terhadap
pengeluaran fases (ostomi kontinen). Untuk ostomi inkontinen, stoma ditutupi
dengan sebuah kantung (dilekatkan) atau apa yang klien sebut sebagai “sebuah
kantung” untuk mengumpulkan materi fases.
-
Ostomi inkontinen adalah sebuah ileostomi merupakan jalan pintas
keluarnya fases sehingga fases tidak melalui seluruh bagian usus besar. Akibatnya
fases keluar lebih sering dan cair juga terjadi pada kolostomi di kolon
asinden. Lokasi kolostomi ditentukan oleh masalah medis dan kondisi umum klien.
Terdapat 3 jenis bentuk kolostomi :
- Loop Colostomy biasanya dilakukan dalam kondisi kedaruratan medis yang nantinya kolostomi tersebut akan ditutup. Jenis kolostomi ini biasanya mempunyai stoma yang berukuran besar, dibentuk dikolon transversal dan bersifat sementara.
- End Colostomy terdiri dari satu stoma, yang dibentuk dari ujung proksimal usus dengan bagian distal saluran GL dapat dibuang atau dijahit tertutup (disebut kantung Hartmann) dan dibiarkan didalam rongga abdomen. Pada banyak klien, end colostomy merupakan hasil terapi bedah pada kanker kolorektal. Pada kasus tersebut, rectum juga mungkin dibuang. Klien yang menderita divertikulitis dan ditangani melalui upaya bedah sering kali menjalani end colostomy yang bersifat sementara.
- Tidak seperti loop colostomy, usus dipotong melalui pemebdahan kedalam bentuk double barrel colostomy dan kedua ujungnya ditarik keatas abdomen. Duble barrel colostomy terdiri dari dua stoma yang berbeda. stoma proksimal ynag berfungsi dan stoma distal yang tidak berfungsi.
Ostomi yang sering mengeluarkan fases cair (mis
ileostomi) menciptkan suatu tantangan dalam perawatannya.
-
Ostomi kontinen ini juga disebut diversi kontinen atau reservoar kontinen. Pada
sebuah prosedur yang disebut ilenoal pull-trough, kolon diangkat dan ileum
dianastomosis atau disambungkan ke sfingter anus yang utuh
(Corman,1989;Dalton-loehner dan Connor,1989) tidak setiap klien yang menjalani
kolektomi merupakan kandidak yang dilakukan prosedur ini untuk menentukan
kriteria pilihan, dibutuhkan koordinasi yang baik antara klien dan ahli
bedah.
Ileostomi kontinen kock adalah tipe ostomi kontinen
lain yang baru (Rolstad dan Hoyman,1992). Pada prosedur ini reservoar atau
kantung internal dibentuk dari potongan usus halus klien. Bagian kantung
ditarik keluar andomen klien sebagai sebuah stoma internal. Tidak seperti stoma
ostomi lainnya, stoma eksternal dari ileostomi kontinenkock biasanya terletak
sangat rendah pada abdomen klien. Biasanya dibawah garis celana dalam klien.
Pada bagian ujung kantung internal terdapat tonjolan katup satu arah yang
memungkinkan pencapaian kontinensia. Katup ini hanya memungkinkan isi fases
keluar dari kantung jika kateter eksterna ditempatkan kedalam stoma secara
intermiten karena kantung fases yang dikeluarkan dari kantung kock jika
di intubasi dengan kateter, tidak seperti individu lain yang menggunakan ostomi.
Melakukan Perawatan Stoma Rutin (Colostomy)
Alat dan Bahan :
- Kantong Colostomy
- Bak instumen, terdiri atas :
-
pinset anatomi
-
pinset cirugis
-
kom kecil
-
gunting
- Kapas
- Kasa steril
- NaCl
- Zink salp bila diperlukan
- Sarung tangan
- Bengkok
- Perlak
- Kantong plastic dan tempat sampah
Prosedur Pelaksanaan :
- Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
- Dekatkan alat kedekat pasien.
- Pasang tirai atau sketsel untuk menjaga privasi pasien.
- Ganti selimut tempat tidur dengan selimut mandi.
- Mengatur posisi pasien ( supinasi ).
- Pasang perlak disisi kanan atau kiri sesuai letak stoma.
- Letakkan bengkok didekat klien.
- Cuci tangan dan gunakan sarung tangan.
- Mengobservasi produksi stoma ( warna dan konsistensinya ).
10. Membuka
kantong kolostomy perlahan dengan menggunakan pinset dan tangan kiri menekan
kulit pasien. Buang kantong kolostomi pada kantong plastik yang sudah tersedia.
11.
Membersihkan dengan perlahan daerah disekitar stoma dengan tisu toilet
menggunakan NaCl atau air hangat, hindari terjadinya pendarahan.
12.
Mengeringkan kulit sekitar stoma dengan kasa steril.
13.
observasi stoma dan kulit disekitar stoma.
14.
Memberikan salep jika terjadi iritasi pada kulit sekitar stoma.
15.
Mengukur kantong stoma dan membuat kantong kolostomy sesuai ukuran stoma.
16.
masukkan stoma melalui lobang kantong kolostomy.
17. Lepas
dan buang sarung tangan dengan tepat.
18. Ganti
selimut mandi dengan selimut tempat tidur buat pasien merasa nyaman
19.
Bereskan peralatan.
20. Cuci
tangan
21.
dokumentasikan.
Perawatan Pasien Ileostomi
Ileostomi adalah bukaan buatan
permanent pada ileum, seperti pada kolostomi, bukaan atau stoma berada
dipermukaan dinding abdomen. Drainese dari ileum berbentuk cair dan mengandung
enzim pencernaan.
Perawatan pasien ileostomi mempunyai beberapa
kesamaan dan beberapa dengan perawatan pasien kolostomi.
-
Perawatan pasien dengan ileostomi baru dilakukan oleh erawat yang
berpengalaman.
-
Perawatan rutin dapat dilakukan oelh osisten keperawatan.
-
Drainese / keluaran bersifat sangat iritatif pada kulit, sehingga perawatan
kulit disekitar stoma sangatlah diperlukan.
-
Kesesuaian ukuran cincin ileostomi merupakan hal yang penting agar tidak
terjadi kebocoran.
Adapun gambar seperti berikut :
Perawatan Rutin Ileostomi (Pasien berada ditempat tidur)
- Lakukan semua tindakan awal prosedur.
- Ingatlah untuk mencuci tangan anda, mengidentifikasi pasien dan memberi privasi.
- Siapkan peralatan yang diperlukan.
-
Baskom berisi air hangat
-
Perlak
-
Selimut mandi
-
Bedpan
-
Sarung tangan sekali pakai
-
Appliance (kantong) baru dan sabuk
-
Klem kantong
-
Peralut yang diserapkan & pipet
-
Bola kapas
-
Deodoran
-
Zat pembersih
-
Cincin karaya
-
Kasa segi empat 4×4
-
Tisu toilet
-
Handuk kertas
- Pasang penghalang tempat tidur untuk keselamatan. Tinggikan kepala tempat tidur danbantu pasien untuk miring kearah anda.
- Ganti selimut tempat tidur dengan selimut mandi.
- Letakkan perlak dibawah pasien.
- Pakai sarung tangan sekali pakai
- Letakkan bedpan diatas perlak dibelakang pasien.
- Letakkan ujung kantong ileostomi didalam bedpan. Buka klem dan biarkan keluar. Catat jumlah dan karakter drainase.
- Bersihkan ujung kantong drainase dengan tisu toilet dan keluarkan isinya. Letakkan tisu didalam bedpan, tutupi bedpan.
- Lepaskan sabuk dari kantongnya dan lepaskan dari tubuh pasien.taruh diatas handuk kertas
- Dengan pipet, teteskan sedikit pelarut disekitar cincin kantong. Pelarut ini akan melonggarkannya sehingga dapat dilepas. Tunggu beberapa detik jangan paksakan melepas kantong tsb.
- Tutup stoms dengan kasa.
-
Inspeksi kulit disekitar stoma dengan cermat
-
Jika daerah tersebut mengalami iritasi atau luka tutupi pasien dengan selimut
mandi, pasang penghalang tempat tidur dan turunkan tempat tidur
-
Lepas sarung tangan dan buang dengan tepat
-
Cuci tangan anda
-
Laporkan pada perawat untuk meminta instruksi.
- Dengan hati –hati bersihkan dearah sekitar stoma dengan bola kapas. Gunakan larutan pembersih yang direkomendasikan, keringkan dengan perlahan.
- Angkat kasa dari stoma dan letakkan diatas handuk kertas.
- jika kantong yang digunakan memakai cincin karaya, basahi cincin tersebut, biarkan menjadi lengket dan pasang pada stoma. Jika kantong tersebut mengunakan strip perekat berlapis kertas disekitar bukaan stoma, lepaskan bagian kertasnya dan pasang disekeliling stoma.
- Klem kantong tersebut, tambahkan deodoran dan pasang cincinnya
- Atur letak sabuk mengelilingi tubuh pasien dan sambungkan dengan kantongnya.
- Ambil bedpan yang tertutup dan letakkan diatas kursi diatas handuk kertas
- Angkat perlak dan letakkan diatas bedpan.
-
Periksa sprei bagian bawah untuk memastikan bahwa bagian tersebut dalam keadaan
kering
-
Ganti jika perlu.
- Ganti selimut mandi dengan selimut tempat tidur
- Kumpulkan peralatan yang kotor dan bedpan
-
Bawa keruang peralatan
-
Buang sesuai ketentuan yang berlaku
-
Jika sabuk dan kantongnya dapat digunakan kmbali, cuci dan biarkan mongering.
- Kosongkan, cuci dan keringkan bedpan, kembali kekamar pasien.
- Lepas dan buang sarung tangan dengan tepat.
- Lakukan semua tindakan penyelesaian prosedur. Ingatlah untuk mencuci tangan anda, melaporkan penyelesaian tugas, dan mendokumentasikan tanggal, waktu, perawatan ileostomi, karakter dan jumlah drainase yang keluar dan raeksi pasien.
PERAWATAN RUTIN ILEOSTOMI (di kamar mandi)
- Lakukan semua tindakan awal prosedur
- Ingatlah untuk mencuci tangan anda, mengidentifikasi pasien, dan memberi privasi.
- Siapkan peralatan yang diperlukan :
Ø
Sarung tangan sekali pakai
Ø
Kantong (appliance) baru dan sabuk pengikatnya.
Ø
Selimut mandi
Ø
Klem kantong
Ø
Bola kapas
Ø
Pelarut dan pipet
Ø
Deodoran
Ø
Zat pembersih
Ø
Cincin karaya
Ø
Kasa segi empat 4 x 4
Ø
Handuk kertas
- Bawa peralatan ke kamar mandi pasien
- Bantu pasien memakai sandal dan mantel mandinya
- Bantu pasien ke kamar mandi. Posisikan ke toilet
- Letakkan selimut mandi di atas kaki pasien. Naikkan baju dan gulung sampai ke pinggang, buka kantongnya. Beritahu pasien untuk membuka kakinya.
- Pakai sarung tangan. Buka kantong ileostomi, arahkan ke toilet
- Dengan pipet teteskan sedikit pelarut disekitar cincin karaya untuk melonggarkan dari kulit. Jangan menekan kulit untuk melepaskan cincin
- Tutupi stoma dengan spons kasa untuk mengumpulkan drainase.
- Bersihkan daerah sekitar stoma dengan bola kapas serta air hangat dan sabun atau zat pembersih (jika daerah kulit luka, tanyakan padad perawat tentang instrusinya). Tepuk-tepuk hinnga kering daerah tersebut
- Angkat kasa dari stoma dan letakkan pada handuk kertas
- Jika kantong yang digunakan memakai cincin karaya, biarkan cincin tersebut menjadi lengket dan tempelkan pada stoma. Jika kantong memakai strip adesif bertutup kertas, lepaskan kertas tersebut dan tempelkan disekeliling stoma.
- Klem kantong tersebut dan pasang pada cincinnya
- Lepas dan buang sarung tangan dengan benar
- Atur sabuk pengikat yang bersih disekeliling tubuh pasien dan sambungkan dengan kantongnya
- Angkat selimut mandi dan bantu pasien untuk mencuci tangan dan kembali ke tempat tidur.
- Bersihkan kamar mandi pasien. Cuci sabuk pengikat dan peralatan jika dapat digunakan kembali, dan biarkan sampai kering
- Lakukan semua tindakan penyelesaian prosedur. Ingatlah untuk mencuci tangan anda, melaporkan penyelesaian tugas, dan mendokumentasikan tanggal, waktu perawatan ileostomi, tipe dan jumlah drainase yang keluar, dan reaksi pasien.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Dalam menangani masalah
eliminasi alvi,perawat harus memahami eliminasi normal dan faktor faktor yang
meningkatkan atau menghambat eliminasi asuhan keperawatan yang mendukung akan
menghormati dan kebutuhan emosional klien. Tindakan yang dirancang untuk
meningkatkan eliminasi normal juga harus meminimalkan rasa ketidaknyamanan.
Dampak yang dapat terjadi akibat dari gangguan sistem gastrointestinal
sangatlah beragam mulai dari konstipasi,diare,inkontinensia usus, dan hemoroid
fecal infektion.
Enema atau huknah diberikan tujuannya adalah
untuk meningkatkan defekasi dengan menstimulasi peristaltik. Penyakit tertentu
menyebabkan kondisi – kondisi yang mencegah pengeluaran fases secara normal
dari rectum, sehingga menyebabkan membuat suatu lubang dibagian usus, tepatnya
didaerah kolon,seperti kolon asenden, traversum, desenden.
Dalam melakukan perawatan pada masalah diatas
diperlukan pemahaman dalam melakukan tindakan sesuai dengan prosedur yang telah
ada dan perawatan yang rutin.
DAFTAR PUSTAKA
Perry,potter.2005.Fundamental Keperawatan.Eds
4 jakarta : EGC
Perry,Peterson,Potter.2005. Keterampilan dan
Prosedur Dasar.Eds 5 jakarta : EGC
Kusyati,eni.2006,Keterampilan
dan Prosedur Laboratorium Keperawatan Dasar.jakarta
: EGC
Admin.(2008).k2_Nurse: http://blogs.unpad.ac.id/k2_nurse
Dedis.2008.Intervensi keperawatan://http://amazing-care.blogspot.com
Donie.2008.enema:http://id.wikipedia.org
www:http://images.google.co.id/imgres


Tidak ada komentar:
Posting Komentar